Pukul delapan pagi, akun gosip kampus mengunggah screenshot folder 23.48.
Gambar itu hanya menunjukkan nama album, thumbnail Rendra, dan beberapa kotak buram. Tidak ada foto lain yang dapat dikenali. Caption-nya jauh lebih kejam daripada buktinya:
Mahasiswi baru diduga simpan album khusus senior koordinator. Kagum atau menguntit?
Dalam satu jam, nama lengkapku muncul di komentar. Seseorang menyebut tempat kerjaku. Seseorang lain menulis bahwa junior seperti aku sengaja mendekati senior agar mendapat rekomendasi magang.
Aku membaca semuanya sampai Dita merebut ponsel dari tanganku.
“Berhenti.”
“Aku perlu tahu.”
“Kamu tidak perlu membaca seratus versi hidupmu dari orang yang bahkan tidak tahu wajahmu.”
Di kampus, bisikan mengikuti langkahku. Beberapa orang berpura-pura tidak melihat. Beberapa justru menatap terang-terangan. Aku ingin mengecil sampai tak terlihat, tetapi rasa malu perlahan berubah menjadi marah.
Faris mendatangiku di lorong. “Aku juga kaget itu bocor.”
“Kamu satu-satunya yang melihat folder.”
“Akun admin dipakai banyak orang.”
“Pesan meme itu?”
“Bercanda. Aku tidak tahu orang akan menghubungkannya.”
Rendra muncul dari ujung lorong. Faris langsung mengubah nada.
“Kak, saya juga sedang bantu cari pelakunya.”
Rendra berdiri di sampingku, tidak di depanku. “Maura, kamu ingin saya tetap di sini?”
Pertanyaan itu membuat Faris terdiam. Aku mengangguk.
“Kirim log akses akun admin kepada Bu Laksmi,” kata Rendra kepada Faris. “Sekarang.”
Faris tersenyum tipis. “Kenapa langsung menuduh saya?”
“Karena kamu admin. Itu prosedur, bukan tuduhan.”
Kami berjalan ke ruang pembina. Dalam perjalanan, ponselku berdering dari nomor kantor magang. Supervisor menjelaskan bahwa rekomendasiku ditahan sementara karena mereka menerima email anonim tentang perilaku tidak profesional.
Aku berhenti di tangga.
“Maura?” Rendra bertanya.
“Mereka menahan rekomendasi.”
Ia mengepalkan tangan, lalu melepasnya. “Boleh saya bicara dengan mereka?”
“Tidak.”
Jawabanku terlalu keras, tetapi ia hanya mengangguk.
“Aku tidak mau mereka mengira Kakak menyelamatkanku karena foto itu benar.”
“Saya mengerti.”
Di ruang Bu Laksmi, aku menjelaskan bahwa folder pribadi sempat muncul sebagai cache akibat sinkronisasi. Aku tidak menjelaskan mengapa foto Rendra disimpan atau apa arti angka 23.48.
Bu Laksmi tidak memaksa. “Yang kami periksa adalah akses tanpa izin dan penyebaran screenshot. Isi folder tidak relevan selama bukan materi ilegal.”
Kalimat itu membuat tenggorokanku sesak. Untuk pertama kali, seorang otoritas mengatakan bahwa aku tidak harus membuka seluruh diriku agar dipercaya.
Alya menghapus screenshot dari kanal resmi, tetapi akun gosip menolak menurunkannya. Rendra menulis draf klarifikasi singkat, lalu menyerahkan ponsel kepadaku sebelum mengunggah.
Saya tidak pernah merasa diikuti atau diancam oleh Maura. Foto yang terlihat berasal dari kegiatan publik. Persoalan utama adalah akses dan penyebaran data tanpa izin.
“Aku belum siap,” kataku.
Ia menutup layar. “Baik.”
Tidak ada perdebatan.
Sore hari, aku melihat unggahan baru. Akun gosip menambahkan polling: Rendra korban atau ikut menikmati perhatian?
Aku menutup aplikasi, tetapi tanganku terus gemetar.
Rasa malu yang selama ini hanya tinggal di kamar kini berubah menjadi tontonan.
Dan untuk pertama kali, aku tidak ingin menghapus diri.
Aku ingin menemukan siapa yang membuka pintu itu.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!