Detak jarum jam di dinding ruang 402 terdengar seperti dentuman palu yang menghantam ulu hati. Setiap detiknya membawa tekanan yang semakin menyesakkan dada. Di depanku, selembar kertas ujian tengah semester mata kuliah Teori Komunikasi Lanjutan tergeletak dengan angkuh. Sepuluh soal esai di sana tidak hanya menuntut jawaban cerdas, tetapi seolah sedang menertawakan ketidaksiapanku.
Aku meremas pulpen hingga buku-buku jariku memutih. Keringat dingin mulai merembes di pelipis, meski pendingin ruangan di setel pada suhu paling rendah. Pandanganku mulai mengabur, huruf-huruf di kertas itu tampak berdansa, saling tumpang tindih hingga sulit dibaca.
"Sisa waktu tiga puluh menit. Pastikan identitas terisi dengan benar."
Suara berat dan bariton itu membelah kesunyian kelas. Aku tidak perlu mendongak untuk tahu siapa pemilik suara itu. Aris Pratama berdiri di depan kelas, posturnya tegak dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Tatapannya sedingin es, menyapu seluruh ruangan seolah dia sedang memburu kesalahan sekecil apa pun.
Aku memaksakan diri untuk fokus pada soal nomor tujuh. *Jelaskan keterkaitan antara kegagalan komunikasi dan ekspektasi interpersonal dalam konteks relasi kuasa.*
Jariku gemetar saat mulai menggoreskan tinta. Ini bukan sekadar ujian bagiku. Ini adalah pembuktian. Sejak insiden pesan salah kirim itu, Aris tidak pernah berhenti menekanku. Dia memberiku tumpukan referensi tambahan, menunjukku setiap kali ada pertanyaan sulit di kelas, dan menatapku dengan tatapan yang seolah berkata: *Kau hanya gadis impulsif yang tidak punya masa depan.*
Aku tidak boleh gagal. Aku tidak ingin dia menang.
Namun, tubuhku punya rencana lain. Perutku melilit, rasa mual mendesak ke kerongkongan karena sejak kemarin aku hanya mengandalkan tiga cangkir kopi hitam dan setengah potong roti lapis. Kepalaku terasa seringan kapas, namun sekaligus seberat timah. Denyut di pelipisku semakin kencang, berdentum-dentum menyakitkan.
"Fokus, Celine. Fokus," bisikku pada diri sendiri, hampir tidak terdengar.
Aku melirik ke arah Aris. Ternyata, dia sedang memperhatikanku. Mata tajamnya menyipit, memperhatikan tanganku yang gemetar atau mungkin wajahku yang sudah sepucat kertas di hadapanku. Aku segera menunduk, mengabaikan debaran aneh di dadaku yang entah karena takut atau karena hal lain yang tidak berani kuakui.
Satu per satu mahasiswa mulai mengumpulkan lembar jawaban. Ruangan yang tadinya penuh sesak perlahan mulai kosong. Setiap bunyi langkah kaki yang menjauh terasa seperti ejekan. Aku masih berkutat dengan dua nomor terakhir, memaksa otakku yang sudah korslet untuk bekerja ekstra keras.
"Lima menit lagi, Maheswari."
Aris kini berdiri tepat di samping mejaku. Bau parfum maskulinnya yang samarβcampuran kayu cendana dan aroma hujanβmenyerbu indra penciumanku, membuatku semakin pening. Aku bisa merasakan kehadirannya yang dominan, membayangi mejaku yang kecil.
"Saya... hampir selesai, Pak," jawabku serak. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.
Aku memaksakan jari-jariku menulis kalimat terakhir. Huruf-hurufnya tidak lagi rapi, lebih mirip ceker ayam yang berantakan. Saat titik terakhir kutorehkan, aku merasa seolah seluruh energiku tersedot habis.
Dengan sisa kekuatan yang ada, aku berdiri. Dunia tiba-tiba berputar. Aku harus berpegangan pada pinggiran meja agar tidak terjungkal. Aku berjalan menuju meja dosen di depan, setiap langkah terasa seperti berjalan di atas awan yang tidak stabil.
Aku meletakkan kertas ujianku di atas tumpukan yang lain. "Ini, Pak."
Aris tidak segera mengambil kertas itu. Dia justru menatapku lurus-lurus. Tangannya terulur, seolah hendak menyentuh dahiku, namun dia menariknya kembali dengan cepat. "Wajahmu pucat. Kau sakit?"
Aku menggeleng pelan, memaksakan senyum tipis yang terasa sangat kaku. "Hanya lelah belajar, Pak. Saya permisi."
Aku berbalik dan berjalan menuju pintu. Udara di luar ruangan seharusnya terasa lebih segar, namun bagiku, oksigen seolah menghilang dari muka bumi. Koridor kampus yang panjang itu tampak memanjang hingga tak berujung. Suara riuh mahasiswa lain yang merayakan selesainya ujian terdengar seperti dengungan lebah yang mengganggu.
Langkahku goyah. Gelap mulai merayap dari sudut mataku, perlahan-lahan menutup pandanganku. Tanganku meraba dinding, mencari tumpuan, namun jariku hanya menyentuh udara kosong.
"Celine!"
Aku mendengar suara itu. Suara yang biasanya terdengar dingin dan otoriter, kini terdengar panik dan... rapuh?
Lant** marmer yang dingin seolah melesat ke arah wajahku. Namun, sebelum tubuhku benar-benar menghantam lant**, sepasang lengan yang kuat menangkapku. Aku merasakan kehangatan yang kontras dengan dinginnya keringat di kulitku. Aroma kayu cendana itu kembali hadir, kali ini begitu dekat, membungkusku dalam rasa aman yang semu.
"Celine, buka matamu!"
Aku ingin menjawab. Aku ingin mengatakan bahwa aku baik-baik saja, bahwa dia tidak perlu repot-repot menolong mahasiswi bodoh yang pernah memakinya lewat pesan singkat. Namun, kelopak mataku terlalu berat. Kegelapan itu akhirnya menang, menyeretku jatuh ke dalam keheningan yang dalam.
Hal terakhir yang kurasakan adalah usapan ibu jari yang kasar namun lembut di pipiku, dan sebuah bisikan tertahan yang membuat jantungku berdenyut sekali lagi sebelum semuanya benar-benar padam.
"Sudah kubilang jangan memaksakan diri, Gadis Keras Kepala..."
***
Saat kesadaranku mulai kembali, hal pertama yang kurasakan adalah bau alkohol dan antiseptik yang menyengat. Aku mencoba menggerakkan tanganku, namun terasa ada sesuatu yang menahan pergelangan tanganku.
Aku membuka mata perlahan, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya lampu neon yang menyilaukan. Ini bukan koridor kampus. Ini ruang UKS.
Aku menoleh ke samping, dan jantungku hampir melompat keluar dari dadanya. Di sana, duduk di kursi plastik sempit di samping tempat tidurku, adalah Aris. Dia tidak lagi mengenakan kemeja rapinya; dasinya sudah dilonggarkan, dan kancing teratas kemejanya terbuka. Dia sedang menatap lurus ke arahku dengan ekspresi yang sulit dibacaβantara marah, khawatir, dan sesuatu yang jauh lebih gelap.
Di tangannya, dia memegang ponselku. Ponsel yang layarnya menyala, menampilkan sebuah draf pesan yang belum sempat kukirim tadi malam.
Pesan yang seharusnya tetap tersembunyi.
"Sudah bangun?" suaranya rendah, hampir seperti geraman. Dia mengangkat ponselku, memperlihatkan layar itu tepat di depan mataku. "Mungkin kau ingin menjelaskan apa maksudnya pesan ini, Celine? Sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran."
Aku menelan ludah dengan susah payah. Di layar itu, tertulis: *Aku benci caramu menatapku, tapi aku lebih benci fakta bahwa aku merindukan pertemuan kita di kafe malam itu.*
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!