Ruangan rapat senat itu terasa lebih dingin dari biasanya, meskipun pendingin ruangan diatur pada suhu standar. Cahaya lampu neon yang putih kaku memantul di atas meja m***ni panjang yang dipoles meng***p, memperlihatkan wajah-wajah serius yang duduk mengelilinginya. Aku merapikan letak dasiku, merasakan simpulnya sedikit mencekik, namun aku tetap menjaga ekspresiku sedatar mungkin. Di depanku, tiga orang anggota komisi etik universitas menatapku dengan tatapan yang berkisar antara kekecewaan dan rasa ingin tahu yang tajam.
"Saudara Aris Pratama," Dekan Fakultas Hukum, Profesor Handoko, memulai pembicaraan dengan suara berat yang bergema. Beliau melepaskan kacamata bacanya dan meletakkannya di atas tumpukan berkas. "Anda adalah salah satu dosen muda terbaik kami. Rekam jejak Anda bersih, bahkan impresif. Namun, laporan ini... pesan-pesan ini... sangat jauh dari standar profesionalisme yang kami junjung."
Aku melirik sekilas ke arah berkas yang terbuka. Di sana terdapat tangkapan layar pesan singkatβpesan yang seharusnya terkubur dalam riwayat percakapan pribadi. Sumpah serapah Celine yang impulsif, dan balasan-balasanku yang, jika dilihat dari sudut pandang orang luar, tampak terlalu personal untuk hubungan dosen dan mahasiswi.
"Saya memahami kekhawatiran Anda, Prof," jawabku tenang. Suaraku tidak bergetar sedikit pun, sebuah topeng yang telah kulatih bertahun-tahun.
"Mahasiswi yang bersangkutan, Celine Maheswari, juga tengah kami pertimbangkan untuk dipanggil," sahut Bu Rahmi, anggota komisi lainnya yang dikenal paling kaku. "Tindakan mengirimkan pesan tidak sopan kepada dosen adalah pelanggaran berat kode etik mahasiswa. Dia terancam skorsing dua semester, atau bahkan drop out jika terbukti ada upaya manipulasi nilai melalui hubungan personal."
Mendengar nama Celine disebut dalam konteks 'drop out' membuat dadaku berdenyut kencang. Bayangan wajahnya yang panik, mata bulatnya yang sering kali berkaca-kaca saat aku menekannya di kelas, muncul di benakku. Celine yang ceroboh, Celine yang berantakan, tapi Celine yang memiliki masa depan yang tidak boleh hancur hanya karena kesalahan bodoh yangβsejujurnyaβberawal dari obsesiku sendiri untuk menariknya ma**k kembali ke dalam hidupku.
Aku berdeham, mengalihkan perhatian mereka kembali padaku. "Celine Maheswari tidak bersalah dalam hal ini."
Profesor Handoko menaikkan alisnya. "Dia yang mengirimkan pesan kasar itu pertama kali, Aris. Bagaimana Anda bisa mengatakan dia tidak bersalah?"
Aku menyandarkan punggung ke kursi kayu yang keras, mencoba menciptakan kesan sant** yang sebenarnya palsu. "Pesan itu dikirim karena provokasi saya. Saya secara sengaja memberikan tekanan akademik yang tidak wajar kepadanya. Saya yang memulai interaksi di luar jam kampus. Saya yang memberikan nomor pribadi saya dan memancing reaksi emosionalnya untuk tujuan... riset perilaku mahasiswa yang tidak tersistemasi."
Kebohongan itu meluncur lancar dari lidahku. Aku bisa melihat ekspresi terkejut di wajah rekan-rekan sejawatku. Mengakui bahwa aku melakukan provokasi secara sengaja adalah bunuh diri karier.
"Anda sadar apa yang Anda katakan, Aris?" tanya Bu Rahmi dengan nada tidak percaya. "Anda mengakui bahwa Anda melakukan intimidasi akademik?"
"Saya mengakui bahwa saya gagal menjaga batasan," koreksiku cepat. "Celine adalah mahasiswi yang sangat reaktif. Saya memanfaatkannya untuk menguji batasan otoritas dosen. Dia hanya korban dari eksperimen metode bimbingan saya yang keliru. Segala bentuk komunikasi yang dianggap tidak pantas adalah tanggung jawab saya sepenuhnya. Dia tidak tahu apa-apa dan hanya merespons apa yang saya berikan."
Ruangan itu mendadak hening. Aku bisa mendengar detak jarum jam dinding yang seolah mengejek setiap detik karierku yang mulai rontok. Aku tahu risiko ini. Jika aku dinyatakan bersalah atas pelanggaran etika berat, gelar dosen teladan, peluang beasiswa ke luar negeri, dan posisiku di universitas ini bisa lenyap dalam semalam. Namun, membayangkan Celine kehilangan haknya untuk belajar, melihat impiannya hancur karena keterlibatannya denganku, adalah sesuatu yang tidak bisa kutoleransi.
"Jika benar demikian," Profesor Handoko bicara lagi, suaranya kini terdengar lebih dingin. "Maka konsekuensinya akan jatuh sepenuhnya pada Anda. Kami harus mengeluarkan surat peringatan keras, pembekuan status mengajar sementara, dan catatan ini akan ada di file permanen Anda. Apakah Anda tetap pada pernyataan Anda?"
Aku menarik napas panjang, merasakan beban berat yang akhirnya mendarat di bahuku. "Saya tetap pada pernyataan saya. Bebaskan Celine Maheswari dari segala tuntutan. Dia mahasiswi yang kompeten, hanya sedikit terjebak dalam situasi yang saya ciptakan."
"Sidang ini ditangguhkan untuk pengambilan keputusan akhir," ketuk palu Profesor Handoko mengakhiri sesi yang menyesakkan itu.
Aku berdiri, mengancingkan jas hitamku, dan berjalan keluar dari ruangan dengan kepala tegak, meskipun bagian dalam diriku terasa hancur. Saat pintu kayu besar itu tertutup di belakangku, aku bersandar sejenak di dinding lorong yang sepi. Aku mengeluarkan ponsel dari saku, melihat layarnya yang gelap.
Ada satu pesan ma**k dari Celine yang belum sempat kubaca sebelum sidang dimulai.
*Pak Aris, tolong jangan lakukan hal aneh. Saya tahu Bapak sedang di dalam. Saya yang salah, saya yang harusnya di sana, bukan Bapak.*
Aku tersenyum tipis, sebuah senyum pahit yang hanya bisa kuberikan pada diriku sendiri. Dia memang cerdas, terlalu cerdas untuk kebaikannya sendiri. Dia tahu aku sedang mencoba melindunginya, dan itu pasti akan membuatnya merasa berutang budiβsesuatu yang sangat dia benci.
Aku baru saja hendak melangkah menuju tangga ketika aku melihat sosoknya berdiri di ujung lorong. Rambutnya sedikit berantakan, dan matanya merah seolah dia baru saja berlari dari gedung seberang. Dia menatapku dengan campuran antara amarah dan kekhawatiran yang menyesakkan.
"Apa yang Bapak katakan di dalam?" suaranya bergetar, bergema di koridor yang kosong.
Aku berjalan mendekat, menjaga jarak yang kini terasa seperti jurang yang sangat dalam. "Perg***h ke kelas, Celine. Urusanmu sudah selesai."
"Jangan bohong!" dia setengah berteriak, melangkah maju hingga kami hanya berjarak satu meter. "Saya dengar dari staf dekanat. Bapak mengambil semua kesalahannya? Kenapa? Setelah semua yang Bapak lakukan untuk membuat hidup saya sulit, kenapa sekarang Bapak malah menghancurkan diri sendiri untuk saya?"
Aku menatap matanya yang basah, mencari kata-kata yang tepat untuk menjauhkannya, namun yang keluar justru sesuatu yang sudah lama kupendam. "Karena aku tidak bisa membiarkanmu hancur untuk kedua kalinya karena kesalahanku, Celine. Meskipun kau tidak ingat kejadian di kafe itu, aku ingat. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan tangan kosong."
Celine terdiam, nafasnya tertahan. Namun, sebelum dia sempat membalas, ponselku di saku bergetar hebat. Sebuah pangg***n dari nomor yang tidak kukenal, tapi aku tahu persis siapa yang menelepon di saat-saat kritis seperti ini. Seseorang yang memegang kunci masa laluku dan bisa menghancurkan sisa-sisa pertahananku di depan komisi etik.
Aku mengangkat telepon itu, dan suara di seberang sana membuat darahku berdesir dingin. "Pengorbanan yang manis, Aris. Tapi apakah kamu yakin rahasia tentang apa yang sebenarnya terjadi malam itu di kafe tidak akan ikut terungkap bersamamu?"
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!