Kami bertemu di Kafe 00.13 tanpa membawa laptop. Itu syarat dariku.
Ponsel diletakkan dalam mode senyap di dalam tas. Tidak ada layar yang dapat menjadi tempat bersembunyi, tidak ada pesan yang bisa dihapus sebelum dibaca, dan tidak ada folder yang dapat menjelaskan perasaan menggantikan kata-kata.
Rendra datang tanpa kamera. Ia duduk di seberangku dan menunggu aku memulai.
“Aku takut semua ini hanya terasa kuat karena krisis,” kataku. “Hampir ketahuan, rumor, sidang. Mungkin kalau semuanya normal, kita tidak punya apa-apa.”
“Bisa jadi,” jawabnya.
Kejujuran itu membuatku mengernyit. “Kakak tidak mau meyakinkan?”
“Saya bisa mengatakan saya yakin. Tapi hubungan tetap perlu diuji di hari biasa.”
Aku memutar gelas. “Aku juga takut Kakak menyukaiku karena merasa harus menjaga.”
“Saya suka kamu sebelum tahu folder itu ada.”
“Apa yang Kakak suka?”
Rendra tidak langsung menjawab. Ia memandangku seperti sedang memilih kata yang tidak berlebihan.
“Kamu berani ketika membicarakan pekerjaan, lalu minta maaf kepada benda mati saat gugup. Kamu memperhatikan cahaya pada orang lain tetapi selalu berdiri di bagian paling gelap ruangan. Dan kamu bisa membaca log akses ketika semua orang lain sibuk membaca komentar.”
Aku tertawa kecil. “Bagian kursi masih diingat?”
“Bukti penting.”
Giliran Rendra bertanya. “Apa yang kamu suka dari saya sekarang, bukan dari foto?”
Aku berpikir. “Kakak tidak selalu tenang. Kalau cemas, Kakak pegang sisi ponsel. Kakak terlalu formal kalau takut salah. Kakak bisa menyebalkan karena semua pertanyaan diberi pilihan keluar.”
“Itu kritik atau pujian?”
“Keduanya.”
Kami berbicara tentang hal-hal yang tidak berkaitan dengan skandal. Tentang film yang tidak kami sukai, makanan kos, rencana setelah lulus, dan ketakutanku kehilangan beasiswa. Rendra bercerita tentang tuduhan masa lalu yang membuatnya menjaga jarak dari junior. Untuk pertama kali, ia tidak hanya menjadi pendengar yang baik; ia juga membiarkan dirinya terlihat tidak sempurna.
Saat kafe mulai sepi, kursi kami masih berjauhan. Rendra melihat jarak itu, lalu bertanya, “Boleh saya duduk lebih dekat?”
Pertanyaan sederhana itu membuat jantungku cepat. Bukan karena ada ancaman, melainkan karena jawaban benar-benar milikku.
“Seberapa dekat?”
Ia menunjuk kursi di samping, bukan menebak. “Di sana.”
Aku mengangguk.
Rendra pindah. Bahu kami masih tidak bersentuhan. Namun kehangatan tubuhnya terasa melalui jarak kecil, dan kali ini tidak ada layar yang bisa kusalahkan.
“Aku belum siap dicium,” kataku tiba-tiba.
“Baik.”
“Bukan karena tidak ingin.”
“Saya mengerti.”
“Aku juga belum siap cerita det**l malam 23.48.”
“Kamu tidak perlu.”
Aku menatap profilnya. “Kakak benar-benar tidak penasaran?”
“Sangat penasaran,” katanya, membuatku terkejut. “Tapi saya lebih ingin kamu merasa aman mengatakan tidak.”
Aku tersenyum.
Kami duduk sampai kafe tutup. Ketika berdiri, tangannya bergerak seolah hendak menawarkan pegangan, lalu berhenti sebelum menyentuh.
Aku memperhatikan.
“Boleh?” tanyanya.
“Belum,” jawabku, kali ini sambil tersenyum.
Ia menurunkan tangan tanpa kecewa.
Di depan kos, sebelum berpisah, aku memanggil, “Kak Rendra.”
“Iya?”
“Besok tanya lagi.”
Wajahnya akhirnya menunjukkan senyum yang tidak disaring.
“Baik.”
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!