Aku menghapus folder 23.48 pukul 23.48.
Tidak ada upacara. Tidak ada musik sedih. Hanya satu tombol merah dan pertanyaan apakah aku yakin ingin menghapus permanen.
Aku menekan ya.
Foto candid Rendra hilang. Semua tangkapan layar pesan yang kusimpan untuk diriku sendiri ikut kuhapus. Aku bahkan menghapus foto sesi profil yang ia berikan dengan izin, seolah membersihkan ponsel dapat mengembalikan hidupku ke keadaan sebelum rasa kagum memiliki bentuk.
Beberapa detik pertama terasa lega.
Lalu aku menyadari rumor tetap ada di internet. Rekomendasi magang masih ditahan. Faris masih ma**k ke ruang media. Orang-orang masih mengingat caption yang menyebutku penguntit.
Menghapus foto tidak menghapus cara orang lain memandangku. Ia juga tidak menghapus perasaanku kepada Rendra.
Dita duduk di tepi ranjang. “Kamu tidak harus menghukum diri.”
“Aku yang menyimpan foto.”
“Menyimpan foto kegiatan tidak sama dengan menyebarkan folder orang.”
“Aku menjadikannya terlalu pribadi.”
“Di kepalamu. Bukan di ruang publik.”
Aku menutup wajah. “Aku bergantung pada foto itu.”
“Berarti kamu perlu belajar cara lain menenangkan diri. Bukan berarti kamu pantas dipermalukan.”
Keesokan harinya, aku mengundurkan diri sementara dari tim dokumentasi. Alya mencoba menahanku, tetapi aku tidak sanggup ma**k ruang editing dan membayangkan setiap layar menyimpan salinan folder.
Rendra menunggu di koridor. Ia tidak menghalangi jalan.
“Alya bilang kamu keluar.”
“Sementara.”
“Baik.”
Aku marah pada ketenangannya. “Kakak tidak akan menyuruhku bertahan?”
“Kamu meminta satu hari untuk memilih caramu. Ini pilihanmu.”
“Jadi mudah sekali?”
Ekspresinya berubah sedikit. “Tidak mudah. Tapi kalau saya memaksa, saya membuat keputusanmu tentang saya.”
Kalimat itu benar, dan karena itu terasa menyakitkan.
“Aku tidak ingin pesan tengah malam lagi,” kataku.
Ia menelan sesuatu yang hendak diucapkan. “Baik.”
“Aku juga tidak tahu apakah aku ingin melanjutkan… kedekatan itu.”
“Saya mengerti.”
Aku berharap ia bertanya, memohon, atau setidaknya menunjukkan bahwa kehilangan ini juga melukainya. Sebaliknya, ia menghormati semua kata yang kukatakan. Aku merasa bersalah karena kecewa kepada sikap yang sebenarnya baik.
Aku berjalan pergi tanpa menoleh.
Malam pertama tanpa pesan pukul 00.13 terasa kosong. Aku membuka galeri berkali-kali, lupa bahwa folder sudah hilang. Setiap kali ikon album tidak muncul, ada rasa kehilangan yang tidak hanya berkaitan dengan Rendra, tetapi juga dengan bagian diriku yang selama ini kusembunyikan.
Pukul 00.05, satu pesan ma**k.
Aku hampir tidak membukanya, tetapi nama Rendra membuatku menyerah.
Rendra: Saya menghormati permintaanmu. Ini satu-satunya pesan di luar keadaan darurat. Lokasi log akses ada di Drive > Keamanan > Aktivitas lama. Saya menemukan data pukul 00.06 pada malam folder dipulihkan. Setelah ini saya tidak akan menghubungi sampai kamu yang memilih.
Tidak ada kalimat rindu. Tidak ada permintaan maaf dramatis. Hanya informasi yang kubutuhkan dan batas yang kujaga.
Aku mengikuti petunjuknya. Di menu aktivitas lama, ada satu akses dari perangkat admin ruang media pada pukul 00.06, beberapa jam setelah aku meninggalkan kampus. Akses itu membuka folder cache yang seharusnya terhapus.
Aku mengambil screenshot.
Nama perangkat tercatat jelas.
MEDIA-ADMIN-FARIS.
Untuk pertama kali sejak rumor menyebar, rasa malu berhenti menjadi pusat pikiranku.
Ada bukti.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!