Suara detak jarum jam di dinding ruang kuliah terasa seperti hantaman palu yang memicu denyut nyeri di pelipis. Aku menatap punggung tegap itu—punggung Aris Pratama—yang terbungkus kemeja hitam slim-fit, kontras dengan papan tulis putih di depannya. Biasanya, ada semacam tegangan listrik yang mengalir di antara kami saat matanya tak sengaja bersinggungan dengan mataku. Biasanya, ada sindiran tajam atau kerutan di dahinya yang menandakan dia menyadari keberadaanku.
Namun hari ini, aku hanyalah debu di antara barisan kursi kayu.
"Analisis ka**s ini harus dikumpulkan paling lambat Jumat depan pukul lima sore. Tidak ada perpanjangan waktu, tidak ada alasan teknis," suara Aris mengalun datar, sedingin es yang baru keluar dari freezer. "Saya tidak mentoleransi kecerobohan sekecil apa pun."
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering. Saat dia mulai membereskan laptopnya, aku memberanikan diri mendekat ke mejanya setelah mahasiswa lain mulai berhamburan keluar. Jantungku berdegup kencang, sebuah kebiasaan buruk yang belum juga hilang meski aku sudah berjanji untuk tetap tenang.
"Pak Aris," panggilku pelan. Suaraku sedikit bergetar, dan aku membencinya untuk itu.
Dia tidak mendongak. Tangannya masih sibuk merapikan berkas-berkas di dalam tas kulitnya. "Ya, Mahasiswi Maheswari? Ada yang tidak jelas dengan instruksi saya?"
Penggunaan nama belakangku—Maheswari—terasa seperti tamparan. Kemarin dia memanggilku dengan nada yang lebih... pribadi. Atau mungkin itu hanya imajinasiku yang terlalu aktif?
"Soal referensi tambahan yang Bapak bicarakan kemarin di kafe... apakah saya bisa menggunakannya untuk tugas ini?" tanyaku, mencoba mencari celah untuk mengingatkannya pada momen 'manusiawi' yang sempat kami bagi.
Aris berhenti sejenak, lalu perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya kosong, seolah dia sedang melihat orang asing yang tidak sengaja menyapa di jalan. "Kafe? Saya rasa Anda salah ingat. Segala hal yang berkaitan dengan akademik harus merujuk pada silabus yang telah saya bagikan di awal semester. Jangan mencampuradukkan urusan pribadi dengan standar yang saya tetapkan di kelas ini."
Aku tertegun. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas dadaku. Dingin. Sangat dingin. Matanya yang biasanya menatapku dengan intensitas yang mengintimidasi namun penuh arti, kini benar-benar mati. Tidak ada obsesi, tidak ada amarah, hanya kekosongan profesional yang memuakkan.
"Tapi, Bapak bilang kemarin—"
"Kemarin adalah kemarin, Celine," potongnya tajam. Dia menutup ritsleting tasnya dengan sekali sentakan kuat. "Fokuslah pada nilaimu yang masih di ambang batas kelulusan. Jangan membuang waktu untuk membahas hal-hal yang tidak relevan. Permisi."
Dia melangkah melewatinu begitu saja. Aroma parfum *wood and musk* miliknya yang maskulin sempat tertinggal di indra penciumanku selama beberapa detik, sebelum akhirnya menghilang seiring dengan langkah kakinya yang menjauh di koridor. Aku berdiri mematung, menatap pintu kelas yang terbuka lebar.
Rasa sakit itu mulai merayap dari ulu hati. Bukan rasa sakit karena dimarahi, melainkan rasa sakit karena diabaikan. Aku merasa seperti orang bodoh. Benar-benar bodoh karena sempat berpikir bahwa pesan sumpah serapah yang salah kirim itu adalah awal dari sesuatu yang... nyata. Bahwa 'kejadian di kafe malam itu' yang dia ungkit-ungkit berarti sesuatu baginya.
Aku keluar dari kelas dengan langkah gont**. Di lobi kampus, cahaya matahari sore yang keemasan terasa mengejek suasana hatiku yang mendung. Aku merogoh tas, mengambil ponselku, dan menatap layar yang menunjukkan ruang obrolan dengannya. Pesan terakhirku hanya dibaca tanpa dibalas.
*C**up,* bisik batinku.
Aku menekan tombol *power* lama-lama dan mematikan ponsel itu. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak akan lagi menjadi Celine yang impulsif, yang mengejar-ngejar jawaban dari pria yang menganggapku tidak lebih dari sekadar eksperimen kedisiplinan. Jika dia ingin aku menjadi mahasiswi yang tenang dan rajin, maka itu yang akan dia dapatkan. Tapi dia tidak akan lagi mendapatkan perhatianku.
Aku membelokkan langkah menuju perpustakaan pusat, tempat yang biasanya paling kuhindari. Aku butuh tumpukan buku, aroma kertas tua, dan sunyi yang tidak menghakimi. Aku harus membuktikan bahwa aku tidak butuh 'bimbingan' khususnya untuk bertahan hidup di fakultas ini.
Di salah satu sudut perpustakaan yang terpencil, aku membentangkan buku teks Hukum Perdata yang tebalnya seperti bantal. Aku mulai membaca, mencatat, dan memaksa otakku untuk mencerna setiap kata hukum yang rumit. Setiap kali bayangan wajah Aris atau suaranya yang berat muncul di benakku, aku menekannya dalam-dalam, menggantinya dengan teori-teori pasal yang kaku.
Jam demi jam berlalu. Lampu perpustakaan mulai berpijar lebih terang saat kegelapan turun di luar sana. Mataku mulai pedih, tapi aku menolak untuk berhenti. Aku ingin menghapus jejak Celine yang lemah dan tidak kompeten. Aku ingin menjadi seseorang yang tidak bisa dia remehkan lagi.
Tiba-tiba, sebuah bayangan jatuh di atas meja belajarku. Aku tidak mendongak, mengira itu hanya petugas perpustakaan yang sedang berkeliling. Namun, aroma itu—campuran kayu dan mask yang familiar—menyerbu indra penciumanku lagi. Jantungku berkhianat, ia berdetak kencang di balik rusukku.
Aku tetap menunduk, memaksakan mataku tertuju pada paragraf tentang 'perbuatan melawan hukum'. Aku merasakan kehadiran seseorang berdiri tepat di depanku, hanya terhalang oleh meja kayu tua yang retak di beberapa bagian.
"Perpustakaan akan tutup dalam sepuluh menit," sebuah suara rendah yang sangat kukenal memecah kesunyian.
Aku menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh sisa harga diriku sebelum mendongak. Aris berdiri di sana, masih dengan kemeja hitam yang sama, namun lengan bajunya kini digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan peraknya yang berkilau di bawah lampu neon. Ekspresinya masih datar, namun ada sesuatu yang berbeda di matanya saat melihat tumpukan catatanku yang berantakan.
"Terima kasih informasinya, Pak. Saya akan segera berkemas," jawabku dengan nada paling formal yang pernah kugunakan dalam hidupku. Tanpa menunggu reaksinya, aku mulai mema**kkan buku-buku ke dalam tas dengan gerakan efisien.
Aku tidak menatapnya lagi. Aku tidak bertanya mengapa dia ada di sini. Aku tidak peduli apakah dia sengaja mencariku atau hanya kebetulan lewat. Saat aku berdiri dan menyampirkan tas di bahu, Aris tidak bergerak sedikit pun. Dia tetap menghalangi jalan keluarku.
"Kau serius dengan sikap ini, Celine?" tanyanya pelan, hampir berupa bisikan. Ada nada aneh dalam suaranya—antara tantangan dan sesuatu yang menyerupai kekhawatiran yang ditekan.
Aku menatap matanya lurus-lurus, mencoba menyembunyikan luka yang masih berdenyut di sana. "Saya hanya mengikuti saran Bapak. Fokus pada akademik, menjaga jarak profesional, dan berhenti bersikap impulsif. Bukankah itu yang Bapak inginkan?"
Aris terdiam. Rahangnya mengeras. Dia seolah ingin mengatakan sesuatu, namun bibirnya tetap terkatup rapat. Di tengah keheningan yang mencekam itu, ponselku yang berada di dalam tas tiba-tiba bergetar hebat. Aku lupa bahwa ponsel itu tadinya kumatikan, namun sepertinya aku secara tidak sengaja menekannya saat mema**kkan buku tadi hingga menyala kembali.
Sebuah notifikasi muncul di layar kunci yang menyala terang di atas meja, c**up jelas untuk dibaca oleh kami berdua. Sebuah pesan dari nomor yang tidak kukenal, namun isinya membuat darahku berdesir hebat: *'Jangan percaya pada pria itu, Celine. Dia tidak mendisiplinkanmu, dia sedang menghapus jejak apa yang dia lakukan padamu malam itu.'*
Mataku beralih dari layar ponsel ke wajah Aris yang mendadak berubah pias. Tangannya yang berada di atas meja mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih. Kebekuan yang tadi dia bangun seolah retak dalam sekejap, digantikan oleh kilatan emosi yang jauh lebih gelap dan berbahaya.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!