Unsent Message: Jebakan Sang Dosen

Bab 5: Bab 5 - Menjelaskan sudut pandangnya mengenai pertemuan...

Pengaturan Membaca

Cahaya temaram dari lampu meja kerja di ruang dosen itu adalah satu-satunya hal yang menemani Aris malam ini. Di hadapannya, tumpukan tugas mahasiswa semester tiga berserakan, namun matanya terpaku pada satu lembar kertas di tumpukan paling atas. Nama *Celine Maheswari* tertulis di sana dengan tulisan tangan yang sedikit miring dan terburu-buru—sangat mencerminkan pemiliknya.

Aku menyandarkan punggung ke kursi kulit yang dingin, memijat pangkal hidungku yang berdenyut. Bayangan wajah Celine yang pucat pasi saat aku membalas pesannya tadi siang masih tertinggal di pelupuk mata. Dia pikir aku menghukumnya karena kata-kata kasarnya di pesan singkat itu. Dia pikir aku hanya dosen tiran yang hobi mencari kesalahan.

Dia tidak tahu bahwa setiap kali aku menatapnya di kelas, aku melihat bayang-bayang seorang gadis yang hancur di bawah guyuran hujan tiga bulan lalu.

Malam itu, Kafe *Blue Hour* hampir tutup. Aroma kopi pahit bercampur dengan bau tanah basah karena hujan badai di luar. Aku duduk di sudut paling gelap, mencoba melarikan diri dari tumpukan jurnal penelitian yang tak kunjung usai. Dan di sanalah dia.

Celine.

Dia tidak seperti mahasiswi impulsif yang aku hadapi sekarang. Malam itu, dia tampak seperti gelas kaca yang baru saja dihempaskan ke lant** beton. Rambutnya berantakan, maskaranya luntur membentuk garis hitam di pipinya yang memerah. Dia duduk di meja dekat jendela, menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong sebelum akhirnya terisak—suara tangis yang tertahan namun terdengar sangat menyakitkan.

Aku ingat bagaimana jemarinya yang gemetar memegang cangkir cokelat panas yang sudah mendingin. Dia berbicara pada dirinya sendiri, atau mungkin pada seseorang di ujung telepon yang tidak kunjung menjawab. "Kenapa selalu aku yang salah? Kenapa tidak ada yang mau mendengarkan?" gumamnya lirih, nyaris tenggelam oleh suara guntur.

Saat itu, aku seharusnya berdiri. Sebagai manusia, aku seharusnya menghampirinya, menawarkan tisu, atau setidaknya bertanya apakah dia baik-baik saja. Namun, aku terpaku. Aku melihatnya bangkit dengan gerakan limbung, menyambar tasnya, dan berlari menembus hujan tanpa payung.

Aku mengikutinya sampai ke pintu kafe, melihat siluetnya menghilang di kegelapan jalanan yang licin. Ada dorongan kuat untuk mengejarnya, memastikan dia tidak tertab**k kendaraan atau pingsan di pinggir jalan. Namun, logika si****ku menang. *Dia orang asing, Aris. Jangan ikut campur urusan orang lain.*

Penyesalan itu menghantuiku selama berminggu-minggu. Rasa bersalah karena membiarkan seseorang yang begitu rapuh pergi sendirian ke dalam badai.

Lalu, di hari pertama semester baru, dia muncul di kelasku.

Celine Maheswari. Dia tampak berbeda—lebih berisik, lebih berani, dan penuh dengan pertahanan diri yang dibangun dari sikap impulsif. Dia tidak mengenaliku. Baginya, aku hanyalah Aris Pratama, dosen baru yang dingin dan killer. Dia tidak tahu bahwa aku adalah pria yang menyaksikannya hancur malam itu.

Aku menarik laci meja kerjaku, mengambil sebuah korek api perak yang tertinggal di meja kafe malam itu. Benda itu milik Celine; aku melihatnya menjatuhkannya saat dia terburu-buru pergi. Aku memutar-mutar pemantik itu di jemariku.

Pesan kasar yang dia kirimkan kemarin... sejujurnya, itu tidak mengejutkanku. Aku sengaja menekannya di kelas. Aku sengaja memberikan tugas tambahan dan kritik tajam pada setiap argumennya. Bukan karena aku membencinya. Justru sebaliknya. Aku ingin dia berhenti menjadi gadis yang ceroboh. Aku ingin dia belajar bahwa di dunia ini, bertindak tanpa berpikir hanya akan membuatnya hancur berkali-kali.

"Kau benar-benar tidak ingat, Celine?" gumamku pada kesunyian ruangan.

Aku teringat ekspresi wajahnya saat aku mengatakan bahwa dia lupa siapa aku. Ada ketakutan di matanya, tapi juga rasa ingin tahu yang besar. Dia mulai menggali, aku tahu itu. Dia akan mencoba mencari tahu apa yang terjadi malam itu, dan itu memang tujuanku.

Namun, ada bagian dari diriku yang merasa muak dengan caraku sendiri. Aku menggunakan posisiku sebagai dosen untuk mengikatnya dalam rasa bersalah, hanya karena aku terlalu pengecut untuk mengakui bahwa aku terobsesi pada kekacauan yang dia miliki. Aku ingin memperbaiki hidupnya yang berantakan, atau mungkin, aku hanya ingin memastikan bahwa kali ini, akulah yang akan memegang tangannya sebelum dia sempat berlari ke tengah hujan lagi.

Ponselku di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi ma**k. Bukan dari Celine, melainkan dari dekan fakultas yang menanyakan laporan kemajuan akademik mahasiswa tingkat dua. Aku menghela napas panjang, menutup layar laptopku dengan kasar.

Pikiranku kembali pada pesan 'br******' yang dia kirimkan. Kata-katanya tajam, namun di balik sumpah serapah itu, aku bisa merasakan kejujurannya yang te*******. Dia membenciku, dan itu jauh lebih baik daripada dia mengabaikanku.

Aku berdiri, meraih jas hitamku yang tersampir di kursi. Saat aku berjalan menuju pintu, langkahku terhenti di depan cermin besar di lorong departemen. Aku melihat pria yang dingin, terkontrol, dan tanpa celah. Namun, hanya aku yang tahu bahwa di dalam sini, ada ego yang terluka karena melihat seorang mahasiswi yang begitu berantakan bisa mengusik ketenanganku sedalam ini.

Besok adalah kelas bimbingan individunya. Aku sudah menyiapkan skenario untuk membuatnya tetap berada di bawah pengawasanku. Namun, sebuah keraguan menyelinap. Bagaimana jika dia ingat? Bagaimana jika dia ingat bahwa pria yang kini menyiksanya dengan nilai dan kedisiplinan adalah pria yang sama yang hanya diam menonton saat dia menangis tersedu-sedu di kafe itu?

Langkah kakiku bergema di koridor kampus yang sepi. Aku harus berhati-hati. Permainan ini mulai berbahaya, bukan hanya untuk masa depan akademiknya, tapi juga untuk integritas yang selama ini kujaga mati-matian.

Tepat saat aku sampai di parkiran, ponselku bergetar lagi. Kali ini, sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak kukenal, namun aku tahu persis siapa pengirimnya.

*‘Pak Aris, saya butuh bicara soal pesan itu. Secara pribadi. Tolong.’*

Aku menatap layar itu c**up lama. Sudut bibirku terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang tidak mengandung keramahan sedikit pun. Dia terpancing.

Aku ma**k ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan membalas pesannya dengan satu kalimat singkat yang aku tahu akan membuatnya tidak bisa tidur sepanjang malam.

*‘Temui saya di kafe Blue Hour jam delapan malam ini. Jangan terlambat satu detik pun, Celine.’*

Aku menginjak pedal gas, meninggalkan area kampus dengan perasaan campur aduk. Aku akan membawanya kembali ke tempat semuanya dimulai. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkannya pergi begitu saja sebelum dia membayar semua kekacauan yang dia timbulkan di kepalaku.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca