Toga hitam yang kukenakan terasa lebih berat dari yang kubayangkan, seolah-olah helai kain itu menampung seluruh beban begadang, revisi skripsi yang berdarah-darah, dan tentu saja, semua drama yang dipicu oleh satu pesan salah kirim empat tahun lalu. Aku merapikan kuncir pada topi wisudaku yang terus melorot, sementara aroma melati dari karangan bunga di kursi sebelah memenuhi indra penciumanku.
Gedung auditorium ini bising oleh tawa, isak haru orang tua, dan jepretan kamera. Namun, bagiku, suara-suara itu perlahan memudar menjadi dengungan statis saat namaku dipanggil untuk berbaris menuju panggung.
"Celine, tenanglah. Kau terlihat seperti akan menghadapi eksekusi, bukan wisuda," bisik Sarah, sahabatku, sembari menyenggol lenganku.
Aku memaksakan senyum tipis. "Aku hanya tidak menyangka hari ini benar-benar datang."
Mataku menyapu barisan depan, tempat para petinggi universitas dan tamu kehormatan duduk dengan wibawa. Dan di sanalah dia. Aris Pratama.
Dia tidak lagi mengenakan kemeja kaku atau jas dosen yang biasa kulihat di koridor kampus. Hari ini, dia mengenakan setelan *charcoal grey* yang dijahit sempurna, memancarkan aura otoritas yang berbeda—bukan lagi sebagai seorang pendidik, melainkan sebagai salah satu petinggi dari *Pratama Group*, perusahaan raksasa yang menjadi sponsor utama beasiswa di universitas ini. Rambutnya disisir rapi ke belakang, menonjolkan garis rahangnya yang tegas dan sorot mata tajam yang kini sedang menatap lurus ke arahku.
Jantungku berdebar tak keruan. Setiap langkahku di karpet merah menuju podium terasa seperti berjalan di atas tali tipis. Saat namaku dibacakan—"Celine Maheswari, Sarjana Ekonomi, dengan predikat *Magna Cum Laude*"—aku melangkah maju. Rektor memindahkan tali togaku, tetapi protokol berikutnya adalah yang paling kunanti sekaligus kutakuti: bersalaman dengan perwakilan industri.
Aku berdiri tepat di hadapan Aris.
Wangi parfumnya—campuran kayu cendana dan sedikit aroma tembakau yang mahal—langsung mengepung pertahananku. Aris mengulurkan tangannya. Saat jemariku bersentuhan dengan telapak tangannya yang hangat dan kokoh, ada sengatan listrik familiar yang merayap naik ke lenganku.
"Selamat, Celine," suaranya rendah, nyaris seperti bisikan yang hanya ditujukan untuk telingaku di tengah kebisingan ini. "Kau akhirnya berhasil keluar dari 'jebakan' dosenmu."
Aku merasakan pipiku memanas. Aku mendongak, menemukan kilatan jenaka di balik matanya yang biasanya sedingin es. "Terima kasih, Pak Aris. Atau saya harus memanggil Bapak dengan sebutan lain sekarang?"
Aris memberikan tekanan lembut pada tanganku sebelum melepaskannya. "Panggil aku sesukamu saat kita keluar dari gedung ini. Aku menunggumu di parkiran VIP. Jangan terlambat."
Aku mengangguk kecil, hampir tidak kentara, lalu berjalan turun dari panggung dengan kaki yang terasa ringan. Semua rasa tidak aman, ketakutan dianggap tidak kompeten, dan bayang-bayang masa lalu yang kelam seolah menguap. Aku bukan lagi mahasiswi impulsif yang mengirim sumpah serapah melalui pesan singkat. Aku adalah wanita yang telah membuktikan bahwa aku bisa berdiri tegak, bahkan di bawah tekanan pria paling menuntut yang pernah kukenal.
Dua jam kemudian, setelah sesi foto keluarga yang melelahkan, aku menyelinap pergi menuju area parkir yang lebih sepi. Mobil sedan hitam mengkilap itu sudah menunggu. Aris bersandar di pintu mobil, kacamatanya sudah dilepas, dan kancing teratas kemejanya terbuka, memberikan kesan sant** yang jarang ia tunjukkan.
"Kau lama sekali," keluhnya, meski senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Banyak orang yang ingin berfoto dengan 'lulusan terbaik'," balasku sombong, mencoba menutupi rasa gugupku.
Aris mendekat, memperkecil jarak di antara kami hingga aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya. Ia tidak lagi memegang buku nilai atau silabus. Ia meraih tanganku, lalu mengecup punggung tanganku dengan lembut—sebuah gestur yang dulu sangat mustahil dilakukan di lingkungan kampus.
"Sekarang setelah tidak ada lagi batasan kode etik antara dosen dan mahasiswa, kurasa kita bisa memulai hubungan ini dengan benar," ucapnya serius. "Tidak ada lagi hukuman akademik, tidak ada lagi tugas tambahan sebagai alibi untuk menemuiku."
Aku tersenyum lebar, merasa benar-benar bebas untuk pertama kalinya. "Jadi, ini adalah kencan pertama kita yang 'legal'?"
"Tepat sekali. Dan aku sudah menyiapkan tempat yang tidak akan pernah kau duga."
Aris membukakan pintu mobil untukku. Namun, sebelum aku sempat ma**k, sebuah suara berat memanggil nama Aris dari kejauhan. Aris membeku, ekspresinya berubah drastis dari lembut menjadi tegang dalam hitungan detik.
Aku menoleh dan melihat seorang pria paruh baya yang sangat mirip dengan Aris, tetapi dengan gurat wajah yang jauh lebih keras, berjalan ke arah kami dengan langkah angkuh. Di sampingnya, seorang wanita muda dengan gaun desainer yang sangat elegan tampak menggandeng lengannya dengan posesif.
"Aris," pria itu bersuara, dingin dan penuh tuntutan. "Jadi ini alasanmu mengundurkan diri dari posisi dosen dan bersikeras memegang kendali di perusahaan? Hanya demi mengejar seorang lulusan baru?"
Aris menarikku ke belakang tubuhnya, melindungi seolah-olah aku adalah aset paling berharga yang ia miliki. Aku bisa merasakan otot lengannya mengeras. Hubungan baru kami yang sah bahkan belum berjalan satu jam, tetapi dinding penghalang yang lebih besar dan lebih kuat dari sekadar status dosen-mahasiswa kini berdiri tegak di depan mata kami.
"Papa, ini bukan urusanmu," desis Aris dengan nada yang mengandung ancaman.
Wanita muda di samping pria itu menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan, lalu tersenyum miring. "Tapi Aris, bukankah kau sudah berjanji pada dewan komisaris bahwa kau akan menjauh dari skandal? Pesan-pesan lama dari mahasiswi ini... kurasa belum benar-benar terhapus dari server universitas."
Darahku mendesir dingin. Pesan itu. Pesan bodoh yang kukirimkan di tahun kedua itu kembali menghantuiku tepat saat aku mengira aku sudah menang. Aris meremas tanganku kuat-kuat, namun aku bisa melihat keraguan sesaat di matanya yang membuat nyaliku menciut. Ternyata, masa lalu bukan sekadar untuk dihadapi, melainkan untuk dihancurkan sebelum ia menghancurkan kita.
Lanjutkan Membaca Bab 23 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!