Suara denting sendok yang beradu dengan cangkir porselen di ruang tunggu dosen itu biasanya terdengar seperti melodi yang menenangkan bagi Aris. Namun, sore ini, bunyi itu tak ubahnya ketukan palu yang memicu sakit kepala di pelipisnya. Aris menyesap kopinya yang sudah mendingin, matanya tak lepas dari sosok gadis yang berdiri di dekat meja prasmanan kecil di sudut ruangan.
Celine Maheswari. Gadis itu tampak kikuk dalam balutan kemeja putih yang sedikit kebesaran dan rok span hitam yang ia tarik ke bawah setiap beberapa menit sekali. Sebagai asisten mahasiswa untuk seminar internasional besok, dia seharusnya sibuk menyusun map materi, bukan malah menjadi pusat perhatian di sana.
"Gadis itu... mahasiswi bimbinganmu, Ris?"
Suara berat di sampingnya membuat Aris menoleh. B**mantyo, rekan sesama dosen dari fakultas sebelah yang dikenal dengan reputasi 'penakluk' mahasiswi, berdiri di sana dengan senyum miring yang tidak disukai Aris. B**m meletakkan cangkirnya dan merapikan dasinya dengan gerakan yang terlalu disengaja.
"Dia mahasiswa di kelasku," jawab Aris singkat. Suaranya sedingin es, namun matanya kembali tertuju pada Celine.
"Manis juga. Tipe yang terlihat berantakan tapi justru menantang untuk dirapikan," gumam B**m, lalu tertawa kecil yang terdengar merendahkan di telinga Aris. "Aku akan menyapanya sebentar. Sepertinya dia butuh bantuan membawa tumpukan dokumen itu."
Aris tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan bagaimana B**m berjalan mendekati Celine dengan langkah penuh percaya diri. Aris bisa melihat perubahan ekspresi Celine dari kejauhan. Gadis itu mendongak, matanya sedikit membelalak, lalu ia memaksakan sebuah senyum sopan yang terlihat sangat palsu.
B**m tidak hanya menyapa. Pria itu berdiri terlalu dekat, menyerobot ruang pribadi Celine hingga gadis itu harus melangkah mundur dan terbentur meja. Aris melihat tangan B**m bergerak, bukan untuk membantu mengambil dokumen, melainkan menyentuh ujung rambut Celine yang terlepas dari ikatannya.
Rahang Aris mengeras. Ia merasakan denyut amarah yang tajam di balik dadanya. *Beraninya dia.*
Ia meletakkan cangkirnya di meja dengan suara yang c**up keras hingga menarik perhatian beberapa orang di dekatnya. Tanpa memedulikan tatapan heran rekan-rekannya, Aris melangkah lebar membelah ruangan.
"...tidak usah sungkan, Celine. Ruanganku selalu terbuka kalau kau butuh tips agar nilaimu di kelas Pak Aris yang kaku itu bisa sedikit lebih baik," suara B**m terdengar samar saat Aris mendekat. Tangan B**m kini merayap turun, seolah hendak menepuk bahu Celine dengan cara yang tidak pantas.
"Pak B**mantyo."
Suara Aris memotong udara seperti pisau. B**m tersentak, tangannya tertahan di udara beberapa sentimeter dari bahu Celine. Celine sendiri tampak seolah baru saja melihat malaikat pencabut nyawaβatau penyelamat, Aris tidak yakin yang mana.
"Ris? Ada apa?" B**m mencoba tertawa, namun ada nada gugup yang terselip.
"Dekan mencarimu di ruang rapat. Ada masalah dengan laporan akreditasi yang kau kumpulkan pagi tadi," dusta Aris tanpa berkedip. Matanya yang tajam menatap B**m tepat di manik mata, memberikan peringatan tak kasatmata yang hanya bisa dipahami oleh sesama pria.
B**m berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya. "Ah, benarkah? Kalau begitu aku pergi dulu. Celine, sampai nanti."
Begitu B**m menjauh, suasana di antara Aris dan Celine mendadak berubah menjadi tegang dengan cara yang berbeda. Aris bisa melihat napas Celine yang memburu dan jemarinya yang gemetar saat memegang map.
"Apa yang kau lakukan di sini, Celine?" tanya Aris, nadanya kembali otoriter, meskipun jantungnya masih berpacu karena amarah yang berusaha ia redam.
"S-saya sedang menyusun materi untuk besok, Pak," jawab Celine gagap. Ia tidak berani menatap mata Aris. "Pak B**m tadi hanya menawarkan bantuan."
"Bantuan?" Aris maju satu langkah, memperpendek jarak di antara mereka hingga ia bisa mencium aroma stroberi dari sampo Celineβaroma yang sama dengan malam di kafe itu. "Kau terlalu naif jika menganggap tindakannya tadi adalah bantuan. Berapa kali aku harus mengatakannya? Jangan biarkan siapa pun memperlakukanmu seolah kau adalah pajangan di ruangan ini."
Celine mendongak, matanya yang besar kini berkaca-kaca karena kombinasi rasa takut dan bingung. "Saya hanya mencoba sopan, Pak. Dia dosen."
"Sopan bukan berarti membiarkan dirimu dilecehkan secara verbal maupun fisik," desis Aris. Ia ingin sekali meraih tangan gadis itu, memastikan dia baik-baik saja, tapi ia tahu ada puluhan pasang mata di ruangan ini. Ia harus menjaga profesionalismenya, meski hatinya terasa seperti terbakar hebat oleh api kecemburuan yang tidak seharusnya ada.
Aris mengambil tumpukan dokumen dari tangan Celine dengan gerakan kasar yang terkontrol. "Selesaikan pekerjaanmu di perpustakaan. Ruangan ini terlalu penuh dengan orang-orang yang tidak berguna."
"Tapi, Pak..."
"Ini perintah, Celine. Bukan saran," potong Aris dingin. Ia berbalik, memunggungi gadis itu agar tidak melihat bagaimana raut wajahnya sendiri saat ini. Ia benci betapa mudahnya Celine membuatnya kehilangan kendali. Ia benci betapa ia ingin menyembunyikan gadis ini dari dunia agar tidak ada tangan kotor lain yang menyentuhnya.
Celine segera memunguti barang-barangnya dan setengah berlari keluar dari ruangan. Aris berdiri diam, menatap punggung gadis itu hingga menghilang di balik pintu kayu besar.
Ia mengambil ponsel dari saku jasnya, melihat sebuah pesan yang ma**k beberapa menit lalu dari nomor yang tidak dikenal, namun ia tahu itu adalah nomor cadangan Celine.
*Pak, maaf soal pesan yang waktu itu. Saya benar-benar tidak bermaksud...*
Aris tidak membalasnya. Jemarinya justru mengetik pesan singkat untuk asisten pribadinya.
*Cari tahu jadwal mengajar B**mantyo besok. Pastikan dia tidak berada di dekat gedung seminar internasional.*
Aris mematikan layar ponselnya. Ia tahu ia sudah melampaui batas profesionalitasnya. Ia bukan lagi sekadar dosen yang mendisiplinkan mahasiswinya. Ia adalah pria yang sedang menandai wilayahnya, dan itu adalah langkah yang sangat berbahaya.
Sambil menatap ke arah pintu yang tadi dilewati Celine, Aris bergumam pelan pada dirinya sendiri, "Kau belum tahu betapa berantakannya hidupmu jika aku benar-benar membiarkan diriku memilikimu, Celine."
Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi. Bukan pesan, melainkan sebuah pangg***n dari nomor yang sudah bertahun-tahun ia coba lupakan. Nama yang muncul di layar membuat darah Aris seketika berdesir dingin, sebuah rahasia dari masa lalu yang kini mengancam untuk menghancurkan benteng yang ia bangun di sekeliling Celine.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!