Ponsel di saku celanaku bergetar tanpa henti, sebuah simfoni getaran yang biasanya menandakan gosip terbaru di grup angkatan atau sekadar rentetan tugas yang menumpuk. Namun, getaran kali ini terasa berbeda—lebih mendesak, lebih mengancam. Saat aku merogohnya di tengah lorong menuju gedung fakultas, jantungku seolah merosot ke perut.
Layar ponselku menyala, menampilkan notifikasi aplikasi pesan yang membeludak. Aku membuka salah satu grup besar mahasiswa ekonomi, dan di sana, sebuah foto terpampang nyata. Resolusinya tidak terlalu tajam, diambil secara sembunyi-sembunyi dari balik celah pintu yang sedikit terbuka, tetapi subjeknya tidak mungkin salah dikenali.
Itu aku. Dan Pak Aris.
Kejadian di ruang kesehatan dua hari lalu—saat kepalaku berdenyut hebat karena migrain dan Pak Aris, dengan wajah datarnya yang kaku, membantuku meminum obat sembari menahan dahiku agar tidak jatuh dari bantal—telah dibingkai menjadi sesuatu yang kotor. Dalam foto itu, posisi Aris yang condong ke arahku membuatnya tampak seolah dia sedang menciumku, atau setidaknya, berada dalam jarak yang sangat intim.
*“Pantesan nilainya aman terus, ternyata ada servis khusus di UKS,”* tulis sebuah akun anonim tepat di bawah foto tersebut.
*“Mahasiswi teladan atau simpanan dosen?”* sahut yang lain.
Tanganku mulai gemetar. Dingin menjalar dari ujung jari hingga ke bahu. Aku bisa merasakan tatapan-tatapan tajam dari mahasiswa yang berlalu-lalang di lorong. Beberapa dari mereka berbisik sambil melirikku, lalu kembali menatap layar ponsel mereka. Dunia yang biasanya bising dengan tawa mendadak terasa sunyi, digantikan oleh denging di telingaku yang menyakitkan.
"Celine! Jadi ini alasan kamu selalu telat kumpulin tugas tapi tetap dapat nilai A?"
Suara melengking itu memecah keheningan yang menyesakkan. Aku menoleh dan menemukan Nadia berdiri beberapa meter dariku. Dia adalah mahasiswi berprestasi, asisten laboratorium yang kabarnya sudah lama mengincar posisi di hati Pak Aris. Wajahnya yang biasanya dipulas kosmetik mahal kini tampak distorsi oleh kemarahan dan kepuasan yang aneh.
"Nadia, itu tidak seperti yang kamu lihat," kataku, mencoba mengatur napas agar suaranya tidak pecah. Aku harus tetap tenang. "Aku sedang sakit, dan Pak Aris hanya membantu—"
"Membantu?" Nadia tertawa hambar, melangkah mendekat hingga aroma parfumnya yang menyengat menusuk hidungku. Dia mengangkat ponselnya tinggi-tinggi, seolah memamerkan bukti kejahatanku pada kerumunan yang mulai berkumpul. "Membantu sampai sedekat itu? Jangan naif, Celine. Kita semua tahu kamu itu mahasiswi bermasalah. Pesan nyasar yang kamu kirim ke dia di awal semester saja sudah membuktikan betapa 'beraninya' kamu menggoda dosen sendiri."
Darahku mendidih. Rasa takutku perlahan digantikan oleh amarah yang membara. "Jaga bicaramu. Foto itu diambil di luar konteks. Siapa pun yang mengambilnya sengaja ingin menjatuhkanku, atau mungkin menjatuhkan Pak Aris."
Nadia menyipitkan mata, bibirnya melengkung sinis. "Oh, jadi sekarang kamu pahlawannya? Kamu tahu tidak, tindakanmu ini mencoreng nama baik fakultas. Pak Aris adalah dosen terhormat, dan kamu menghancurkan reputasinya hanya karena kamu tidak becus mengurus nilai-nilaimu sendiri!"
"Aku tidak pernah meminta bantuan nilai darinya!" teriakku, suaraku bergema di sepanjang lorong. "Periksa semua tugasku, periksa ujianku! Kalau kamu pikir aku menggunakan tubuhku untuk nilai, kamu bukan hanya menghinaku, tapi kamu juga menghina integritas Pak Aris!"
Kerumunan di sekitar kami mulai berbisik-bisik lebih keras. Aku melihat beberapa orang mengeluarkan ponsel, merekam konfrontasi ini. Aku tahu aku seharusnya diam, aku tahu impulsivitasku akan memperburuk keadaan, tapi rasa ketidakadilan ini mencekikku. Aku benci dianggap tidak kompeten. Aku benci dianggap sebagai 'barang' yang ditukar dengan angka di transkrip nilai.
"Integritas?" Nadia maju satu langkah lagi, jarak kami kini hanya sejengkal. "Pak Aris itu disiplin. Dia benci mahasiswi ceroboh seperti kamu. Jadi, satu-satunya alasan dia mau menyentuhmu adalah karena kamu yang menjeratnya. Dasar murahan."
*Plak!*
Tanganku bergerak lebih cepat dari logikaku. Suara tamparan itu terdengar begitu nyaring hingga membuat lorong mendadak senyap seketika. Nadia memegang pipinya, matanya membelalak kaget. Aku sendiri terpaku, menatap telapak tanganku yang terasa panas.
"Jangan pernah... sebut aku seperti itu lagi," bisikku dengan suara yang bergetar karena emosi yang meluap.
Nadia tampak hendak menerjangku, wajahnya memerah padam. Namun, kerumunan itu tiba-tiba terbelah. Suasana yang tegang menjadi semakin mencekam saat sebuah langkah kaki yang berat dan berirama terdengar mendekat.
"Apa yang terjadi di sini?"
Suara itu rendah, dingin, dan penuh otoritas. Pak Aris berdiri di sana, tas kulit tersampir di bahunya, matanya yang tajam menatap pemandangan di depannya dengan kilatan yang sulit diartikan. Dia tidak melihat ke arah mahasiswa lain, matanya langsung terkunci pada mataku yang mulai berkaca-kaca.
Nadia langsung memasang wajah terzalimi. "Pak Aris! Lihat apa yang dilakukan Celine! Dia menamparku karena aku menegurnya soal foto memalukan itu!"
Pak Aris tidak langsung merespons. Dia berjalan mendekat, melewati Nadia seolah perempuan itu hanya bayangan, lalu berhenti tepat di hadapanku. Aku menunduk, tidak sanggup menatap matanya. Aku merasa seperti pecundang. Aku baru saja membuktikan pada semua orang bahwa aku memang mahasiswi impulsif yang tidak bisa mengontrol diri.
"Ikut ke ruangan saya. Sekarang," perintahnya singkat.
"Tapi Pak, foto itu—" Nadia mencoba memotong.
Aris menoleh sedikit, memberikan tatapan yang begitu dingin hingga Nadia membeku di tempat. "Dan bagi siapa pun yang menyebarkan atau menyimpan foto itu, saya sarankan kalian menghapusnya dalam waktu lima menit. Atau kalian akan berurusan dengan bagian hukum universitas atas tuduhan pencemaran nama baik dan pelanggaran privasi."
Dia kembali menatapku, suaranya melunak sedikit, namun tetap tegas. "Celine. Jalan."
Aku melangkah mengikutinya dengan kepala tertunduk, merasakan ratusan pasang mata menusuk punggungku. Saat kami sampai di depan pintu ruangannya yang tertutup rapat, dia membukanya dan mempersilakan aku ma**k.
Begitu pintu tertutup, keheningan di dalam ruangan itu terasa lebih menakutkan daripada keributan di luar tadi. Aris meletakkan tasnya di meja, lalu berbalik menatapku. Dia menghela napas panjang, sebuah ekspresi yang jarang kulihat darinya.
"Kau tahu kau baru saja mempersulit keadaan, bukan?" tanyanya pelan.
"Dia menghinaku, Pak," jawabku membela diri, air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya jatuh juga. "Dia bilang aku menjual diri untuk nilai. Aku tidak bisa diam saja."
Aris melangkah mendekat, mengikis jarak di antara kami. Dia tidak tampak marah, melainkan tampak... lelah. "Terkadang diam adalah senjata yang lebih mematikan, Celine. Sekarang, bukan hanya foto itu yang menjadi masalah, tapi tindakan fisikmu terhadap mahasiswa lain."
Dia berhenti tepat di depanku, tangannya terangkat seolah ingin menghapus air mataku, namun dia menghentikan gerakannya di udara. "Ada seseorang yang sengaja merencanakan ini. Seseorang yang tahu persis tentang pertemuan kita di kafe malam itu dan ingin menghancurkan kita berdua."
Aku mendongak, menatap matanya yang kelam. "Maksud Bapak? Ada orang lain selain Nadia?"
Aris mengangguk pelan, wajahnya kembali mengeras. "Foto di UKS itu hanya umpan. Mereka menunggu reaksi darimu, dan kau memberikannya dengan sempurna."
Ponsel di meja Pak Aris tiba-tiba berbunyi. Dia melirik layarnya, dan raut wajahnya berubah menjadi sangat pucat. Dia segera mengambil ponsel itu dan menunjukkan layarnya padaku.
Sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Isinya bukan hanya foto, melainkan sebuah rekaman video pendek dari masa lalu—malam di kafe yang ingin kulupakan—disert** teks singkat: *'Satu langkah salah lagi, dan video ini akan sampai ke meja Dekan. Pilihannya: Karier Anda atau gadis ini?'*
Duniaku serasa berhenti berputar. Ini bukan sekadar gosip kampus biasa. Ini adalah jebakan yang sudah disiapkan sejak lama, dan aku baru saja berjalan ma**k ke dalamnya dengan mata terbuka.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!