Lampu pendar di sudut perpustakaan pusat ini mulai berkedip-kedip, seolah-olah ikut lelah menemaniku terjaga di jam sebelas malam. Aroma kertas tua dan pembersih lant** yang tajam mera**ki indra penciumanku, membuat kepalaku sedikit pening. Di depanku, tumpukan jurnal hukum setebal bantal sofa menatapku dengan angkuh. Ini adalah hukumanβatau yang disebut Pak Aris sebagai "tugas pengayaan"βakibat ketidaksengajaanku mengirimkan pesan makian tempo hari.
Aku menghela napas panjang, mengikat rambutku asal-asalan ke atas hingga menyisakan beberapa helai yang menggelitik leher. "Analisis Yurisprudensi dan Etika Profesi," gumamku sambil mencoret-coret pinggiran kertas catatanku dengan frustrasi. Huruf-huruf di layar laptop mulai tampak seperti semut yang menari-nari. Mataku perih, dan jari-jariku terasa kaku.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang teratur memecah kesunyian lorong rak buku nomor tujuh. Iramanya berat, mantap, dan entah mengapa terdengar sangat familier di telingaku. Aku membeku. Hanya ada satu orang di kampus ini yang berjalan dengan otoritas sedingin itu.
"Halaman empat puluh dua, paragraf ketiga. Kau melewatkan poin krusial tentang objektivitas hakim di sana."
Suara bariton itu muncul tepat di belakang bahuku. Aku tersentak, hampir saja menjatuhkan bolpoin yang kupegang. Saat menoleh, aku langsung berhadapan dengan sosok Aris Pratama. Ia tidak mengenakan kemeja formal dan dasi seperti saat di kelas. Malam ini, ia memakai sweter *turtleneck* berwarna hitam yang dipadukan dengan kacamata berbingkai tipis. Penampilannya jauh lebih muda, tapi auranya tetap saja mengintimidasi.
"Pak Aris? Bapak masih di sini?" tanyaku dengan suara yang sedikit serak.
Ia tidak menjawab pertanyaanku. Alih-alih, ia menarik kursi di seberang mejaku dan duduk tanpa permisi. Ia meletakkan sebuah buku tebal bersampul kulit yang tampaknya merupakan referensi langka. "Perpustakaan adalah tempat favoritku saat malam hari. Terlalu banyak kebisingan di luar sana, Celine. Sama seperti isi kepalamu yang berantakan itu."
Aku mengerutkan kening, mencoba menelan rasa kesalku. "Kepalaku tidak berantakan. Aku hanya sedang mencoba memahami kenapa Bapak memberikan tugas sebanyak ini dalam waktu dua hari."
Aris menyandarkan punggungnya, menatapku lurus-lurus. Cahaya lampu yang minim menciptakan bayangan tajam di tulang pipinya yang tegas. "Karena kau punya potensi untuk menjadi hebat, tapi kau terlalu sibuk bermain-main dengan impulsmu. Pesan singkat yang kau kirim itu adalah bukti bahwa kau bertindak sebelum berpikir."
Wajahku terasa panas. Ingatan tentang pesan "Dosen g*** yang kurang piknik" itu kembali menghantuiku. "Saya sudah minta maaf soal itu, Pak. Secara tidak sengaja, saya..."
"Tidak sengaja?" Aris memotong ucapanku, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang tidak mencapai matanya. Ia mencondongkan tubuh ke depan, melintasi meja yang memisahkan kami. Jarak kami sekarang sangat dekat hingga aku bisa mencium aroma kayu cendana dan kopi pahit yang menguar dari tubuhnya. "Atau mungkin itu adalah kejujuran yang kau sembunyikan di balik topeng mahasiswi penurut?"
Aku terpaku, tidak mampu memalingkan wajah. Jantungku berdegup kencang, menghantam rongga dada dengan liar. Ada sesuatu di matanyaβkilatan yang bukan sekadar amarah dosen kepada mahasiswanya. Ada rasa ingin tahu, ada dominasi, dan ada sesuatu yang gelap yang tidak bisa kubaca.
"Bapak selalu bicara seolah-olah mengenal saya lebih dari siapapun," tantangku, mencoba merebut kembali kendali atas diriku sendiri. "Kita baru bertemu di semester ini."
Aris melepaskan kacamatanya, menggosok pangkal hidungnya pelan sebelum kembali menatapku dengan intensitas yang lebih tajam. "Kau benar-benar tidak ingat, ya? Malam itu di Kafe Deluna, enam bulan yang lalu. Saat kau menangis tersedu-sedu karena diputuskan pacarmu, lalu menumpahkan segelas *espresso* dingin ke sepatu seseorang yang bahkan tidak kau kenal."
Napas melompat di tenggorokanku. Ingatan itu menghantamku seperti godam. Kafe Deluna. Malam yang memalukan itu. Aku memang menab**k seseorang saat aku berlari keluar sambil menangis, tapi aku tidak pernah melihat wajah pria itu karena pandanganku kabur oleh air mata.
"Itu... Bapak?" bisikku tak percaya.
Aris bangkit dari duduknya, menutup buku referensinya dengan dentuman pelan yang menggema di ruangan sunyi itu. Ia berdiri tegak, menjulang di hadapanku. "Aku menghabiskan sisa malam itu dengan sepatu yang lengket dan melihat seorang gadis asing menghancurkan dirinya sendiri di trotoar. Dan sekarang, gadis itu duduk di depanku sebagai mahasiswiku, masih dengan kecerobohan yang sama."
Ia melangkah mendekat ke arahku, mengitari meja hingga ia berdiri tepat di samping kursiku. Aku menengadah, merasa sangat kecil di bawah bayangannya. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang dan dingin menyentuh daguku, memaksaku untuk terus menatapnya.
"Tugas ini bukan sekadar hukuman akademik, Celine," bisiknya, suaranya kini terdengar rendah dan berbahaya di dekat telingaku. "Ini adalah cara agar kau belajar memperhatikan setiap det**l. Karena jika kau terus ceroboh, bukan hanya nilaimu yang akan hancur, tapi juga hal-hal lain yang jauh lebih berharga."
Sentuhannya di daguku membuat seluruh tubuhku meremang. Aku ingin menepis tangannya, tapi tubuhku seolah dikhianati oleh reaksiku sendiri. Aku terpaku di tempat, terjebak dalam pusaran emosi yang membingungkan antara takut dan rasa penasaran yang mematikan.
Aris melepaskan tangannya, lalu merapikan letak kacamatanya kembali seolah tidak terjadi apa-apa. Ia berbalik dan mulai berjalan menjauh menuju pintu keluar perpustakaan.
"Selesaikan analisis itu sebelum subuh. Aku akan menunggunya di meja kantorku jam delapan tepat," serunya tanpa menoleh lagi.
Aku terduduk lemas, memandangi punggungnya yang menghilang di balik kegelapan lorong rak buku. Tanganku yang gemetar meraba dagu yang baru saja ia sentuh. Pikiranku berkecamuk. Jika dia mengenaliku sejak awal, kenapa dia baru mengatakannya sekarang? Dan kenapa tatapannya tadi tidak terasa seperti tatapan seorang dosen yang ingin mendidik, melainkan seperti pemangsa yang baru saja menemukan kembali buruannya yang sempat hilang?
Aku menatap kembali layar laptopku, tapi huruf-huruf itu tidak lagi berarti apa-apa. Yang tersisa hanyalah pertanyaan besar yang menggetarkan batinku: apakah ini murni tentang akademik, ataukah Aris sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih pribadi untuk menjeratku?
Tiba-tiba, ponselku bergetar di atas meja. Sebuah pesan ma**k dari nomor yang tidak kukenal, namun aku tahu persis siapa pengirimnya.
*Jangan berpikir untuk melarikan diri lagi malam ini. Aku memperhatikanmu dari kamera pengawas.*
Aku menoleh dengan panik ke arah kamera CCTV di sudut langit-langit. Lampu merah kecil di kamera itu berkedip, seolah-olah adalah mata Aris yang sedang menertawakan ketakutanku dari suatu tempat yang tidak bisa kujangkau.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!