Unsent Message: Jebakan Sang Dosen

Bab 4: Bab 4 - Menemui Aris di ruangannya untuk meminta maaf

Pengaturan Membaca

Lant** empat gedung fakultas terasa lebih sunyi dari biasanya, atau mungkin itu hanya halusinasiku karena detak jantungku sendiri berdentum begitu keras di telinga. Aku berdiri di depan pintu kayu jati yang kokoh dengan papan nama perak yang meng***p: *Aris Pratama, M.H.*. Nama itu sekarang tidak lagi sekadar nama dosen di kartu rencana studiku, melainkan sumber mimpi buruk yang baru saja kumulai dengan ujung jempolku sendiri.

Tanganku terangkat, menggantung di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya mengetuk pelan. Tidak ada jawaban. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan perutku yang mulas bukan main.

"Ma**k."

Suara bariton itu terdengar dingin, datar, dan sangat berwibawa. Aku mendorong pintu perlahan. Aroma kopi hitam yang kuat bercampur dengan wangi maskulin yang samar—sesuatu yang mengingatkanku pada aroma hutan setelah hujan—langsung menyergap indra penciumanku. Aris sedang duduk di balik meja kerjanya yang sangat rapi. Ia tidak mendongak, matanya tetap tertuju pada tumpukan berkas di hadapannya.

Aku melangkah ma**k, merasa setiap langkah sepatuku di atas lant** parket terdengar seperti vonis hukuman mati. "Permisi, Pak Aris."

Pria itu meletakkan pulpennya. Perlahan, ia mengangkat wajah. Kacamata berbingkai tipis itu bertengger di hidungnya yang bangir, membingkai sepasang mata tajam yang seolah-olah bisa menguliti pikiranku dalam sekejap. Ia menyandarkan punggung ke kursi kerjanya, menautkan jari-jari tangannya di atas meja.

"Celine Maheswari," ucapnya pelan, namun namaku terdengar seperti sebuah ancaman di bibirnya. "Ada urusan apa mahasiswi yang sangat 'sibuk' ini menemuiku?"

Aku menelan ludah dengan susah payah. "Saya... saya ingin meminta maaf secara langsung, Pak. Mengenai pesan yang saya kirimkan kemarin malam. Itu benar-benar sebuah kesalahan yang fatal. Saya tidak bermaksud..."

"Tidak bermaksud mengirimkannya padaku, atau tidak bermaksud mengat** saya 'dosen arogan yang butuh terapi kasih sayang'?" Aris memotong dengan nada sarkasme yang kental. Ia menarik sebuah map dari samping dan membukanya tanpa mengalihkan pandangan dariku.

Wajahku terasa panas membara. Aku yakin saat ini kulitku sudah semerah tomat matang. "Keduanya, Pak. Saya terbawa emosi dan... saya benar-benar menyesal."

Aris mendengus pendek, sebuah tawa kering yang tidak mencapai matanya. Ia bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja, dan berhenti tepat di depanku. Tinggi badannya yang menjulang membuatku merasa sangat kecil. Ia melipat lengan di dada, menatapku dengan intensitas yang membuat lututku sedikit lemas.

"Maaf adalah kata yang terlalu murah di dunia saya, Celine," bisiknya, suaranya kini lebih rendah namun lebih tajam. "Kamu pikir dengan datang ke sini, memasang wajah memelas, dan mengucapkan satu kalimat penyesalan, maka jejak digital dan ketidaksopananmu akan hilang begitu saja?"

"Lalu saya harus melakukan apa agar Bapak memaafkan saya?" tanyaku dengan suara yang mulai bergetar. Aku benci betapa impulsifnya aku semalam, dan aku lebih benci lagi betapa lemahnya aku di hadapannya sekarang.

Aris kembali ke mejanya, mengambil sebuah bundel kertas yang sangat tebal—mungkin sekitar lima ratus halaman—dan membantingnya ke atas meja dengan suara *b**ak* yang membuatku terlompat.

"Ini adalah draf kompilasi ka**s hukum perdata yang perlu diverifikasi ulang referensinya untuk buku penelitian saya," katanya dingin. "Saya ingin kamu merangkum, mengecek keabsahan setiap pasal yang dikutip, dan membuat daftar pustaka yang sempurna. Semuanya harus diketik ulang dan dianalisis dalam bentuk laporan setebal minimal lima puluh halaman."

Aku membelalak. "Lima puluh halaman? Pak, itu tugas untuk satu semester, dan saya punya kuliah lain—"

"Siapa yang bilang ini tugas semesteran?" Aris menyilangkan kaki, senyum tipis yang tampak kejam tersungging di sudut bibirnya. "Saya mau laporan ini ada di meja saya hari Senin pagi pukul tujuh. Jika ada satu saja salah ketik atau salah kutip, saya anggap kamu gagal di mata kuliah saya. Tidak ada negosiasi."

"Senin?!" pekikku tertahan. "Ini sudah Jumat sore, Pak! Itu mustahil!"

Aris berdiri lagi, kali ini ia melangkah mendekat hingga jarak kami hanya tersisa beberapa inci. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya dan aroma tajam yang mengintimidasi itu lagi. Ia membungkuk sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan wajahku.

"Kamu punya banyak energi untuk menyumpah di pesan singkat, jadi saya a**msikan kamu punya energi ekstra untuk begadang," bisiknya tepat di depan wajahku. Napasnya terasa hangat di kulitku, membuat bulu kudukku meremang bukan hanya karena takut. "Anggap ini sebagai 'terapi' untuk emosimu yang tidak stabil itu."

Ia lalu terdiam sejenak, matanya menatap mataku dengan tatapan yang sulit diartikan—ada kemarahan, tapi ada juga sesuatu yang lain yang jauh lebih dalam dan gelap.

"Dan satu lagi, Celine," tambahnya sambil menarik diri. "Jangan berpikir saya memberikan ini hanya karena pesan itu. Saya melakukannya karena kamu berutang lebih banyak dari sekadar permintaan maaf atas apa yang terjadi di kafe malam itu. Kamu benar-benar berpikir bisa kabur begitu saja setelah apa yang kamu lakukan padaku saat kamu mabuk?"

Jantungku seolah berhenti berdetak. Kafe? Mabuk? Aku mencoba menggali ingatan malam itu, namun hanya potongan bayangan buram yang muncul. Aris mengambil bundel kertas itu dan menjejalkannya ke pelukanku dengan kasar.

"Pergi sekarang. Jangan buang-buang waktumu yang berharga."

Aku memeluk bundel kertas berat itu, merasa seolah-olah sedang memeluk batu nisan untuk akhir masa mudaku yang tenang. Saat aku berbalik menuju pintu dengan langkah gont**, suaranya kembali terdengar, lebih dingin dari sebelumnya.

"Celine?"

Aku menoleh perlahan.

"Jangan pernah mematikan ponselmu. Saya mungkin akan butuh 'update' progresmu di tengah malam."

Aku keluar dari ruangan itu dengan perasaan hancur. Saat pintu tertutup di belakangku, aku baru menyadari satu hal yang mengerikan. Aris Pratama tidak hanya ingin menghukumku secara akademik. Dia sedang memburu sesuatu yang tidak aku ingat, dan tugas g*** ini hanyalah cara agar dia bisa terus mengikatku di bawah pengawasannya.

Apa yang sebenarnya terjadi di kafe malam itu? Dan kenapa rasa takutku mulai bercampur dengan rasa penasaran yang berbahaya?

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca