Kertas ujian terakhir diletakkan terbalik di atas meja kayu yang permukaannya sudah penuh dengan coretan pulpen. Aku menarik napas panjang, membiarkan oksigen memenuhi paru-paruku yang terasa sesak selama dua jam terakhir. Ruang aula besar ini mendadak senyap, hanya menyisakan suara gesekan kaki kursi dan bisik-bisik lega dari mahasiswa lain yang mulai merapikan alat tulis mereka.
Aku seharusnya merasa bebas. Bebas dari rumus-rumus ekonomi makro yang memusingkan, bebas dari begadang hingga fajar, dan yang paling penting, bebas dari tatapan tajam pria itu.
"Celine, ke kantin? Rayain kebebasan!" Maya menyenggol bahuku sambil menyeringai lebar. Wajahnya berseri-seri, kontras dengan kantung matanya yang menghitam.
Aku memaksakan sebuah senyum kecil sambil mema**kkan kotak pensil ke dalam tas. "Kalian duluan saja. Aku mau ke ruang administrasi dulu, ada berkas yang perlu dicek."
Bohong. Tidak ada berkas. Aku hanya belum siap menghadapi keriuhan perayaan saat hatiku sendiri terasa seperti ruang kosong yang ditinggalkan penghuninya.
Langkah kakiku bergema di koridor gedung fakultas yang mulai sepi. Sinar matahari sore menerobos melalui jendela-jendela besar, menciptakan bayangan panjang yang tampak melankolis di lant** marmer. Secara tidak sadar, langkahku melambat saat melewati pintu kayu ek berwarna cokelat gelap dengan papan nama perak yang sangat kukenal: *Aris Pratama, S.E., M.Sc.*
Pintu itu tertutup rapat. Tidak ada suara ketikan keyboard dari dalam, tidak ada aroma kopi pahit yang biasanya merembes keluar, dan tidak ada aura intimidasi yang biasanya membuat bulu kudukku berdiri. Sejak minggu tenang dimulai, Aris seolah menghilang ditelan bumi. Tugas-tugas dikumpulkan secara daring, dan pengawas ujian tadi hanyalah asisten dosen muda yang bahkan tidak tahu cara membetulkan letak kacamatanya sendiri dengan benar.
Aku berdiri mematung di depan pintu itu selama beberapa detik. Tanganku terangkat, hampir menyentuh knop pintu, sebelum akhirnya aku mengepalkannya kuat-kuat dan menurunkannya kembali. Bukankah ini yang kuinginkan? Nilai sempurna tanpa gangguan personal? Tanpa tekanan untuk mengingat kejadian di kafe malam itu?
Seminggu kemudian, pengumuman nilai keluar di portal akademik.
Aku duduk di kursi belajar kamar kosku, menatap layar laptop dengan jantung berdebar. Jemariku gemetar saat mema**kkan kata sandi. Begitu halaman termuat, deretan huruf 'A' berjejer rapi di kolom nilai. Dan di sana, di mata kuliah Teori Ekonomi Lanjutanβmata kuliah milik Aris Pratamaβhuruf 'A' itu bersinar paling terang. Aku bahkan mendapatkan nilai seratus untuk ujian akhir.
"Aku berhasil," bisikku pada diri sendiri.
Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. Tidak ada sorak sorai. Tidak ada rasa bangga yang meledak-ledak. Yang ada hanyalah rasa hampa yang aneh. Aku meraih ponsel, membuka aplikasi pesan, dan menggulir percakapan hingga menemukan namanya.
Pesan terakhir dariku tertulis dua minggu lalu. Sebuah pertanyaan singkat tentang referensi jurnal yang hanya dibalasnya dengan satu kalimat dingin: *'Cari sendiri, Celine. Kau sudah c**up dewasa untuk tidak terus-menerus memegang tanganku.'*
Aku mengetik sesuatu. *Pak, nilai saya sudah keluar. Terima kasih atas bimbingannya.*
Ibu jariku tertahan di atas tombol kirim. Aku teringat bagaimana Aris selalu menuntut kesempurnaan dariku. Bagaimana dia menatapku dengan cara yang seolah-olah dia bisa melihat langsung ke dalam jiwaku yang berantakan. Dia menghukumku dengan tumpukan tugas bukan karena dia membenciku, tapi karena dia tahu aku mampu melakukannya.
Dan sekarang, setelah aku membuktikan kemampuanku, dia benar-benar melepaskanku.
Aku menghapus pesan itu. Sumpah serapah yang dulu kukirimkan padanya terasa seperti kenangan dari kehidupan orang lain. Sekarang, aku justru merindukan setiap teguran pedasnya. Aku merindukan cara dia memanggil namaku dengan nada rendah yang membuat jantungku berdetak tidak keruan.
Sore itu, aku memutuskan untuk pergi ke kafe tempat semua keg***an ini dimulai. Aku butuh penutupan. Aku duduk di sudut yang sama, memesan kopi yang sama, dan menatap ke arah pintu ma**k setiap kali lonceng berdentang.
Satu jam berlalu. Dua jam. Aris tidak muncul.
Dunia tetap berputar. Mahasiswa lain tertawa di meja sebelah, membicarakan rencana liburan semester. Sementara aku, sang mahasiswi berprestasi dengan nilai sempurna, merasa seperti pecundang yang kehilangan arah. Ternyata, membuktikan diri di depan Aris jauh lebih candu daripada hasil akhirnya itu sendiri.
Aku menghela napas, menyesap kopiku yang sudah dingin, dan memutuskan untuk pulang. Saat aku merogoh tas untuk mengambil kunci motor, jariku menyentuh sebuah amplop cokelat kecil yang terselip di sela-sela buku catatanku. Aku mengernyit. Kapan aku menaruh ini di sana?
Aku menarik amplop itu keluar. Tidak ada nama pengirim, hanya namaku yang tertulis dengan tulisan tangan yang rapi, tajam, dan sangat kukenali. Tulisan tangan yang selama satu semester ini menghiasi tepi kertas tugasku dengan koreksi-koreksi merah.
Dengan tangan gemetar, aku merobek segel amplop itu. Di dalamnya terdapat sebuah kartu kecil dan sebuah kunci perak dengan gantungan berbentuk jangkar.
*Nilaimu memang memuaskan, tapi hidupmu masih berantakan, Celine.*
Hanya itu. Dan di balik kartu itu, tertulis sebuah alamat apartemen yang terletak di pusat kota, lengkap dengan jam kunjung yang sangat spesifik: *Malam ini, jam 8. Jangan terlambat, atau kau akan tahu apa konsekuensinya jika membuatku menunggu.*
Jantungku berdegup kencang, menghantam rongga dadaku dengan kekuatan yang menyakitkan. Ini bukan tentang akademik lagi. Ini adalah jebakan yang jauh lebih berbahaya, dan anehnya, aku tidak punya keinginan sedikit pun untuk melarikan diri.
Aku melirik jam di pergelangan tanganku. Pukul tujuh lewat lima belas menit. Aku segera berdiri, meninggalkan kopi dinginku begitu saja, dan berlari menuju parkiran. Pers**** dengan ketenangan semester baru. Aku tahu, permainan yang sebenarnya baru saja dimulai.
Lanjutkan Membaca Bab 22 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!