Saya menghabiskan satu hari penuh menahan diri agar tidak menanyakan terlalu cepat.
Maura datang ke ruang editing untuk mengambil kembali kartu akses tim. Ka**snya selesai, rekomendasi magang pulih, dan Alya menawarkan posisinya kembali. Ia belum menjawab, tetapi ia membantu menyusun protokol baru tentang perangkat pribadi.
Saya memperhatikan dari jauh sampai pekerjaan selesai. Setelah semua orang pergi, kami berjalan menuju tangga gedung.
“Besok sudah datang,” kata saya.
Maura menatap saya, lalu tertawa pelan. “Kakak benar-benar mencatat?”
“Saya terbiasa mengikuti tenggat.”
Hujan mulai turun. Kami berdiri di bawah kanopi yang sama seperti beberapa minggu lalu, ketika saya menahan diri untuk tidak mengantar karena ia mengatakan tidak perlu.
Saya mengangkat tangan, tetapi tidak langsung menyentuh.
“Boleh saya memegang tanganmu?”
Maura melihat tangan saya c**up lama. Saya siap menerima tidak.
“Boleh.”
Saya menyentuh ujung jarinya lebih dulu, memberi waktu untuk mundur. Ketika ia tidak menarik tangan, saya menggenggam perlahan. Tidak ada kamera. Tidak ada penonton. Hanya suara hujan dan tekanan kecil telapak tangannya yang menjawab.
Maura menarik napas panjang. “Rasanya tidak seperti yang kubayangkan.”
Saya khawatir. “Buruk?”
“Lebih nyata.”
Kami berjalan ke gerbang sambil berpegangan. Sesekali genggamannya mengendur ketika ada mahasiswa lewat, lalu kembali erat setelah mereka menjauh. Saya tidak menuntut keberanian yang sama setiap detik.
Di bawah payung, ia berkata, “Aku takut kehilangan kendali kalau terlalu dekat.”
“Kita berhenti kapan pun kamu bilang.”
“Kalau aku tidak tahu cara bilang?”
“Kamu bisa lepaskan tangan. Atau bilang tunggu. Atau tidak membalas.”
Ia mengangguk.
Saya ingin mengatakan bahwa saya mencint**nya, tetapi kata itu terasa terlalu besar untuk tahap awal yang baru kami bangun. Jadi saya memilih hal yang dapat dibuktikan.
“Saya suka kamu,” kata saya. “Saya ingin mengajakmu berkencan setelah semua urusan panitia selesai. Tidak sebagai koordinator dan anggota.”
“Urusan panitia selesai minggu depan.”
“Saya tahu.”
“Lama.”
Saya menoleh. Maura tersenyum malu.
“Apakah itu berarti kamu setuju?”
“Berarti aku mempertimbangkan dengan sangat positif.”
“Jawaban komunikasi yang aman.”
“Belajar dari Kakak.”
Di gerbang kos, kami berhenti. Saya masih memegang tangannya, lalu bertanya, “Boleh saya lebih dekat?”
Maura mengangguk. Saya melangkah sampai jarak kami tinggal beberapa sentimeter. Tidak menyentuh wajahnya, tidak mencium. Saya hanya berdiri c**up dekat agar ia dapat memilih maju atau mundur.
Ia mengangkat wajah, lalu berhenti.
“Belum,” katanya.
“Baik.”
Saya mundur setengah langkah.
Maura tidak melepaskan tangan. “Aku suka Kakak berhenti.”
“Saya juga suka kamu bilang.”
Ia menatap saya, kemudian berkata pelan, “Rendra.”
Tanpa gelar.
Satu kata itu terasa lebih intim daripada semua percakapan tengah malam.
Saya tersenyum. “Iya, Maura?”
Wajahnya memerah, tetapi kali ini ia tidak menunduk. “Sampai besok.”
“Sampai besok.”
Ia ma**k ke kos. Saya menunggu sampai pintu tertutup, lalu melihat tangan yang beberapa menit lalu digenggamnya.
Tidak ada bukti digital. Tidak ada foto.
Tetapi untuk pertama kalinya, saya tidak takut bahwa perasaan ini hanya hasil salah membaca tatapan.
Lanjutkan Membaca Bab 21 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!