Aku menghabiskan dua hari setelah pengakuan itu dengan menilai setiap perasaan seperti menilai foto yang akan dipublikasikan.
Apakah terlalu gelap? Apakah sudutnya menipu? Apakah aku hanya menyukai versi Rendra yang kubangun dari jauh?
Di kamar, folder 23.48 masih tersimpan. Foto pertama itu terasa berbeda sekarang. Dulu aku melihatnya sebagai jalan ma**k menuju fantasi yang tidak membutuhkan jawaban. Sekarang aku mengetahui bahwa lelaki di dalam gambar menyukai kopi pahit, selalu mengecek baterai dua kali, dan takut membuat junior merasa tertekan. Ia nyata, berarti ia bisa mengecewakan, salah bicara, atau memilih pergi.
Kenyataan lebih menakutkan daripada fantasi.
Rendra tidak mengirim pesan malam setelah percakapan di tangga. Ia hanya membalas hal-hal kerja di grup. Ruang yang diberikannya seharusnya membuatku nyaman, tetapi pukul 00.13 terasa sangat sunyi.
Pada malam ketiga, aku mengirim pesan lebih dulu.
Maura: Kak Rendra masih bangun?
Balasan datang semenit kemudian.
Rendra: Masih. Ada masalah file?
Maura: Bukan.
Tiga titik muncul, lalu hilang. Ia mungkin sedang menahan diri agar tidak bertanya terlalu cepat.
Maura: Aku ingin melanjutkan percakapan kemarin.
Rendra: Lewat chat atau bertemu besok?
Maura: Chat dulu.
Aku menulis lama. Kali ini aku tidak menghapus seluruh kalimat.
Aku memang suka Kak Rendra. Mungkin sudah terlalu lama. Tapi ada bagian dari perasaanku yang masih privat. Aku belum siap menjelaskan, dan aku takut kalau itu membuat Kakak mengira aku tidak jujur.
Balasannya datang setelah jeda.
Rendra: Jujur tidak berarti menyerahkan semua hal yang belum siap kamu bagikan.
Aku membaca kalimat itu berulang.
Maura: Lalu kita bagaimana?
Rendra: Pelan. Tanpa memaksa definisi.
Aku tersenyum kecil.
Rendra: Saya juga perlu jujur. Saya tertarik kepada kamu bukan karena panikmu malam itu. Saya sudah memperhatikan kamu sebelumnya.
Maura: Sejak kapan?
Rendra: Sejak kamu membantah Faris soal metadata di rapat pertama dan setelah itu meminta maaf kepada kursi karena tidak sengaja menab**knya.
Aku menutup wajah. Aku benar-benar pernah melakukan itu.
Maura: Tolong lupakan bagian kursi.
Rendra: Tidak bisa. Itu bukti penting.
Percakapan menjadi ringan. Ia bercerita bahwa alasan dirinya selalu membawa jaket abu-abu bukan karena gaya, tetapi karena ruang editing terlalu dingin. Aku mengakui bahwa aku pernah mengira ia sengaja terlihat tenang untuk membuat orang segan. Ia menjawab bahwa sebagian besar ketenangannya hanya keterlambatan merespons.
Pukul 00.47, aku akhirnya bertanya hal yang paling kutakuti.
Maura: Kalau nanti Kakak mengetahui sesuatu yang membuat aku malu, apa Kakak akan berubah?
Tanda mengetik muncul sangat lama.
Rendra: Saya mungkin perlu memahami konteks. Tapi saya tidak akan memakai rasa malu itu untuk merendahkan kamu. Dan saya tidak berhak membuka sesuatu tanpa izin.
Aku menahan napas.
Rendra: Maura, saya ingin mengenalmu di luar foto. Bukan membongkar foldermu.
Untuk pertama kali sejak membuat album 23.48, aku merasa rahasia itu tidak lagi menentukan seluruh harga diriku.
Keesokan harinya, kami bertemu di depan perpustakaan. Rendra tidak menyentuhku, tidak memberi bunga, dan tidak membuat pengumuman dramatis. Ia hanya berjalan di sampingku menuju ruang editing, menyesuaikan langkah agar tidak terlalu cepat.
Di depan pintu, ia bertanya, “Masih ingin pelan?”
“Iya.”
“Baik.”
Aku menatap wajah nyata yang sekarang lebih kusukai daripada gambarnya.
“Dan Kak Rendra?”
“Juga.”
Kami ma**k bersama, belum menjadi pasangan, tetapi tidak lagi berpura-pura bahwa ketertarikan itu hanya milikku.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!