Aku datang lebih awal untuk memindahkan album resmi ke Drive Dokumentasi 2026. Rendra belum tiba. Faris berada di meja sebelah, sibuk mengedit teaser sambil memakai akun admin bersama.
Sejak perdebatan terakhir, Alya memutuskan setiap anggota harus ma**k dengan akun masing-masing. Aku menghubungkan ponsel ke komputer hanya untuk memindahkan foto pilihan. Aplikasi galeri menampilkan menu sinkronisasi yang baru diperbarui.
Album terbaru, favorit, dan rekomendasi pribadi muncul sebagai pilihan.
Aku menghapus centang semua kategori selain Festival Arunika. Setidaknya, aku merasa sudah melakukannya.
Proses transfer dimulai. Thumbnail bergerak cepat di layar. Foto panggung, booth cahaya, panitia, lalu sepersekian detik gambar Rendra dengan jaket abu-abu muncul pada bagian saran album. Bukan file penuh, hanya pratinjau dari sistem yang mengenali wajah sama.
Aku langsung mencabut kabel.
“Ada masalah?” Faris bertanya.
“Tidak.”
Ia melirik layar yang sudah kembali ke desktop. “Tadi itu Kak Rendra?”
“Foto kegiatan.”
“Di album mana?”
Aku tidak menjawab. Faris tersenyum seolah baru menemukan bahan candaan, tetapi sebelum ia berkata lebih jauh, Rendra ma**k membawa hard disk.
“Kalau pekerjaannya selesai, jangan mengganggu orang lain,” katanya kepada Faris.
Nada suaranya tenang, bukan membela secara berlebihan. Faris mengangkat tangan dan kembali ke komputer.
Rendra duduk di sampingku. “Apa yang terjadi?”
“Tidak ada.”
Ia tidak mendesak. “Baik. Tapi kamu mencabut perangkat tanpa eject. Bisa merusak file.”
Aku memeriksa drive. Album festival sudah terunggah, tetapi satu folder pratinjau sementara muncul selama proses. Namanya hanya cache_mobile. Isinya kosong ketika kubuka.
Aku menghapusnya dan mengubah seluruh pengaturan sinkronisasi. Rendra membantu memeriksa izin tanpa menyentuh ponselku. Ia menjelaskan bahwa beberapa aplikasi menampilkan thumbnail lokal meski file tidak benar-benar ma**k ke cloud.
“Jadi tidak ada yang terunggah?” tanyaku.
“Dari tampilan ini, tidak ada file penuh.”
Aku bernapas lega.
Namun Rendra menatap wajahku. “Apakah thumbnail tadi berkaitan dengan folder yang hampir terbuka malam itu?”
Pertanyaan tersebut terlalu tepat. Aku menutup laptop.
“Kakak bilang tidak akan bertanya.”
“Saya bertanya tentang risiko data, bukan isi. Kamu boleh tidak menjawab.”
Aku berdiri. “Itu tetap pertanyaan.”
Rendra mengangguk. “Benar. Maaf.”
Aku ingin pergi, tetapi ia memanggilku dengan suara lebih pelan.
“Maura, kalau ada file pribadi yang sempat muncul di perangkat panitia, kita bisa memeriksa log tanpa membuka isinya. Privasimu tidak harus ditukar dengan bantuan.”
Kalimat itu menahan langkahku. Aku hampir mengaku bahwa folder itu berisi fotonya. Hampir mengatakan bahwa bukan gambar yang memalukan, melainkan apa yang kurasakan saat melihatnya.
Namun Faris masih berada di ruangan. Suara keyboardnya terdengar terlalu teratur.
“Aku akan periksa sendiri,” kataku.
Malamnya, aku ma**k ke drive dari kamar kos. Folder cache_mobile memang sudah tidak ada. Log menunjukkan unggahan selesai dari akunku pukul 18.42 dan penghapusan tiga menit kemudian.
Aku menutup laptop, belum sepenuhnya tenang.
Di sisi lain kampus, tanpa kuketahui, akun admin Faris masih memiliki fitur pemulihan pratinjau selama dua puluh empat jam.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!