Lant** marmer koridor dekanat yang biasanya terasa dingin, kali ini seolah memancarkan panas yang merambat naik ke telapak kakiku. Aku meremas tali tas ranselku erat-erat, hingga buku-bukuku memutih di persendian. Di depan pintu kayu m***ni yang berat itu, aku bisa mendengar detak jantungku sendiriβseperti perkusi liar yang tidak beraturan.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadaku, lalu mengetuk pintu itu tiga kali.
"Ma**k," suara berat Dekan, Pak Surya, terdengar dari dalam.
Saat melangkah ma**k, aroma kopi pahit dan kertas lama langsung menyambutku. Namun, bukan itu yang membuat napas setinggi tenggorokan. Di sana, duduk di kursi kayu di depan meja besar Pak Surya, adalah Aris Pratama. Dia tampak tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang sedang dituduh melakukan pelanggaran etika profesional. Punggungnya tegak, kemeja abu-abunya licin tanpa cela, dan tatapannya lurus ke depan seolah dia sedang berada di ruang kuliahnya sendiri, bukan di ruang penghakiman.
"Celine Maheswari. Silakan duduk," Pak Surya memberi isyarat ke kursi kosong di sebelah Aris.
Aku duduk dengan kaku. Sedikit pun aku tidak berani melirik ke arah Aris, tapi aku bisa merasakan aura dingin yang biasa dia pancarkan.
"Celine," Pak Surya memulai, jemarinya bertaut di atas meja. "Ada laporan anonim yang ma**k ke meja saya. Laporan ini mencakup beberapa foto kalian di luar kampus, juga kecurigaan mengenai nilai-nilai kamu yang dianggap meroket secara tidak wajar di mata kuliah Pak Aris. Ada dugaan... perlakuan khusus atau nepotisme akademik."
Darahku terasa mendidih. Nepotisme? Perlakuan khusus? Mereka tidak tahu betapa berdarah-darahnya aku setiap kali mengerjakan tugas dari pria di sampingku ini.
"Itu tidak benar, Pak," kataku, suaraku sedikit bergetar namun tegas. Aku segera membuka tas dan mengeluarkan tumpukan draf makalah serta lembar jawaban ujian tengah semesterku yang penuh dengan coretan tinta merah. "Ini bukti kerja keras saya."
Pak Surya menaikkan alisnya, melihat tumpukan kertas yang kini berantakan di atas mejanya.
"Anda bisa lihat sendiri, Pak," lanjutku, suaraku semakin stabil seiring dengan rasa kesal yang mulai mengalahkan rasa takut. "Pak Aris tidak memberikan saya nilai A begitu saja. Di draf pertama makalah saya, dia memberi saya nilai D dan memaksa saya merevisinya empat kali. Empat kali, Pak! Setiap catatan yang dia berikan lebih tajam dari silet. Jika ini yang Bapak sebut perlakuan khusus, maka saya rasa standar 'khusus' di kampus ini sangatlah menyiksa."
Aku melirik Aris sejenak. Sudut bibirnya berkedutβhampir tak terlihatβseperti sebuah seringai tipis yang hanya bisa kukenali karena aku telah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk memperhatikannya.
"Celine," Aris memotong dengan nada datarnya yang khas. "Biar saya yang bicara."
"Tidak, Pak Aris," aku menyela, membuat Pak Surya terbelalak karena keberanianku memotong pembicaraan seorang dosen. "Ini tentang integritas saya sebagai mahasiswi juga. Jika orang-orang mengira saya mendapatkan nilai bagus karena... karena hubungan pribadi, maka mereka menghina semua malam di mana saya tidak tidur untuk membedah teori-teori sulit yang Bapak berikan."
Aku menatap Pak Surya dengan berani. "Mengenai foto-foto di luar kampus... Pak Aris adalah mentor saya untuk kompetisi esai nasional. Kami bertemu di tempat umum, di kafe yang ramai, hanya untuk membahas materi. Tidak ada yang disembunyikan. Pak Aris adalah dosen yang paling keras terhadap saya justru karena dia tahu saya memulai semester ini dengan... kesalahan."
Aku hampir saja menyebutkan soal pesan yang salah kirim itu, tapi aku segera mengerem lidahku.
Pak Surya mengamati lembar-lembar tugas yang kupenuhi dengan revisi. Dia membolak-balik halaman demi halaman, melihat bagaimana argumenku berkembang dari draf awal yang kacau menjadi tulisan yang sangat terstruktur.
"Coretan merah ini memang gaya Pak Aris," gumam Pak Surya pelan. "Sangat kejam."
"Sangat disiplin, Pak," koreksi Aris tenang. "Celine memiliki kecenderungan untuk bertindak impulsif dan ceroboh dalam berpikir. Saya hanya memastikan dia tidak membawa kebiasaan buruk itu ke dalam akademiknya. Jika nilainya bagus, itu karena dia mampu memenuhi standar tinggi yang saya tetapkan, yang mana banyak mahasiswa lain menyerah sebelum mencapainya."
Hening sejenak menyelimuti ruangan itu. Aku bisa merasakan keringat dingin membasahi punggungku. Apakah pembelaanku c**up? Ataukah kejujuranku malah akan menjerat kami berdua lebih dalam?
Pak Surya menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya menatap kami bergantian melalui kacamata minusnya. "Laporan ini sangat spesifik, Celine. Foto-foto itu menunjukkan ekspresi yang... tidak biasa untuk sekadar hubungan dosen dan mahasiswa. Ada satu foto di mana Pak Aris tampak sedang memegang tanganmu di sebuah kafe."
Jantungku berhenti berdetak sesaat. Foto di kafe malam itu. Saat Aris mencoba menghentikanku yang hampir menumpahkan kopi karena panik.
"Itu karena saya hampir jatuh, Pak!" seruku, mungkin sedikit terlalu cepat. "Refleks. Pak Aris hanya mencegah saya membuat keributan di tempat umum."
"Benarkah demikian, Pak Aris?" tanya Pak Surya penuh selidik.
Aris memperbaiki posisi duduknya. Untuk pertama kalinya, dia menatapku. Matanya gelap dan dalam, menyimpan rahasia yang hanya kami berdua yang tahu. "Saya bertanggung jawab atas keselamatan dan sikap mahasiswa saya saat berada di bawah bimbingan saya, baik di dalam maupun di luar kelas. Jika bantuan fisik sesaat dianggap sebagai skandal, maka saya rasa definisi profesionalisme di sini perlu ditinjau ulang."
Pak Surya menghela napas panjang, tampak sedikit lelah. "Baiklah. Untuk saat ini, bukti akademik yang Celine bawa c**up kuat untuk membantah tuduhan nepotisme nilai. Tapi, Aris... saya minta kau menjaga jarak yang lebih formal. Dan Celine, tetaplah pada jalurmu. Saya tidak ingin mendengar desas-desus lagi."
Kami berdua dipersilakan keluar. Saat pintu m***ni itu tertutup di belakang kami, aku merasa lututku lemas. Aku bersandar pada dinding koridor yang dingin, memejamkan mata sejenak.
"Kau terlalu banyak bicara di dalam tadi," suara Aris terdengar tepat di samping telingaku.
Aku membuka mata dan mendapati dia berdiri sangat dekat. Tidak ada lagi meja besar atau Dekan yang menghalangi kami. Aroma parfum maskulinnya yang bercampur dengan bau kertas menguar, membuat kepalaku pening dengan cara yang berbeda.
"Aku hanya membela kebenaran," bisikku, mencoba mengatur napas. "Aku tidak ingin integritas Anda hancur karena saya."
Aris tidak membalas. Dia justru menatap koridor yang sepi, lalu kembali menatapku dengan intensitas yang membuat bulu kudukku berdiri. "Kau pikir ini sudah selesai, Celine? Orang yang mengirim foto itu tidak akan berhenti hanya karena kau membawa setumpuk draf revisi."
Aku mengerutkan kening. "Maksud Anda?"
Aris maju satu langkah, memangkas jarak di antara kami hingga aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya. Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel, menunjukkan sebuah notifikasi pesan dari nomor tidak dikenal yang baru saja ma**k beberapa menit yang lalu.
Mataku membelalak saat membaca isinya.
*Dosen hebat dan mahasiswi pintarnya berhasil lolos dari Dekan. Tapi mari kita lihat, apakah mereka bisa lolos dari video yang satu ini.*
Di bawah pesan itu, ada sebuah lampiran video dengan thumbnail yang memperlihatkan kami berdua di parkiran apartemen minggu lalu. Jantungku mencelos. Seseorang tidak hanya memperhatikan kami, seseorang sedang mengint** kami.
"Siapa yang melakukan ini?" tanyaku dengan suara tercekat.
Aris menyimpan kembali ponselnya, wajahnya mengeras bagai batu karang. "Seseorang yang tahu persis apa yang kau tulis di pesan yang kau kirim padaku di awal semester ini, Celine. Dan dia ingin menghancurkan kita berdua menggunakan itu."
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!