Saya dapat menghentikan sebagian rumor dengan satu unggahan. Setidaknya, itu yang dikatakan naluri saya sebagai koordinator: keluarkan pernyataan, kumpulkan saksi, kontrol narasi sebelum orang lain mengisinya.
Namun Maura sudah menolak.
Saya menulis tiga draf klarifikasi dan tidak mengunggah satu pun. Setiap versi terdengar seperti saya sedang membuktikan bahwa Maura layak dihormati karena saya berkata demikian. Padahal masalahnya justru haknya untuk menentukan cerita sendiri.
Seno membaca salah satu draf di layar laptop. “Kamu bisa bilang foto itu tidak mengganggu.”
“Kalau saya bicara terlalu banyak, orang menganggap kami punya hubungan.”
“Kalian memang saling suka.”
“Itu bukan informasi publik.”
Saya menutup laptop.
Di ruang media, Bu Laksmi meminta semua perangkat admin diserahkan untuk audit. Faris bersikap kooperatif, tetapi terlalu sering mengatakan bahwa sinkronisasi otomatis dapat membuat siapa pun melihat file. Saya memperhatikan ia terus memisahkan melihat dari mengambil screenshot, seolah pelanggaran hanya terjadi ketika gambar menyebar.
Maura datang menjelang sore. Wajahnya pucat, tetapi langkahnya teratur. Ia membawa printout kebijakan drive dan catatan waktu.
“Saya ingin membuat laporan sendiri,” katanya.
Bu Laksmi mengangguk. “Kamu boleh memilih proses tertutup.”
Faris tertawa kecil dari sisi ruangan. “Kalau tidak ada yang aneh, kenapa harus tertutup?”
Saya berdiri, tetapi Maura menatap saya lebih dulu.
Jangan.
Saya duduk kembali.
Bu Laksmi menegur Faris dan meminta ia keluar. Setelah pintu tertutup, Maura menghela napas.
Di lorong setelah pertemuan, saya bertanya, “Boleh saya menemanimu sampai gerbang?”
“Boleh.”
Kami berjalan tanpa menyentuh. Beberapa mahasiswa memotret dari jauh. Saya ingin berdiri di depan kamera mereka, tetapi itu hanya akan menguatkan cerita yang sedang dibangun.
“Rendra,” katanya pelan, pertama kali tanpa kata Kak, lalu segera memperbaiki, “Kak Rendra.”
Saya berpura-pura tidak memperhatikan perubahan itu.
“Kenapa tidak mengunggah klarifikasi?” tanyanya.
“Karena kamu bilang tidak.”
“Padahal itu bisa membantu.”
“Mungkin. Tapi saya tidak berhak membelamu tanpa izin kalau caranya membuat pilihanmu hilang.”
Maura berhenti di bawah pohon dekat gerbang. “Kalau aku mengizinkan, Kakak mau bilang apa?”
“Saya akan mengatakan bahwa saya tidak merasa diikuti. Foto itu berasal dari kegiatan publik. Saya juga akan mengatakan bahwa kedekatan kami tidak memberi siapa pun hak mengakses foldermu.”
“Kedekatan?”
Saya menatapnya. “Itu kata yang saya pilih. Kamu boleh menggantinya.”
Wajahnya memerah meski suasana sedang buruk. “Aku belum tahu.”
“Tidak apa-apa.”
Ia membuka ponsel, melihat notifikasi, lalu mematikannya lagi. “Beri aku satu hari untuk memilih caraku sendiri.”
“Saya tunggu.”
“Kalau besok aku minta Kakak bicara?”
“Saya bicara sesuai kalimat yang kamu setujui.”
“Kalau aku tidak minta?”
“Saya tetap bantu menemukan log.”
Maura menatap saya c**up lama. “Kenapa?”
Saya hampir menjawab karena saya menyukaimu. Namun waktu dan tempat menjadikan pengakuan itu seperti tekanan.
“Karena akses tanpa izin tetap salah meski folder itu tidak ada hubungannya dengan saya,” kata saya. “Dan karena kamu pantas mendapat pilihan.”
Ia mengangguk lalu pergi bersama Dita yang menunggu di gerbang.
Malamnya, saya mengirim satu pesan saja.
Rendra: Lokasi log lama ada di menu aktivitas perangkat. Saya kirim panduannya. Tidak perlu membalas malam ini.
Tidak ada balasan.
Saya meletakkan ponsel, menerima kemungkinan bahwa cara terbaik mendekati Maura saat ini adalah tidak mendekat sama sekali.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!