Saya menunggu sampai dua hari setelah insiden sinkronisasi sebelum mengajak Maura bicara. Saya tidak ingin pertanyaan muncul saat ia sedang panik atau ketika kami berada di ruang tertutup tanpa pilihan keluar.
Kami duduk di tangga Gedung Kreatif sore hari. Area itu ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang, c**up terbuka untuk membuat percakapan aman, tetapi c**up jauh dari pusat keramaian agar tidak terdengar orang lain.
“Saya ingin memastikan satu hal,” kata saya.
Maura langsung memegang ponselnya lebih erat.
“Bukan soal folder,” lanjut saya. “Soal kita.”
Ia menatap saya dengan campuran takut dan kesal. “Kita belum punya apa-apa.”
“Benar. Karena itu saya bertanya sebelum membuat a**msi.”
Saya melepas tali kamera dari bahu dan meletakkannya di sisi lain. Gerakan kecil untuk menunjukkan saya tidak sedang berbicara sebagai koordinator yang memberi instruksi.
“Apakah kamu suka memotret saya?” tanya saya.
Wajah Maura memerah. “Saya anggota dokumentasi.”
“Saya tahu. Pertanyaannya bukan apakah kamu menjalankan tugas.”
Ia berdiri seolah hendak pergi. Saya tidak menahan.
“Kalau pertanyaan ini membuatmu tidak nyaman, kita berhenti,” kata saya.
Maura tetap berdiri, tetapi tidak melangkah. “Kak Rendra sudah tahu jawabannya.”
“Saya melihat tatapan. Saya tidak tahu artinya.”
Ia tertawa pendek tanpa humor. “Semua orang selalu bilang tatapan terlihat jelas.”
“Saya tidak ingin menjadikan itu izin untuk mendekat.”
Kalimat tersebut membuat bahunya sedikit turun.
Maura kembali duduk, menyisakan jarak satu anak tangga. “Aku menyukai Kak Rendra.”
Pengakuan itu diucapkan sangat pelan, tetapi saya mendengarnya jelas.
Ia buru-buru melanjutkan. “Aku suka memotret karena wajah Kakak berubah saat tidak sadar dilihat. Tapi semua foto yang kupakai ada di kegiatan. Aku tidak mengikuti Kakak. Aku tidak mengambil sesuatu di ruang pribadi.”
“Saya tidak berpikir begitu.”
“Ada hal lain yang tidak mau kujelaskan.”
Saya tahu ia sedang berbicara tentang folder. Saya menahan rasa ingin tahu.
“Kamu tidak harus menjelaskan.”
Matanya menatap saya tajam, seolah sedang mencari tanda geli atau penghakiman. “Kakak tidak merasa aneh?”
“Saya merasa kita perlu jujur tentang batas. Bukan menertawakanmu.”
Saya memilih kata berikutnya dengan hati-hati. “Saya juga memperhatikan kamu. Lebih dari hubungan koordinator dan anggota. Saya tidak mengatakannya karena kamu junior dan saya takut perhatian itu terasa seperti tekanan.”
Maura menunduk. “Jadi semua pesan malam itu…”
“Bukan bagian dari tugas.”
Untuk beberapa detik, suara mahasiswa di sekitar kami menghilang dari kesadaran. Maura mengusap sisi ponselnya.
“Aku tidak tahu apakah yang kurasakan kepada Kakak nyata atau hanya sesuatu yang kubangun sendiri,” katanya.
“Kalau begitu kita jangan buru-buru memberi nama.”
Ia mengangkat wajah.
“Saya ingin mengenal Maura yang bukan hanya berada di balik kamera,” lanjut saya. “Tapi kamu boleh bilang tidak.”
Maura belum menjawab. Ponselnya bergetar. Dita menanyakan lokasi. Ia berdiri, lalu menatap saya.
“Aku belum bisa bilang iya.”
“Itu bukan berarti tidak?”
“Bukan.”
Saya mengangguk. “C**up.”
Sebelum pergi, Maura berkata, “Tentang pertanyaan tadi… aku tidak marah.”
“Baik.”
“Aku cuma malu.”
“Saya tidak bertanya untuk menertawakanmu.”
Ia menahan tatapan saya beberapa detik, kemudian berjalan turun.
Saya tidak mengejarnya. Namun untuk pertama kali, jarak yang kami jaga terasa seperti sesuatu yang dipilih bersama, bukan dinding yang tidak bisa dilewati.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!