Bukti digital tidak berteriak. Ia hanya menunggu seseorang c**up sabar untuk membaca urutan waktunya.
Aku mencetak log akses, riwayat pemulihan folder, dan waktu unggahan akun gosip. Bersama Dita, aku membuat tabel sederhana: pukul 18.42 ponselku melakukan sinkronisasi; 18.45 cache kuhapus; 00.06 perangkat admin membuka pemulihan; 00.09 screenshot dibuat; 07.52 akun gosip menerima unggahan.
Rendra tidak terlibat dalam penyusunan. Ia menepati janji untuk tidak menghubungi. Anehnya, ketidakhadirannya membuatku lebih yakin bahwa keputusan ini benar-benar milikku.
Aku membawa dokumen ke Bu Laksmi.
“Apakah kamu ingin proses resmi?” tanyanya.
“Iya. Tertutup dulu.”
“Kamu tidak perlu membuka isi folder.”
“Aku tahu.”
Mengucapkan kalimat itu terasa seperti mengambil kembali sesuatu dari semua orang yang menuntut penjelasan.
Faris dipanggil sore itu. Ia datang dengan wajah sant** dan langsung menunjuk sinkronisasi otomatis.
“Cache muncul karena kesalahan sistem. Semua admin bisa melihat.”
“Melihat bukan mengambil screenshot,” kataku.
“Apa buktinya saya yang mengambil?”
Aku menunjukkan log perangkat. “Perangkatmu membuka pemulihan pukul 00.06.”
“Komputer dipakai bersama.”
“Setelah kebijakan akun individual berlaku.”
Ia memandang Bu Laksmi. “Nama perangkat bukan nama orang.”
Benar. Log itu kuat, tetapi belum c**up untuk membuktikan siapa yang duduk di depan komputer. Bu Laksmi meminta data kartu akses ruangan dan CCTV lorong.
Faris bersandar. “Kalau memang foldernya normal, kenapa Maura tidak menunjukkan isinya saja? Bisa selesai cepat.”
Dulu, pertanyaan itu akan membuatku runtuh. Kali ini aku menatapnya.
“Karena isi folderku bukan syarat untuk membuktikan bahwa kamu tidak berhak membukanya.”
Ruangan menjadi diam.
Bu Laksmi mengangguk. “Pernyataan itu dicatat.”
Setelah Faris keluar, ia menawarkan dua pilihan: sidang etik terbuka atau pemeriksaan tertutup dengan hasil resmi. Aku memilih tertutup karena aku tidak ingin konflik ini menjadi pertunjukan baru.
Di luar ruangan, Rendra duduk di bangku lorong. Ia berdiri ketika melihatku, tetapi tidak mendekat.
“Alya memberi tahu jadwal pemeriksaan,” katanya. “Saya datang sebagai koordinator, bukan karena ingin melanggar permintaanmu.”
Aku mengangguk.
“Bagaimana hasilnya?”
“Masih perlu CCTV.”
“Baik.”
Kami berdiri canggung. Aku ingin mengatakan terima kasih atas lokasi log. Ingin bertanya apakah ia juga merasa kehilangan percakapan malam. Tetapi aku belum siap menghapus jarak.
“Terima kasih,” kataku akhirnya.
Rendra mengangguk. “Sama-sama.”
Ia berjalan pergi lebih dulu.
Dita muncul dari tangga dan menyenggol lenganku. “Kalian berdua sangat berbakat membuat tiga kata terasa seperti satu bab.”
Aku hampir tertawa.
Malamnya, Bu Laksmi mengirim pesan bahwa kartu akses Faris digunakan pukul 23.58 dan keluar pukul 00.14. CCTV lorong memperlihatkan ia sendirian.
Ka**snya semakin jelas.
Namun ada satu hal lain dalam rekaman. Pukul 00.17, Rendra terlihat tiba di gedung dan berdiri di depan ruang media, tetapi tidak ma**k. Ia kemudian pergi setelah mengirim pesan kepada seseorang.
Aku memeriksa riwayat chat lama.
Pukul 00.17 malam itu, Rendra pernah menulis: Pastikan folder pribadi tidak terhubung ke akun panitia. Saya khawatir ada cache yang belum terhapus.
Aku tidak membalas karena saat itu aku sedang takut kepadanya.
Sekarang aku menyadari ia datang untuk memeriksa risiko, berhenti di luar karena tidak punya akses, dan tidak pernah menceritakannya agar tidak terlihat seperti penyelamat.
Untuk pertama kali sejak meninggalkan tim, aku ingin berbicara dengannya bukan tentang bukti.
Tentang kami.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!