Lampu kamar kosku hanya menyala dari meja belajar ketika aku selesai memilih ratusan foto Festival Arunika. Pukul di pojok layar menunjukkan 23.48. Dita sudah tidur di ranjang sebelah dengan selimut menutupi kepala, sementara kipas kecil berputar malas dan membuat ujung kertas catatanku bergerak.
Aku menghapus foto buram, mengganti nama file, lalu memindahkan hasil terbaik ke folder panitia. Semua berjalan biasa sampai satu gambar muncul di layar.
Rendra Mahesa berdiri di samping panggung dengan jaket panitia abu-abu dan kamera menggantung di dada. Ia tidak sedang melihat ke lensa. Tatapannya tertuju pada seorang peserta yang kesulitan membawa papan display, seolah seluruh keramaian di sekitarnya tidak penting. Cahaya lampu panggung jatuh miring di wajahnya, membuat sosok yang selama ini terasa sulit didekati terlihat lebih manusiawi.
Foto itu seharusnya ma**k arsip dokumentasi. Masalahnya, entah karena salah menekan, satu salinan masih tersimpan di galeri pribadiku.
Aku menahan layar lebih lama dari yang seharusnya.
Selama dua bulan menjadi relawan dokumentasi, aku hanya berbicara dengan Rendra mengenai baterai kamera, daftar pengambilan gambar, dan revisi warna. Ia mahasiswa tingkat akhir yang dikenal tenang dan hampir tidak pernah ikut bercanda berlebihan. Aku semester dua, c**up baru untuk masih salah menyebut nama gedung. Tidak ada alasan baginya untuk mengingatku selain sebagai anak divisi foto yang sering menghindari kontak mata.
Namun malam itu, kesunyian membuat foto biasa terasa berbeda. Aku membayangkan suaranya ketika memanggil namaku tanpa kata βanggota baruβ. Membayangkan ia duduk di tepi meja, dekat tetapi tidak menyentuh, lalu menanyakan hal-hal yang tak pernah berani kujawab di kampus.
Imajinasi itu membuat napasku berubah. Aku segera mematikan layar, menarik selimut sampai dada, dan menutup mata. Tetapi bayangan jaket abu-abu, tangan di tali kamera, serta tatapan tenang itu tetap tinggal.
Beberapa menit kemudian, aku menyalakan ponsel lagi.
Rasa nyaman yang muncul membuatku malu. Malu karena sebuah foto orang lain bisa menjadi tempat persembunyian. Malu karena aku merasa seolah telah mengambil sesuatu yang tidak diberikan kepadaku, padahal foto itu berasal dari kegiatan umum dan tidak memperlihatkan apa pun yang pribadi.
Aku menekan tombol hapus.
Jempolku berhenti sebelum menyentuh konfirmasi.
Di sebelahku, Dita bergumam dalam tidur. Aku buru-buru mengecilkan cahaya layar, lalu membuka menu album tersembunyi. Aplikasi meminta nama folder baru.
Aku mengetik angka yang sedang kulihat di jam.
23.48.
Foto Rendra berpindah ke dalamnya. Layar kembali kosong, tetapi dadaku tidak ikut tenang. Rahasia itu sekarang memiliki tempat, nama, dan alasan untuk tetap ada.
Sesaat sebelum tidur, aku berjanji akan menghapusnya besok.
Janji itu terdengar ma**k akal sampai notifikasi grup panitia muncul. Pesan paling baru dikirim oleh Rendra.
Besok sore semua anggota dokumentasi kumpul di ruang editing. Maura, bawa file mentah dari kamera kedua.
Namaku tertulis jelas di sana.
Aku memandangi pesan itu, lalu menutup ponsel lebih cepat seolah ia dapat melihat apa yang baru saja kusimpan.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!