Unsent Message: Jebakan Sang Dosen

Bab 3: Bab 3 - Ma**k ke kelas Aris pertama kalinya setelah ins...

Pengaturan Membaca

Tanganku gemetar saat menggenggam tali tas ransel, seolah-olah benda itu adalah satu-satunya pelampung yang menjagaku agar tidak tenggelam di lant** koridor fakultas yang dingin. Setiap langkah menuju Ruang 402 terasa seperti berjalan menuju tiang gantungan. Di dalam sana, di balik pintu kayu ek tebal itu, ada Aris Pratama.

Dosen yang tempo hari kupanggil "manusia robot tidak punya hati" melalui pesan WhatsApp. Pesan yang seharusnya kuteruskan ke grup gibah bersama sahabat-sahabatku, tapi malah mendarat tepat di nomor pribadinya.

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantung yang memukul-mukul rongga dada. *Ternyata kau benar-benar lupa siapa aku setelah kejadian di kafe malam itu.* Kalimat balasannya terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak. Kejadian di kafe? Kafe yang mana? Aku berusaha memeras ingatan, namun yang muncul hanyalah potongan gambar buram tentang lampu redup dan aroma kopi yang kuat.

"Celine! Ayo ma**k, kenapa bengong di pintu?" suara Nisa, teman sekelasku, membuyarkan lamunan.

Aku memaksakan senyum tipis yang terasa kaku, lalu melangkah ma**k. Aku memilih kursi di barisan paling belakang, berharap bisa menyatu dengan bayangan atau menghilang di balik punggung lebar mahasiswa di depanku. Namun, harapanku pupus saat pintu depan terbuka tepat pukul delapan pagi.

Langkah kakinya terdengar tegas, berirama, menciptakan keheningan instan di dalam kelas yang tadinya riuh. Aris Pratama melangkah ma**k dengan kemeja biru navy yang lengannya digulung hingga sesiku, menampakkan jam tangan perak yang berkilau tertimpa lampu neon. Wajahnya datar, kaku, dan sepasang matanya yang tajam di balik bingkai kacamata langsung memindai seisi ruangan.

Sejenak, pandangannya berhenti tepat di mataku.

Hanya satu detik, tapi rasanya seperti disiram air es. Aku segera menunduk, pura-pura sibuk mencari pulpen di dalam tas. Jantungku berpacu dua kali lebih cepat. Aku bisa merasakan telapak tanganku mulai berkeringat dingin.

"Selamat pagi," suaranya berat dan bariton, menggema tanpa perlu bantuan mikrofon. "Saya tidak suka membuang waktu. Buka modul halaman lima belas. Kita akan membahas tentang integritas dalam komunikasi profesional."

Sepanjang penjelasan, aku tidak berani mengangkat kepala sepenuhnya. Aku hanya mencatat apa pun yang keluar dari mulutnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Namun, Aris seolah punya radar. Ia tidak hanya berdiri di depan kelas; ia mulai berjalan menyusuri barisan kursi mahasiswa.

Ketukan sepatunya di lant** keramik terdengar semakin dekat ke barisanku. Aroma parfumnyaβ€”campuran antara kayu cendana dan sesuatu yang maskulin namun dinginβ€”mulai memenuhi indra penciumanku.

"Komunikasi bukan hanya soal apa yang kita sampaikan, tapi bagaimana kita mempertanggungjawabkan setiap kata yang keluar," Aris berhenti tepat di samping mejaku. Aku bisa melihat ujung sepatunya yang hitam mengkilap dari sudut mataku. "Beberapa orang berpikir bahwa di balik layar ponsel, mereka bisa menjadi siapa saja. Mereka merasa aman untuk melepaskan impulsivitas mereka tanpa memikirkan konsekuensinya."

Aku menahan napas. Ini bukan lagi sekadar kuliah. Ini adalah serangan terang-terangan.

"Saudari Celine Maheswari," panggilnya tiba-tiba.

Aku tersentak, hampir menjatuhkan pulpenku. Aku mendongak dan langsung bertab**kan dengan tatapan matanya yang sedingin es namun berkilat penuh arti. Seluruh kelas kini menoleh ke arahku.

"I-iya, Pak?" suaraku terdengar mencicit, jauh dari kesan mahasiswi pemberani yang biasanya vokal.

Aris menyandarkan pinggulnya di tepi meja kosong di sampingku, melipat tangan di dada. Postur tubuhnya yang dominan membuatku merasa sangat kecil. "Menurut Anda, apakah kejujuran yang disampaikan dengan cara yang salah tetap bisa dianggap sebagai sebuah integritas? Atau itu hanyalah bentuk ketidaksopanan yang dibungkus dengan alasan 'spontanitas'?"

Pertanyaan itu terasa seperti tamparan. Aku tahu dia sedang membicarakan pesan WhatsApp-ku. Dia sedang membedah kesalahanku di depan semua orang tanpa menyebutkan det**lnya.

Aku menelan ludah, mencoba mencari sisa-sisa keberanian di dalam diriku. "Menurut saya, Pak... kejujuran adalah dasar dari integritas. Tapi... cara menyampaikannya memang menunjukkan tingkat kedewasaan seseorang."

Aris menaikkan satu alisnya. Sudut bibirnya terangkat sedikit, menciptakan seringai tipis yang lebih mirip tantangan daripada senyuman. "Kedewasaan, ya? Jadi, apakah Anda menganggap diri Anda sudah c**up dewasa untuk menanggung konsekuensi dari setiap pesan yang Anda kirimkan?"

Suasana kelas mendadak terasa mencekam. Teman-temanku mulai berbisik-bisik, bingung dengan arah pembicaraan yang terasa sangat personal ini. Aku mengepalkan tangan di bawah meja. "Saya selalu berusaha mempertanggungjawabkan perbuatan saya, Pak."

"Bagus," Aris berdiri tegak kembali, melepaskan tekanan fisiknya dariku. "Kalau begitu, temui saya di ruangan saya setelah kelas ini selesai. Kita perlu membahas 'proyek khusus' untuk memperbaiki nilai etika Anda yang sepertinya butuh perhatian ekstra."

Ia berbalik dan kembali ke depan kelas tanpa menunggu jawabanku, melanjutkan kuliah seolah-olah tidak baru saja menjatuhkan bom di atas kepalaku. Aku terpaku di tempat dudukku, merasa seolah-olah seluruh oksigen di ruangan itu baru saja disedot keluar.

Proyek khusus? Ini bukan lagi sekadar tekanan akademik. Ini adalah jebakan.

Saat kelas berakhir, Aris mengemasi barang-barangnya dengan tenang. Sebelum melangkah keluar pintu, ia berhenti sejenak dan menoleh ke arahku yang masih mematung di barisan belakang.

"Jangan terlambat, Celine," ucapnya pelan, namun c**up jelas untuk membuat bulu kudukku merinding. "Ingat, saya bukan tipe orang yang suka menunggu. Sama seperti Anda yang tidak suka menunggu untuk mengirimkan sumpah serapah itu, bukan?"

Dia kemudian menghilang di balik pintu, meninggalkanku dengan rasa mual di perut dan misteri tentang "kejadian di kafe" yang kini terasa semakin mendesak untuk dipecahkan. Aku harus menghadapi pria itu sendirian, dan aku tahu, pintu ruangannya nanti adalah pintu ma**k menuju sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar nilai D.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca