Pagi berikutnya, folder 23.48 masih ada.
Aku memeriksanya saat bangun, setelah mandi, dan sekali lagi sebelum berangkat kuliah. Bukan karena takut hilang. Aku justru takut menyadari betapa lega rasanya mengetahui foto itu tetap berada di tempat yang hanya bisa kubuka dengan sidik jari.
“Kenapa dari tadi lihat ponsel seperti menunggu hasil tes?” Dita bertanya sambil mengoleskan selai ke roti.
“Tidak ada.”
“Jawaban orang yang pasti menyimpan sesuatu.”
Aku mema**kkan ponsel ke tas. Dita tahu aku mengagumi Rendra. Ia pernah melihatku salah memasang tutup lensa ketika Rendra berdiri terlalu dekat, tetapi ia tidak mengetahui tentang malam tadi. Aku sendiri belum menemukan kata yang c**up aman untuk menjelaskannya.
Di kampus, aku menghindari ruang editing sampai sepuluh menit sebelum rapat. Rendra sudah berada di sana, menyusun kabel dan memeriksa layar proyektor. Jaket abu-abu dari foto tergantung di sandaran kursi.
“File kamera kedua?” tanyanya.
Aku menyerahkan hard disk tanpa menatap terlalu lama. “Sudah dipisahkan berdasarkan sesi.”
“Terima kasih, Maura.”
Ia mengingat namaku. Itu seharusnya hal biasa karena namaku ada di daftar panitia. Tetap saja, tubuhku bereaksi seolah ia baru mengungkap rahasia.
Sepanjang rapat, aku mencatat instruksi sambil berusaha tidak membandingkan Rendra yang nyata dengan gambar di folder. Yang nyata punya lingkar gelap tipis di bawah mata, kebiasaan mengetuk meja dengan ujung pulpen, dan suara yang lebih rendah ketika lelah. Foto itu mendadak terasa datar. Anehnya, aku tetap ingin melihatnya lagi.
Malamnya, setelah Dita tidur, aku membuka folder 23.48. Aku tidak lagi membangun fantasi panjang. Aku hanya memandangi foto itu sambil mengulang percakapan singkat kami: File kamera kedua? Terima kasih, Maura.
Kehadiran gambar itu menjadi cara cepat untuk menenangkan rasa sepi yang tak bisa kujelaskan. Aku tahu ketergantungan semacam ini tidak sehat jika dibiarkan tumbuh. Aku juga tahu tidak ada yang salah dengan memiliki ruang batin selama tidak menjadikannya alasan untuk melanggar ruang orang lain.
Tetapi pengetahuan tidak otomatis menghilangkan rasa bersalah.
Aku menutup folder dan mencoba membaca. Lima menit kemudian, ponselku bergetar.
Pesan pribadi dari nomor yang belum kusimpan.
Rendra: Maaf mengganggu malam. File sesi pembukaan belum ma**k. Masih ada di perangkatmu?
Aku duduk lebih tegak. Jari-jariku mengetik tiga versi jawaban, menghapus semuanya, lalu menulis singkat.
Masih, Kak. Besok saya kirim.
Tanda tiga titik muncul.
Rendra: Besok terlalu lama. Deadline poster pagi. Bisa malam ini?
Aku memandangi laptopku yang sedang melakukan pembaruan sistem. Prosesnya baru dua belas persen dan tidak bisa dihentikan tanpa risiko file rusak.
Laptop saya sedang update. Saya coba lewat ponsel.
Rendra: Saya ada di ruang editing sampai pukul satu. Datang kalau aman. Kalau tidak, kirim besok pagi dan saya jelaskan ke tim.
Ia memberiku pilihan. Itu seharusnya membuatku tenang. Namun bayangan bertemu dengannya di ruang sepi, sementara ponselku menyimpan satu folder yang memakai wajahnya sebagai pusat, membuat jantungku berdetak terlalu cepat.
Dita membuka mata ketika aku mengambil jaket.
“Mau ke mana?”
“Mengirim file.”
“Pukul sebelas malam?”
Aku tidak menjawab. Ponselku kembali bergetar.
Rendra: Jangan datang sendirian kalau tidak nyaman. Saya bisa tunggu di lobi.
Pesan itu membuat rasa kagumku menjadi sedikit lebih berbahaya, karena sekarang ia tidak hanya hidup di dalam foto.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!