Masalah besar dimulai dari kesalahan kecil yang terlihat sudah selesai.
Aku sedang menyiapkan album final Festival Arunika. Setelah memeriksa semua file dua kali, aku ma**k ke Drive Dokumentasi 2026 dari komputer ruang media. Folder resmi tersusun rapi: panggung, peserta, sponsor, panitia, dan booth cahaya.
Di bawahnya, ada folder baru bernama cache_mobile_recovery.
Aku merasa ujung jariku dingin.
Folder itu seharusnya sudah terhapus. Aku membukanya dan menemukan beberapa thumbnail beresolusi rendah dari ponselku. Sebagian foto Dita, tangkapan layar jadwal, dan satu pratinjau foto Rendra dengan jaket abu-abu. Di bagian metadata, nama album sumber masih terlihat: 23.48.
Tidak ada file penuh. Tidak ada adegan pribadi. Tetapi nama folder dan satu wajah sudah c**up untuk membentuk cerita bagi orang yang ingin bergosip.
Aku menutupnya cepat dan mencoba menghapus. Sistem menolak karena folder dipulihkan oleh akun admin.
“Kenapa wajahmu seperti habis melihat nilai?” Faris bertanya dari belakang.
Aku menoleh terlalu cepat. Ia berdiri membawa minuman, pandangannya bergerak ke layar sebelum sempat kututup.
“Folder apa itu?”
“Cache sistem.”
“Dua puluh tiga empat puluh delapan?” Ia tertawa kecil. “Nama yang romantis.”
“Jangan sentuh.”
Aku keluar dari akun, tetapi sudah terlambat. Faris telah melihat nama folder dan thumbnail.
Rendra ma**k beberapa menit kemudian. Aku menariknya ke lorong dan menjelaskan dengan suara pelan.
“File penuh tidak terunggah,” katanya setelah memeriksa dari akun berbeda. “Hanya pratinjau. Kita bisa minta Alya menghapus permanen.”
“Faris melihat.”
Rendra menahan ekspresi. “Apa dia mengatakan sesuatu?”
“Belum.”
“Kita lapor sekarang.”
Aku langsung menggeleng. “Kalau kita lapor, semua orang akan tahu.”
“Tidak semua. Alya dan Bu Laksmi saja.”
“Aku tidak mau menjelaskan isi folder.”
“Kamu tidak harus.”
Jawaban itu konsisten dengan semua yang sudah ia katakan, tetapi ketakutanku lebih kuat. Melaporkan berarti mengakui folder itu ada. Mengakui bahwa namanya mengandung waktu. Mengakui foto Rendra berada di dalamnya.
“Beri aku waktu,” kataku.
Rendra tampak ingin membantah, lalu menahan diri. “Berapa lama?”
“Sampai besok.”
“Baik. Tapi jangan ma**k akun admin sendirian lagi.”
Aku kesal. “Aku bisa menjaga diriku.”
“Saya tahu. Itu bukan larangan. Saya hanya khawatir Faris mengubah log.”
Nada formalnya kembali muncul ketika cemas. Aku mengangguk meski masih tegang.
Malam itu, Faris mengirim meme di grup kecil panitia. Gambar jam menunjukkan 23.48 dengan caption: Waktu terbaik menyimpan rahasia divisi dokumentasi.
Beberapa orang membalas dengan emoji tertawa, tidak memahami maksudnya. Aku memahami.
Aku menghapus notifikasi dan menghubungi Rendra.
Maura: Dia sudah mulai.
Rendra: Screenshot pesan itu. Jangan balas.
Maura: Aku takut.
Rendra: Saya di bawah kosmu kalau kamu ingin bicara. Saya tidak akan naik.
Aku melihat ke jendela. Di seberang jalan, Rendra berdiri di bawah lampu minimarket, mengenakan jaket abu-abu yang sama seperti dalam foto.
Untuk beberapa detik, dua versi dirinya menyatu: yang kusimpan diam-diam dan yang datang karena aku mengatakan takut.
Aku turun bersama Dita. Kami duduk di meja luar minimarket. Rendra tidak menanyakan isi folder. Ia hanya membantu menyimpan bukti pesan Faris dan menunjukkan cara mengunduh riwayat akses.
Sebelum pulang, ia berkata, “Besok kita lapor. Kamu yang menentukan apa yang ingin kamu sampaikan.”
Aku memandang layar ponsel yang menyimpan screenshot ancaman.
Kali ini, ketakutanku tidak lagi hanya tentang hampir ketahuan.
Seseorang telah melihat pintu menuju ruang pribadiku dan memutuskan menjadikannya permainan.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!