Layar ponselku yang retak di sudut kanan bawah terasa panas di genggaman, seolah-olah pesan singkat dari Aris Pratama beberapa jam lalu masih memancarkan radiasi yang membakar kulitku. *'Ternyata kau benar-benar lupa siapa aku setelah kejadian di kafe malam itu.'*
Kalimat itu berputar di kepalaku layaknya kaset rusak. Kejadian di kafe? Aku mencoba memeras memori di otakku, tapi yang muncul hanyalah potongan-potongan buram: aroma kopi yang kuat, hujan deras di luar kaca, dan... entahlah. Rasanya seperti mencoba menyusun puzzle dengan potongan yang hilang.
Aku tidak tahan lagi. Rasa penasaran ini jauh lebih menyiksa daripada ancaman nilai E.
Langkah kakiku membawaku ke area *lounge* fakultas, tempat biasanya para mahasiswa tingkat akhir berkumpul untuk sekadar pamer progres skripsi atau bergosip tentang birokrasi kampus. Mataku menyisir ruangan, mencari satu orang yang bisa memberiku jawaban tanpa banyak bertanya.
Sosok itu ada di sana, duduk di pojok dengan laptop yang penuh stiker. Kak Damar, asisten laboratorium senior yang sudah menghuni kampus ini hampir enam tahunβpria yang tahu setiap sejarah kelam dosen di fakultas ini.
"Kak Damar," sapaku, mencoba mengatur napas agar tidak terdengar seperti orang yang baru saja lari maraton.
Damar mendongak, kacamatanya melorot sedikit di batang hidungnya yang berminyak. "Oh, Celine. Kenapa? Mau minta bocoran soal ujian kalkulus?"
"Bukan," aku duduk di hadapannya tanpa diundang. "Aku mau tanya soal... Aris Pratama."
Seketika, jemari Damar yang tadinya lincah menari di atas *keyboard* berhenti. Ia melepas kacamata, mengusap wajahnya, lalu menatapku dengan tatapan kasihan yang membuat bulu kudukku meremang.
"Pak Aris? Kau dapat kelas dia?"
Aku mengangguk pelan. "Dia dosen baru, kan? Kenapa reaksimu seolah-olah aku baru saja didiagnosis penyakit mematikan?"
Damar menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang berderit. "Dia bukan sekadar dosen baru, Celine. Dia itu alumni legendaris fakultas ini. Dulu, sebelum dia ambil doktoral di Jerman, dia adalah asisten kesayangan dekan. Lulusan terbaik dalam sejarah fakultas dengan IPK sempurna. Tidak ada satu pun nilai B di transkripnya."
Aku menelan ludah. "Oke, jadi dia jenius. Terus?"
"Masalahnya bukan cuma otaknya," Damar merendahkan suaranya, condong ke depan hingga aku bisa mencium aroma kopi saset dari napasnya. "Dia dijuluki 'The Iceberg'. Dingin, presisi, dan benar-benar tidak punya empati. Ada rumor kalau dia pernah membuat seorang mahasiswi menangis histeris di depan kelas hanya karena salah meletakkan tanda koma dalam laporan praktikum. Dia tidak peduli siapa kau, siapa orang tuamu, atau seberapa cantik kau mencoba merayu. Baginya, manusia itu hanya kumpulan variabel yang harus diatur."
Aku teringat bagaimana Aris menatapku di kelasβtajam, tanpa emosi, seolah dia sedang membedah isi kepalaku dengan laser. Jika dia sedingin itu, kenapa dia mengirimkan pesan ambigu tentang malam di kafe itu? Apakah itu bagian dari permainannya untuk menghancurkan mental mahasiswi impulsif sepertiku?
"Apa dia... punya masalah pribadi dengan mahasiswa tertentu?" tanyaku ragu-ragu.
Damar tertawa pendek, suara yang kering tanpa humor. "Aris Pratama tidak punya 'masalah pribadi'. Dia terlalu logis untuk itu. Tapi kalau dia sudah menandaimu, lebih baik kau mengundurkan diri dari mata kuliahnya sekarang juga sebelum nilai IPK-mu terjun bebas ke jurang."
"Dia menyebutkan sesuatu tentang sebuah kafe," gumamku, lebih kepada diriku sendiri.
Mata Damar menyipit. "Kafe? Aris bukan tipe orang yang nongkrong di kafe. Dia g*** kerja. Satu-satunya tempat dia terlihat selain kampus atau perpustakaan adalah kafe kecil di dekat stasiun, itu pun hanya kalau dia butuh kafein dosis tinggi untuk lembur."
Jantungku berdegup kencang. Kafe dekat stasiun. Tempat itu... aku pernah ke sana dua minggu lalu, saat aku mabuk kesedihan setelah diputuskan pacar lewat telepon. Ingatanku mulai memicu sebuah kilasan pendek: lant** yang licin karena hujan, aku yang terhuyung-huyung, dan seseorang dengan mantel gelap yang menangkapku sebelum kepalaku membentur meja kayu.
"Kak, apa dia pernah terlihat... emosional?"
"Pernah satu kali," Damar mengetuk-ngetuk meja dengan pulpennya. "Waktu dia masih jadi asisten dosen. Ada insiden di mana dia hampir dipecat karena memukul seorang mahasiswa di luar kampus. Tidak ada yang tahu alasannya, korbannya pun bungkam. Tapi Aris tetap bertahan karena otaknya terlalu berharga bagi universitas. Sejak itu, dia jadi sepuluh kali lipat lebih tertutup."
Informasi itu menghantamku seperti bongkahan es. Dingin, kaku, tanpa perasaan, tapi punya sisi temperamental yang tersembunyi. Siapa sebenarnya pria yang kukirimi pesan makian itu?
Ponselku di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi email ma**k.
*Dari: Aris Pratama*
*Subjek: Tugas Perbaikan*
*Saudari Celine Maheswari, segera temui saya di ruangan saya pukul lima sore ini. Jangan terlambat sedetik pun jika Anda masih ingin melihat nama Anda di daftar absensi minggu depan. Kita punya urusan yang belum selesai terkait 'kejadian di kafe' itu.*
Aku melihat jam di dinding fakultas. Pukul 16.45.
Keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku. Damar benar, Aris Pratama adalah gunung es. Namun, aku baru saja menyadari bahwa aku tidak hanya menab**k gunung es itu; aku sedang tenggelam jauh ke dalam laut gelap di bawahnya.
Aku berdiri dengan kaki gemetar, meninggalkan Damar yang masih menatapku heran. Aku harus menghadapi pria itu. Bukan hanya demi nilaiku, tapi demi mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi malam ituβdan mengapa seorang pria sedingin Aris seolah-olah sedang menungguku untuk ma**k ke dalam perangkapnya.
Satu hal yang pasti, Aris tidak ingin mendisiplinkanku. Dia ingin mengendalikan hidupku. Dan saat aku melangkah menuju gedung departemen, aku merasa seperti domba yang dengan sukarela berjalan ke sarang serigala yang sedang lapar.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!