Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciumanku sebelum mataku benar-benar terbuka. Kelopak mataku terasa seberat timah, dan setiap kali aku mencoba mengangkatnya, cahaya lampu neon di langit-langit seolah menusuk pupilku dengan kejam. Kepalaku berdenyut, sebuah irama menyakitkan yang berpacu dengan detak jantungku sendiri.
Aku mengerang pelan, mencoba menggerakkan tangan kananku, namun terasa ada beban hangat yang menahannya. Saat penglihatanku mulai fokus, jantungku seolah berhenti berdetak sedetik.
Di sana, duduk di kursi besi yang tampak sangat tidak nyaman di samping ranjang rumah sakit, adalah Aris Pratama.
Dosen yang biasanya tampil sempurna dengan kemeja kaku yang disetrika tanpa cela itu kini terlihat... berantakan. Jasnya tersampir di sandaran kursi, lengan kemeja putihnya digulung hingga siku, dan dua kancing teratasnya terbuka, memperlihatkan gurat kelelahan di lehernya. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini jatuh menutupi sebagian keningnya. Dia sedang memejamkan mata, kepalanya bersandar pada tangan kiri, sementara tangan kanannya menggenggam jemariku dengan eratβseolah takut jika dia melepaskannya, aku akan menguap seperti asap.
"Pak Aris?" suaraku keluar dalam bisikan serak, nyaris tak terdengar.
Pria itu tersentak. Matanya terbuka seketika, menatapku dengan sorot yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bukan sorot dingin saat dia mengoreksi makalahku yang berantakan, bukan pula tatapan tajam saat dia memergoki pesan kurang ajarku tempo hari. Itu adalah tatapan... kecemasan yang te*******.
"Celine," suaranya berat dan rendah. Dia tidak melepaskan tanganku. "Jangan banyak bergerak dulu. Kamu pingsan karena dehidrasi parah dan kelelahan. Dokter bilang tekanan darahmu turun drastis."
Aku mencoba duduk, tapi rasa pening memaksa punggungku kembali ke bantal. "Jam berapa sekarang?"
"Tiga pagi," jawabnya singkat. Dia mengambil gelas air mineral di meja samping tempat tidur, membantuku meminumnya dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah aku adalah porselen retak yang hampir hancur.
Keheningan merayap di antara kami, hanya diisi oleh suara detak jam dinding dan dengung AC yang monoton. Aku menatap tangannya yang masih belum melepas jemariku. Ibu jarinya mengusap punggung tanganku secara ritmis, sebuah gerakan bawah sadar yang terasa sangat intim hingga membuat dadaku sesak.
"Kenapa Bapak masih di sini?" tanyaku pelan, memecah keheningan yang mulai terasa menyesakkan. "Bapak bisa saja menelepon teman-teman saya. Atau membiarkan perawat yang menjaga."
Aris menarik napas panjang, bahunya yang tegap tampak merosot sedikit. Dia menunduk, menatap tautan tangan kami sebelum akhirnya menatap mataku dalam-dalam. "Menurutmu, setelah semua yang terjadi, aku bisa meninggalkanmu sendirian di tempat seperti ini?"
"Saya hanya mahasiswa Bapak," aku berbisik, mencoba menegakkan kembali benteng pertahanan yang sudah runtuh. "Bapak tidak punya kewajiban untuk menjaga saya sampai jam tiga pagi."
Aris terkekeh sinis, namun tidak ada nada ejekan di sana. Hanya ada kepahitan. "Mahasiswa? Kau pikir hukuman-hukuman yang kuberikan selama ini, tekanan-tekanan itu... kau pikir itu hanya karena kau adalah 'mahasiswaku'?"
Aku terdiam, lidahku mendadak kelu. Intelegensi intuitifku yang biasanya membantuku memahami situasi kini justru membuatku ketakutan. Aku bisa merasakan emosi yang meluap-luap dari genggaman tangannya.
"Kau berantakan, Celine," lanjutnya, suaranya kini naik satu oktaf, lebih tajam namun bergetar. "Kau impulsif, kau tidak menjaga dirimu sendiri, kau bertindak seolah dunia ini adalah tempat bermain tanpa konsekuensi. Aku berusaha 'mendisiplinkan' hidupmu bukan karena aku benci padamu. Justru karena aku tidak sanggup melihatmu menghancurkan dirimu sendiri seperti malam itu di kafe."
Dia menjeda, matanya berkilat emosional. "Melihatmu jatuh pingsan di hadapanku tadi sore... itu adalah hal terakhir yang ingin kulihat terjadi padamu lagi."
Aku menelan ludah, tenggorokanku mendadak kering kembali. "Kenapa Bapak begitu peduli? Kita bahkan baru saling mengenal secara resmi di kelas semester ini."
Aris memajukan duduknya, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Aku bisa mencium aroma parfumnya yang maskulin bercampur dengan aroma kopi dingin yang samar. "Kau mungkin lupa, tapi aku tidak. Aku ingat setiap detik saat kau menangis di pojok kafe itu, saat kau menumpahkan kopimu ke sepatuku dan meminta maaf seolah dunia akan berakhir. Dan aku ingat bagaimana rasanya saat aku menyadari bahwa aku tidak bisa membiarkanmu sendirian sejak saat itu."
Tangan Aris beralih ke pipiku, menyentuhnya dengan ujung jari yang dingin namun memberikan efek terbakar di kulitku. "Kau adalah kekacauan paling indah yang pernah ma**k ke dalam hidupku yang teratur, Celine. Dan aku benci kenyataan bahwa aku tidak bisa berhenti memperhatikanmu."
Aku merasa dunia di sekelilingku melambat. Pengakuan tersirat itu menggantung di udara, berat dan nyata. Aku seharusnya takut. Ini salah. Dia dosenku. Dia pria yang seharusnya kuhindari setelah pesan bodoh yang kukirimkan itu. Tapi, melihat kerapuhan di balik topeng dosen tangguh yang ia kenakan, aku justru merasa tertarik lebih dalam ke pusaran yang ia ciptakan.
Aku memberanikan diri, menyentuh pergelangan tangannya yang masih berada di pipiku. "Pak Aris... ini akan jadi masalah besar."
"Aku tahu," bisiknya, wajahnya semakin mendekat hingga napasnya menerpa bibirku. "Tapi kurasa aku sudah melewati batas itu saat aku memutuskan untuk menyimpan nomormu daripada memblokirnya."
Tepat saat jarak di antara kami nyaris sirna, pintu kamar rawat tiba-tiba terbuka dengan suara berderit yang keras. Seorang perawat ma**k membawa nampan berisi obat-obatan, membuat kami berdua tersentak menjauh dengan gerakan canggung yang kentara.
Aris segera berdiri, merapikan kemejanya dan kembali mengenakan topeng kaku yang selama ini kukenal. Namun, sebelum dia berbalik untuk membiarkan perawat memeriksa kondisiku, dia sempat membungkuk dan membisikkan sesuatu di telingaku yang membuat darahku berdesir hebat.
"Istirahatlah. Besok kita akan bicara tentang bagaimana kau akan menebus 'kekacauan' ini, Celine. Dan kali ini, ini bukan tentang nilai akademikmu."
Aku memperhatikan punggungnya yang menjauh, meninggalkan ruangan dengan langkah tegap, namun aku tahu satu hal pasti: hubungan kami tidak akan pernah kembali ke ruang kelas yang normal lagi. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar nilai atau pesan singkat yang kini mengikat kami, dan aku tidak yakin apakah aku siap menghadapi konsekuensinya.
Terlebih lagi, saat aku melirik ke meja nakas, aku melihat ponselku menyala. Sebuah notifikasi pesan ma**k dari nomor yang tidak kukenal, namun pesannya c**up untuk membuat jantungku mencelos: *'Aku tahu kau bersamanya malam ini. Nikmati waktumu sebelum semuanya terbongkar, Celine.'*
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!