Ruang etik media lebih kecil daripada bayanganku. Tidak ada panggung, tidak ada penonton, hanya meja panjang, Bu Laksmi, perwakilan kemahasiswaan, Alya, Faris, dan aku. Rendra duduk di kursi saksi di sisi ruangan karena keterlibatannya sebagai koordinator.
Aku membawa tabel waktu, screenshot pesan, dan log perangkat. Tidak membawa ponsel dengan folder 23.48 karena folder itu sudah hilang dan karena isinya bukan perkara yang sedang diadili.
Faris memulai dengan permintaan maaf yang terdengar seperti pembelaan.
“Saya memang membuka cache untuk memastikan tidak ada file panitia yang hilang. Screenshot mungkin tersimpan otomatis. Saya tidak berniat menyebarkan.”
Bu Laksmi menunjukkan riwayat unggahan ke akun gosip dari perangkat yang sama. Faris mengubah alasan: mungkin orang lain memakai komputernya.
Ketika giliran bertanya, ia menatapku.
“Berapa banyak foto Kak Rendra yang sebenarnya kamu simpan?”
Aku merasakan panas naik ke wajah. Ini jebakan yang sama: memaksaku membuka rasa malu agar ia dapat mengalihkan perhatian.
“Apa relevansinya dengan akses perangkat?”
“Kalau ada puluhan foto, berarti saya hanya mengungkap perilaku yang berbahaya.”
Aku menatap Bu Laksmi. “Apakah saya wajib menjawab?”
“Tidak,” katanya tegas. “Yang diperiksa adalah akses dan distribusi tanpa izin.”
Faris tetap mendesak. “Jadi kamu tidak menyangkal menguntit?”
Aku mengangkat kepala.
“Aku tidak menguntit Rendra. Foto yang tersimpan berasal dari kegiatan publik dan pekerjaan dokumentasi. Aku tidak mengikuti dia, tidak mengambil gambar di ruang pribadi, dan tidak menyebarkannya. Tetapi bahkan jika folderku memuat sesuatu yang memalukan, kamu tetap tidak berhak membukanya.”
Suara saya—suara aku—terdengar stabil.
“Aku tidak harus membongkar fantasi, percakapan, atau alasan pribadi agar pelanggaranmu dianggap nyata. Privasi bukan hadiah untuk orang yang hidupnya c**up bersih menurut penilaianmu.”
Rendra tidak bergerak dari kursinya. Ia menepati janji untuk tidak mengambil alih. Hanya ketika Bu Laksmi meminta keterangannya, ia berbicara.
“Saya tidak pernah merasa diikuti atau diancam oleh Maura. Saya tidak pernah melihat isi folder. Saya hanya melihat nama album ketika meminjam ponsel dengan izin untuk mengirim dokumen, dan saya mengembalikannya tanpa membuka.”
Faris mencoba mengatakan Rendra membela karena tertarik kepadaku.
Rendra menjawab, “Perasaan pribadi saya tidak mengubah log perangkat.”
Kalimat itu mengembalikan fokus ke bukti.
CCTV menunjukkan Faris ma**k sendirian. Log komputer mencatat pemulihan cache dan pembuatan screenshot. Riwayat akun gosip memperlihatkan file dikirim dari browser yang sama. Bukti tidak membutuhkan isi folderku.
Keputusan awal dikeluarkan sore itu: Faris dinonaktifkan dari akses media, ka**s diteruskan ke disiplin mahasiswa, dan seluruh akun bersama wajib diganti. Tim juga harus menerapkan persetujuan eksplisit untuk sinkronisasi perangkat pribadi.
Rekomendasi magangku dipulihkan setelah Bu Laksmi mengirim penjelasan resmi.
Di luar ruangan, aku berdiri di tangga sambil menahan napas yang sejak pagi terasa tertahan.
Rendra mendekat sampai jarak dua langkah. “Boleh saya mendekat?”
“Belum.”
Ia berhenti.
Aku tersenyum tipis. “Bukan selamanya. Aku cuma perlu satu menit.”
Kami berdiri diam. Setelah napasku stabil, aku menuruni satu anak tangga hingga jarak kami menjadi lebih dekat atas pilihanku sendiri.
“Sekarang boleh,” kataku.
Rendra tidak menyentuhku. Ia hanya berdiri di samping.
Aneh sekali, tetapi setelah seluruh kampus mencoba menentukan arti folderku, kebebasan memilih jarak terasa lebih intim daripada pelukan.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!