Maura menghubungi saya pukul 21.32 dan meminta bertemu di kafe dekat kampus. Saya datang lebih awal, lalu memilih meja yang terlihat dari jendela dan tidak terlalu terpencil.
Ia duduk di seberang, meletakkan ponsel dengan layar menghadap bawah.
“Log-nya c**up kuat,” katanya.
“Saya dengar CCTV juga ada.”
“Faris kemungkinan akan dikenai sanksi.”
Saya mengangguk. Saya tidak ingin membuat keberhasilan proses menjadi alasan untuk membicarakan hubungan.
Maura justru membuka topik itu sendiri. “Kak Rendra datang ke gedung malam pukul 00.17.”
“Saya khawatir cache dipulihkan.”
“Kenapa tidak bilang?”
“Karena saya tidak berhasil ma**k dan tidak ingin tindakan itu terdengar seperti saya menjaga kamu tanpa diminta.”
Ia menatap saya lama. “Kakak selalu berpikir sebanyak itu?”
“Sayangnya.”
Sudut bibirnya bergerak sedikit. Itu senyum pertama yang saya lihat sejak rumor muncul.
Saya membawa satu hal yang sudah lama ingin saya tunjukkan. Bukan sebagai pembelaan, tetapi sebagai kejujuran yang mungkin terlambat.
Saya membuka ponsel dan menunjukkan foto Maura di booth cahaya. Foto resmi panitia, ia tertawa kepada Dita tanpa melihat kamera. Saya sudah meminta salinan beresolusi tinggi dari fotografer utama untuk portofolio tim, lalu menyimpan satu salinan pribadi setelah hak akses diberikan untuk penggunaan internal. Namun Maura tidak pernah tahu saya mempertahankannya.
“Saya menyimpan ini,” kata saya. “Karena saya menyukai kamu.”
Wajahnya berubah, bukan marah, tetapi waspada.
“Saya tidak menunjukkan ini untuk mengatakan kita sama,” lanjut saya cepat. “Konteksnya berbeda. File ini resmi, tetapi tetap foto kamu. Kalau kamu ingin saya hapus, saya hapus sekarang.”
Saya meletakkan ponsel di meja dan menggesernya ke arahnya. Maura memeriksa det**l file, tanggal, dan album. Saya membiarkannya.
“Sejak kapan?”
“Sejak setelah sesi foto profil. Saya sudah menandainya sebelumnya di drive, tetapi baru menyimpan setelah saya sadar perasaan saya bukan sekadar perhatian kepada anggota tim.”
“Kenapa baru bilang?”
“Karena saya takut pengakuan ini terlihat seperti cara membuat foldermu tidak penting. Padahal pelanggaran Faris tetap salah, apa pun perasaan saya.”
Maura mengusap tepi ponsel. “Aku menghapus semua fotomu.”
Saya merasakan kehilangan kecil, tetapi tidak menunjukkannya sebagai keberatan. “Itu hakmu.”
“Aku menyesal.”
“Kamu bisa memotret lagi nanti, kalau kamu ingin dan saya setuju.”
Kalimat itu membuatnya menatap saya.
Saya menunjuk layar. “Foto ini bagaimana?”
Maura menarik napas. “Jangan hapus.”
Saya menunggu.
“Tapi lain kali, bilang.”
“Baik.”
Ia mengembalikan ponsel. Jarak di meja terasa berubah, meski kami belum menyentuh.
“Saya minta maaf karena diam saya membuatmu merasa dinilai,” kata saya. “Saya pikir menjaga jarak selalu aman.”
“Aku juga minta maaf karena berharap Kakak melanggar batas hanya supaya aku merasa dipilih.”
Kejujuran itu terasa rapuh dan penting.
“Apakah kamu ingin saya tetap menjaga jarak?” tanya saya.
Maura memandang tangannya. “Sampai pemeriksaan selesai. Tapi bukan berarti aku ingin semuanya berakhir.”
“Saya bisa menunggu.”
Ia mengangguk.
Sebelum berpisah, saya bertanya apakah boleh mengirim pesan ketika hasil sidang keluar. Maura mengatakan boleh.
Pukul 00.13, saya menerima pesan darinya lebih dulu.
Maura: Foto yang Kakak simpan bagus.
Saya tersenyum.
Rendra: Fotografernya berbeda.
Maura: Modelnya juga tidak sadar sedang dilihat.
Rendra: Lain kali saya minta izin.
Maura: Lain kali saya akan melihat kamera.
Percakapan itu pendek. Namun setelah berminggu-minggu, layar kembali menjadi jembatan, bukan ancaman.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!