Lengan Celine terasa begitu ringan, jauh lebih ringan dari yang seharusnya untuk seseorang dengan kepribadian sekeras kepala dia. Saat gadis itu limbung di koridor lant** tiga tadi, duniaku seolah berhenti berputar selama satu detik yang menyiksa. Refleksku bertindak lebih cepat daripada logika. Sebelum lututnya menyentuh lant** marmer yang dingin, aku sudah merengkuh pinggangnya, menarik tubuhnya yang lunglai ke dalam dekapanku.
Sekarang, di dalam ruang kesehatan yang sepi dan beraroma karbol tajam, aku membaringkannya di atas ranjang sempit berlapis sprei putih. Napasnya pendek-pendek, wajahnya yang biasanya dipenuhi ekspresi pembangkangan kini pucat pasi, nyaris transparan di bawah pendar lampu neon.
"Bodoh," desisku pelan, meski aku tahu dia tidak bisa mendengarnya.
Tanganku bergerak ragu, lalu akhirnya mendarat di keningnya. Panas. Kulitnya terasa seperti membakar telapak tanganku. Bagaimana bisa dia memaksakan diri datang ke kampus dengan demam setinggi ini? Apakah tekanan yang kuberikan padanya sudah melampaui batas? Ataukah ini cara tubuhnya memprotes semua kekacauan yang dia buat sendiri?
Aku mengambil baskom kecil berisi air hangat dan selembar handuk kecil dari lemari persediaan. Aku duduk di kursi plastik di samping ranjang, memeras handuk itu hingga lembap, lalu perlahan menyekanya ke dahi dan pelipisnya. Rambutnya yang berantakan menghalangi jalan, jadi aku menyelipkannya ke belakang telinga dengan gerakan yang jauh lebih lembut daripada yang pernah kutunjukkan di depan kelas.
Melihatnya seperti ini, tanpa tameng kata-kata kasar atau tatapan tajam, membawaku kembali ke malam di kafe itu. Malam yang tampaknya sudah dia hapus sepenuhnya dari ingatannya, namun terus menghantuiku setiap kali aku menutup mata. Dia masih sama—antitesis dari segala keteraturan yang kubangun dalam hidupku. Berantakan, impulsif, dan berbahaya bagi ketenanganku.
"Aris..."
Suara gumaman itu nyaris tak terdengar, namun c**up untuk membuat jantungku berdegup kencang. Apakah dia sadar? Aku membeku, tanganku masih memegang handuk di pipinya. Namun, matanya tetap terpejam rapat. Dia hanya mengigau.
"Maaf..." rintihnya lagi. Bulu matanya yang panjang bergetar, dan setetes keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Rasa bersalah yang asing menusuk dadaku. Aku seharusnya mendisiplinkannya, bukan menghancurkannya. Namun, melihatnya serapuh ini membuat obsesiku untuk 'memperbaikinya' terasa seperti kekejaman. Aku ingin dia belajar, aku ingin dia menyadari bahwa dunia tidak berputar hanya mengikuti impulsivitasnya, tapi aku tidak ingin melihatnya hancur.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat dan ketukan sepatu hak tinggi terdengar dari arah koridor, mendekat ke pintu ruang kesehatan yang sedikit terbuka.
"Pak Aris? Anda di dalam?"
Suara itu milik Bu Linda, dosen senior dari departemen sebelah yang terkenal sangat teliti dan—lebih buruk lagi—suka bergosip.
Pikiranku berpacu. Jika dia ma**k dan melihatku, seorang dosen muda yang dikenal dingin dan profesional, sedang mengompres wajah seorang mahasiswi tingkat dua dengan tatapan yang jauh dari kata 'akademis', reputasi yang kubangun bertahun-tahun akan runtuh dalam sekejap. Dan yang lebih penting, Celine akan menjadi sasaran empuk fitnah di kampus ini.
Aku segera menjauhkan tanganku dari wajah Celine, meletakkan handuk ke dalam baskom dengan gerakan cepat yang menimbulkan bunyi kecipak air. Aku berdiri tegak, merapikan kemejaku, dan memasang kembali topeng datarku.
Pintu terbuka lebar tepat saat aku membelakangi ranjang, berpura-pura memeriksa kotak obat di rak dinding.
"Oh, Pak Aris. Benar ternyata," ucap Bu Linda, kepalanya melongok ma**k dengan rasa ingin tahu yang kental. "Tadi saya dengar dari mahasiswa ada yang pingsan dan Pak Aris membawanya ke sini. Saya pikir siapa."
Aku berbalik dengan tenang, meskipun jemariku masih terasa panas bekas bersentuhan dengan kulit Celine. Aku menyesuaikan letak kacamataku, menatap Bu Linda dengan tatapan yang biasa kugunakan untuk mengintimidasi mahasiswa yang terlambat.
"Mahasiswi saya, Bu Linda. Dia pingsan saat asistensi tadi. Gejala kelelahan yang akut, sepertinya," jawabku dengan nada suara yang terkontrol, sedingin es.
Bu Linda berjalan mendekat, matanya menyipit menatap Celine yang masih tak sadarkan diri. "Ah, si Maheswari ini ya? Anak yang sering buat masalah itu? Sayang sekali, ya. Padahal dia punya potensi kalau saja lebih... teratur."
"Dia hanya kurang disiplin," sahutku pendek, berusaha memotong pembicaraan sebelum Bu Linda menyadari betapa intensnya aku menjaga ruangan ini. "Saya sudah menghubungi petugas medis kampus, tapi sepertinya mereka sedang ada keperluan di gedung rektorat. Jadi, saya memastikan dia tidak tersedak atau mengalami kondisi darurat lainnya sebelum saya kembali ke ruangan saya."
Bu Linda mengangguk-angguk, namun matanya tetap menyelidik. Dia melihat baskom air di samping tempat tidur. "Pak Aris sampai menyempatkan diri mengompresnya? Sungguh dedikasi yang luar biasa untuk seorang dosen terhadap mahasiswanya yang paling bermasalah."
Ada nada curiga dalam suaranya. Aku bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi punggungku. Aku tidak boleh terlihat terlalu peduli.
"Ini murni prosedur darurat, Bu Linda. Saya tidak ingin ada tuntutan malpraktik atau kelalaian dari pihak keluarga jika kondisinya memburuk di bawah pengawasan saya," jawabku sinis, memberikan senyum tipis yang dipaksakan. "Lagi pula, saya butuh dia segera sadar agar dia bisa menyelesaikan revisi tugasnya yang berantakan itu. Saya tidak punya waktu untuk menunda nilai karena alasan kesehatan yang sepele."
Bu Linda tampak sedikit puas dengan jawaban dingin itu. "Memang, Pak Aris tetaplah Pak Aris yang disiplin. Baiklah, saya hanya ingin memastikan tidak ada hal serius. Saya harus kembali ke ruang rapat."
Begitu pintu tertutup dan suara langkah kaki Bu Linda menjauh, aku mengembuskan napas panjang yang sedari tadi kutahan. Bahuku merosot. Aku kembali menoleh ke arah Celine.
Wajahnya mulai sedikit lebih berwarna, namun napasnya masih terasa berat. Aku kembali duduk di sampingnya, tapi kali ini aku tidak berani menyentuhnya lagi. Ketakutan akan hampir ketahuan tadi menyadarkanku pada satu kenyataan pahit: perhatianku padanya adalah racun. Semakin aku melindunginya dengan caraku yang bengkok ini, semakin besar risiko yang harus dia tanggung.
Aku merogoh saku celanaku, mengeluarkan ponsel. Sebuah pesan ma**k dari nomor yang tidak kukenal—namun aku tahu persis siapa pemiliknya—berkedip di layar. Pesan yang dikirimnya beberapa jam lalu sebelum dia pingsan.
*“Kenapa Anda begitu membenci saya, Pak? Apa karena malam itu saya melihat sisi lain dari diri Anda yang ingin Anda sembunyikan dari seluruh dunia?”*
Aku menatap layar ponsel, lalu beralih menatap wajah tidur Celine yang polos.
"Kau tidak tahu apa-apa, Celine," bisikku pada kesunyian ruangan. "Kau tidak tahu bahwa 'kebencian' ini adalah satu-satunya hal yang menjagamu tetap aman dariku."
Tepat saat itu, jemari Celine bergerak. Kelopak matanya bergetar, perlahan terbuka, menyingkap iris cokelatnya yang masih tampak linglung dan berkabut karena demam. Fokusnya perlahan terkunci padaku yang sedang duduk membeku di sampingnya.
"Pak... Aris?" suaranya serak, nyaris hilang.
Aku segera berdiri, mengembalikan jarak di antara kami. Wajahku kembali mengeras, menanggalkan semua kelembutan yang sempat singgah di sana.
"Sudah bangun? Bagus," ucapku tajam, mengabaikan denyut nyeri di dadaku saat melihat kebingungan di matanya. "Jangan berpikir pingsan akan membuatmu bebas dari tugas. Kau punya waktu dua jam untuk pulih sebelum kau menjelaskan padaku apa maksud dari pesan yang kau kirim tadi pagi."
Celine mencoba duduk, namun ia mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya. Aku ingin sekali mengulurkan tangan untuk membantunya, namun aku tetap diam, berdiri mematung seperti patung es sementara badai di dalam diriku mulai berkecamuk kembali. Dia harus tetap takut padaku. Itu adalah satu-satunya cara agar rahasia yang terkubur di kafe malam itu tetap terkubur selamanya.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!