Aku merapikan simpul dasi di depan cermin toilet dosen, memastikan tidak ada satu pun helai benang yang keluar dari tempatnya. Wajah yang terpantul di sana terlihat kaku, seperti topeng porselen yang siap retak kapan saja. Aku menarik napas dalam-dalam, aroma maskulin yang dingin dari parfumku sendiri mendominasi indra penciuman, namun tidak c**up untuk menenangkan gemuruh di dadaku.
Pagi ini, aku mendengar bisik-bisik itu lagi di kantin fakultas. Nama Celine Maheswari bersanding dengan namaku dalam nada-nada sumbang yang penuh spekulasi. "Anak emas," "perlakuan khusus," hingga sindiran tentang bagaimana seorang mahasiswi biasa bisa mendapatkan perhatian ekstra dari dosen sedingin Aris Pratama.
Aku tidak peduli dengan reputasiku. Aku sudah melewati banyak badai untuk sampai di posisi ini. Namun Celine? Dia baru dua puluh tahun. Dia impulsif, ceroboh, dan masa depannya masih sepanjang jalan bebas hambatan jika dia tidak menab**kkan dirinya ke tembok skandal bersamaku. Aku harus membangun tembok itu lebih dulu sebelum dia sempat mendekat.
Aku melangkah ma**k ke ruang kelas 3-B. Suasana yang tadinya bising seketika senyap. Aku bisa merasakan puluhan pasang mata tertuju padaku, mencari pembenaran atas rumor yang beredar. Di barisan tengah, Celine duduk dengan mata berbinar, sebuah senyum tipis sempat tersungging di bibirnya sebelum aku menyapunya dengan tatapan sedingin es.
Aku meletakkan tas kerja dengan dentuman yang sedikit lebih keras dari biasanya. "Buka draf proposal penelitian kalian," suaraku bergema, datar dan tanpa kompromi. "Saya sudah meninjau beberapa, dan sejujurnya, saya kecewa dengan standar rendah yang kalian berikan."
Aku berjalan perlahan menyusuri celah antar meja. Aku bisa melihat Celine mengerutkan kening, bingung dengan perubahan atmosfer yang kubawa. Saat aku sampai di samping mejanya, aku berhenti. Aroma stroberi dari rambutnya sempat mengusik konsentrasiku, namun aku segera mengeraskan hati.
"Saudari Maheswari," panggilku tanpa menoleh padanya.
"I-iya, Pak?" jawabnya, suaranya sedikit bergetar.
Aku mengambil kertas tugasnya yang ada di atas meja, mengangkatnya tinggi-tinggi hingga beberapa mahasiswa di baris belakang bisa melihatnya. "Apakah menurut Anda, penelitian adalah sekadar menyalin teori dari buku teks tanpa analisis kritis? Saya melihat draf Anda dan saya bertanya-tanya, apakah Anda menghabiskan waktu di perpustakaan atau hanya melamun di kafe saat mengerjakannya?"
Warna merah menjalar di pipi Celine. Bukan merah karena malu yang manis, tapi merah karena penghinaan yang nyata. Matanya yang besar mulai berkaca-kaca, menatapku dengan tatapan tidak percaya.
"Tapi Pak, bagian analisis itu sudah sayaβ"
"Jangan memotong pembicaraan saya," potongku tajam, suaraku meninggi satu oktaf. "Logika Anda c****. Argumen Anda lemah. Jika ini adalah standar kerja Anda, saya sarankan Anda mempertimbangkan kembali apakah Anda layak berada di kelas saya. Saya tidak butuh mahasiswa yang hanya mengandalkan keberuntungan atau... hal-hal bersifat personal lainnya untuk lulus."
Kata-kata terakhirku seperti tamparan di wajahnya. Seluruh kelas menahan napas. Bisikan-bisikan yang tadinya penuh kecurigaan tentang 'hubungan istimewa' kini berubah menjadi tatapan ngeri. Mereka melihat seorang dosen yang sedang menghancurkan mahasiswinya tanpa ampun.
Celine menunduk dalam, tangannya terkepal di atas pangkuan hingga buku-buku jarinya memutih. Aku bisa melihat setetes air mata jatuh ke atas kertas yang baru saja kulempar kembali ke mejanya. Hatiku berdenyut sakit, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungku. Aku ingin menariknya keluar dari ruangan ini, memeluknya, dan membisikkan bahwa aku melakukan ini untuk melindunginya. Bahwa dengan membuatnya terlihat seperti orang yang paling aku benci di kelas ini, tidak akan ada yang berani menuduhnya macam-macam lagi.
Namun, aku tetap berdiri tegak. Aku adalah Aris Pratama, dosen yang tidak punya hati.
"Kumpulkan revisi dalam dua puluh empat jam. Jika terlambat satu menit saja, jangan harap nilai Anda keluar semester ini. Berlaku untuk semuanya, terutama bagi mereka yang merasa punya hak istimewa," ucapku sambil menatap lurus ke arah Celine yang masih menunduk.
Selama sisa dua jam perkuliahan, aku mengajar dengan intensitas yang mencekam. Aku tidak memberinya kesempatan untuk bernapas. Setiap kali dia mencoba mengangkat wajah, aku akan melemparkan pertanyaan sulit yang menyudutkannya. Aku melihatnya berjuang, suaranya parau menahan tangis namun tetap berusaha menjawab. Dia terluka, dan akulah pemegang pisaunya.
Saat bel berakhirnya kelas berbunyi, Celine adalah orang pertama yang membereskan tasnya. Dia bergerak cepat, seolah ruangan ini adalah kamar gas yang beracun. Dia tidak menatapku lagi saat melewati meja dosen.
"Maheswari," panggilku saat dia nyaris mencapai pintu.
Dia berhenti, bahunya menegang. Dia tidak berbalik.
"Pastikan revisi Anda ma**k akal. Saya tidak suka membuang waktu untuk sampah."
Celine tidak menjawab. Dia langsung berlari keluar, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di dalam kelas. Mahasiswa lain menatapku dengan pandangan takut, lalu bergegas pergi seolah-olah aku akan memangsa mereka juga.
Aku terduduk di kursi kebesaranku setelah ruangan itu kosong. Tanganku yang sejak tadi kusembunyikan di bawah meja mulai gemetar hebat. Aku meraup wajahku dengan kasar. Ini benar, bukan? Ini adalah cara terbaik agar mereka berhenti membicarakannya. Jika dia membenciku, itu jauh lebih baik daripada dia hancur karena aku.
Namun, saat aku melirik ke lant**, aku melihat sesuatu yang tertinggal di bawah meja Celine. Sebuah gantungan kunci kecil berbentuk kucing yang sering dia mainkan saat merasa gugup. Aku berjalan mendekat, memungut benda kecil itu, dan merasakannya dingin di telapak tanganku.
Ponselku bergetar di saku. Sebuah notifikasi pesan ma**k. Bukan dari nomor yang kukenal, tapi pesannya singkat dan mampu membuat seluruh pertahananku runtuh seketika.
*βKenapa Pak Aris jahat sekali? Apakah karena saya melihat apa yang seharusnya tidak saya lihat di kantor Bapak kemarin sore?β*
Darahku terasa membeku. Aku menoleh ke arah jendela, menyadari bahwa permainan kucing-kucingan ini baru saja mema**ki babak yang jauh lebih berbahaya dari yang kubayangkan. Seseorang sedang mengawasi kami, dan orang itu bukan Celine.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!