Kertas putih di hadapanku terasa lebih berat daripada tumpukan skripsi mahasiswa tingkat akhir yang harus kubaca semalam. Cahaya lampu meja yang remang hanya menyinari satu titik fokus: surat pengunduran diri yang sudah kutandatangani. Tinta hitamnya sudah mengering, namun rasanya seolah-olah baru saja menorehkan luka permanen di atas karier yang kubangun dengan penuh kedisiplinan selama bertahun-tahun.
Aku menyandarkan punggung ke kursi kulit, menatap langit-langit ruang dosen yang sunyi. Jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam. Sebagian besar kolega sudah pulang, menyisakan kesunyian yang mencekam. Di ruangan inilah aku pertama kali memanggil Celine Maheswari untuk mengonfrontasinya soal pesan kurang ajar itu. Di ruangan ini pula, aku menyadari bahwa benteng pertahananku perlahan runtuh setiap kali melihat binar keras kepala di matanya.
Langkah kaki terdengar dari koridor. Aku mengenali ritme ituβsedikit terburu-buru, tidak beraturan, mencerminkan pemiliknya yang selalu bertindak sebelum berpikir.
Ketukan pintu terdengar. Pelan, tapi c**up untuk membuat jantungku berdenyut nyeri.
"Ma**k," ucapku dengan suara yang sengaja kubuat sedatar mungkin.
Pintu terbuka perlahan. Celine berdiri di sana, masih mengenakan jaket denim kebesarannya, napasnya sedikit memburu. Rambutnya agak berantakan, mungkin karena angin malam atau karena dia baru saja berlari dari kantin. Dia menatapku dengan tatapan yang selalu membuatku merasa te*******βseolah dia bisa melihat semua dosa dan rahasia yang kusembunyikan di balik kemeja formal ini.
"Pak Aris," katanya pelan. Dia tidak lagi memanggilku 'Mas' jika di lingkungan kampus, sebuah bentuk kepatuhan yang belakangan ini justru terasa menyakitkan. "Saya dengar dari staf administrasi kalau Bapak membatalkan jadwal kuliah pengganti besok. Ada apa? Apa Bapak sakit?"
Aku memperhatikan jemarinya yang meremas tali tas. Kebiasaannya saat merasa cemas. Aku ingin berdiri, menghampirinya, dan merapikan rambutnya, lalu mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, aku hanya bisa mengeraskan rahang.
"Saya ada urusan yang harus diselesaikan, Celine. Dan mulai minggu depan, kelas kalian akan diampu oleh Pak Broto," jawabku, mengalihkan pandangan ke tumpukan buku di pojok meja.
Celine melangkah ma**k, menutup pintu di belakangnya. "Maksudnya? Hanya sementara, kan? Pak Broto itu dosen senior yang bahkan jarang bisa memakai proyektor sendiri. Kenapa Bapak harus digantikan?"
Aku menghela napas panjang, lalu akhirnya menatapnya lurus. "Saya mengundurkan diri, Celine."
Hening seketika menyelimuti ruangan itu. Aku bisa melihat bagaimana pupil matanya membesar, bagaimana rona merah di pipinya perlahan memucat. Dia tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan pijakan.
"Kenapa?" suaranya hampir menyerupai bisikan. "Ini gara-gara saya? Gara-gara pesan itu? Atau gara-gara... kita di kafe waktu itu?"
"Ini demi kebaikanmu," aku memotongnya cepat, suaraku sedikit meninggi agar getarannya tidak kentara. "Hubungan ini, posisi kita saat ini... ini adalah jebakan bagi kita berdua. Selama saya masih menjadi dosenmu, setiap nilai yang kamu dapatkan akan dipertanyakan. Setiap keberhasilanmu akan dianggap sebagai hasil dari favoritisme. Dan yang paling buruk, rahasia masa lalu itu... saya tidak ingin itu menghancurkan masa depanmu."
Celine melangkah mendekat ke mejaku, telapak tangannya menekan permukaan kayu yang dingin. "Siapa yang peduli dengan omongan orang lain? Saya tidak butuh perlindungan macam ini jika harganya adalah kehilangan Bapak!"
"Kamu masih terlalu muda untuk mengerti konsekuensinya!" aku berdiri, mencoba mengintimidasi dengan postur tubuhku, sebuah teknik yang biasanya berhasil membuat mahasiswa manapun menciut. Tapi tidak dengan Celine. Dia justru menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Jangan gunakan usia saya sebagai alasan untuk melarikan diri, Aris!" teriaknya. Air mata pertama jatuh ke pipinya. "Bapak selalu bicara soal disiplin, soal integritas. Tapi apa ini berintegritas? Meninggalkan saya di saat Bapak tahu saya baru saja mulai mempercayai seseorang lagi?"
Tenggorokannya terasa tersumbat, seolah ada bongkahan es yang tak mau mencair di sana. Aku ingin mengatakan padanya bahwa aku melakukan ini karena aku mencint**nya dengan cara yang salah. Karena aku adalah pria yang terobsesi untuk memperbaiki kekacauan hidupnya, padahal hidupku sendirilah yang berantakan sejak bertemu dengannya.
"Keputusan saya sudah bulat," kataku, berusaha menahan diri untuk tidak mengulurkan tangan menghapus air matanya. "Surat ini akan saya serahkan ke Dekan besok pagi. Kamu punya potensi besar, Celine. Jangan biarkan kehadiran saya menjadi penghalang bagimu untuk bersinar sesuai kemampuanmu sendiri."
Celine tertawa sumbang di sela isakannya. "Bersinar? Bagaimana saya bisa bersinar kalau matahari saya memilih untuk pergi?"
Dia berbalik dengan cepat, tak sanggup lagi menatapku. Suara langkah kakinya yang menjauh di koridor terdengar seperti dentuman palu hakim yang menjatuhkan vonis mati pada perasaanku. Aku terduduk kembali, merasa seluruh tenagaku terkuras habis.
Aku meraih ponselku yang tergeletak di meja. Sebuah notifikasi pesan ma**k muncul di layar. Bukan dari Celine, melainkan dari nomor tak dikenal yang selama beberapa hari ini menerorku dengan potongan-potongan foto masa lalu kami di kafe malam itu.
*βKeputusan cerdas, Aris. Mundur sebelum kamu dipermalukan. Tapi ingat, ini baru permulaan. Menjauh darinya tidak akan menghapus apa yang sudah terjadi.β*
Aku meremas ponsel itu hingga buku-buku jariku memutih. Pengunduran diri ini seharusnya menjadi jalan keluar untuk melindunginya, tapi melihat pesan itu, aku menyadari satu hal yang mengerikan. Aku mungkin telah menjauhkan diriku dari Celine secara fisik, tapi aku justru meninggalkannya sendirian di tengah medan perang yang belum selesai.
Dan jika musuh yang mengancamku tahu bahwa aku baru saja melepaskan perlindunganku padanya, Celine kini berada dalam bahaya yang jauh lebih besar daripada sekadar nilai akademik yang buruk.
Aku menatap surat di meja itu sekali lagi. Haruskah aku benar-benar pergi, ataukah langkahku ini justru menjadi kesalahan terbesar kedua setelah membiarkan Celine mengirimkan pesan itu ke nomorku?
Lanjutkan Membaca Bab 21 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!