Tiga minggu setelah sidang etik, Festival Arunika menutup seluruh rangkaian kegiatan dengan pameran foto.
Namaku tercetak kecil di bawah beberapa karya dokumentasi. Rekomendasi magang telah pulih, dan aku menerima tawaran kembali ke tim media dengan peran baru sebagai koordinator perlindungan arsip pribadi. Faris menjalani proses disiplin dan tidak lagi memiliki akses ke perangkat panitia.
Rumor belum hilang sepenuhnya. Beberapa orang masih menatap ketika aku berjalan bersama Rendra. Namun tatapan mereka tidak lagi menentukan jarak kami.
Di pameran, satu foto Rendra yang kupotret dengan izin dipajang di dinding. Foto yang ia pilih sendiri—wajah lelah, lengan kemeja kusut, dan tatapan langsung ke kamera.
“Masih seperti cara kamu melihat saya?” tanyanya.
“Sekarang aku melihat lebih banyak kekurangan.”
“Syukurlah.”
Kami tertawa.
Rendra sudah menyelesaikan tugasnya sebagai koordinator kreatif. Sore itu, ia tidak memakai lanyard atau jaket panitia. Ia hanya datang sebagai seseorang yang mengajakku berkencan pertama kali setelah urusan organisasi selesai.
Kami berjalan ke booth cahaya tempat foto Maura—foto diriku—pernah diambil tanpa kusadari dalam konteks dokumentasi resmi. Rendra mengeluarkan kamera instan.
“Boleh kita membuat satu foto bersama?” tanyanya.
Aku merasakan sisa kecemasan. Foto bisa disalin, disebarkan, dan diberi arti oleh siapa pun. Namun kali ini aku memahami bahwa ketakutan tidak harus membuat semua kenangan dilarang.
“Untuk siapa?”
“Untuk kita. Tidak diunggah tanpa persetujuan keduanya.”
Aku mengangguk. “Boleh.”
Dita membantu menekan tombol. Dalam foto, aku berdiri di samping Rendra, bukan bersembunyi di belakang kamera. Tangannya berada di pinggangku setelah ia bertanya pelan dan aku menjawab iya. Kami tidak berpose seperti pasangan sempurna. Aku masih terlihat gugup. Rendra tersenyum terlalu kecil. Justru itu yang kusukai.
Ketika gambar muncul, kami menunggu warna terbentuk.
“Siapa yang menyimpan?” tanyanya.
Aku mengambil foto tersebut. “Aku.”
Rendra mengangkat alis.
“Kali ini sengaja.”
Kami pergi ke Kafe 00.13 setelah pameran. Di meja yang sama dengan percakapan tanpa layar, aku membuka ponsel dan membuat album baru. Aku tidak menamainya 23.48. Tidak menggunakan angka tersembunyi atau ikon kunci.
Namanya: Dipilih Bersama.
Aku memotret hasil kamera instan, lalu menunjukkan pengaturan album kepada Rendra. Sinkronisasi cloud dimatikan. Tidak ada akses bersama otomatis.
“Boleh saya punya salinan?” tanyanya.
“Boleh.”
Aku mengirimnya melalui transfer langsung. Ia menyimpan di depanku.
Kami duduk diam beberapa saat. Kedekatan kami kini terasa biasa dengan cara yang indah. Tidak ada skandal yang harus diselesaikan. Tidak ada bukti yang perlu dikumpulkan.
Rendra memegang tanganku. “Maura.”
“Iya?”
“Boleh saya mencium kamu?”
Tubuhku menegang sejenak karena semua fantasi lama kembali muncul—versi yang selalu bisa kukendalikan karena hanya hidup di kepala. Namun di hadapanku ada Rendra yang nyata, menunggu, tidak bergerak sampai mendapat jawaban.
Aku mengangguk, lalu menyadari ia membutuhkan kata.
“Boleh.”
Ia mendekat perlahan. Ciuman pertama kami hangat, singkat, dan jauh lebih tenang daripada imajinasiku. Tidak ada rasa memiliki paksa. Tidak ada kemenangan karena rahasia terbongkar. Hanya dua orang dewasa yang sama-sama memilih berada di sana.
Ketika kami berpisah, Rendra masih menunggu untuk memastikan aku baik-baik saja.
“Aku baik,” kataku sambil tertawa gugup.
“Yakin?”
“Yakin.”
Aku membuka album Dipilih Bersama. Dua salinan foto itu sudah tersimpan: satu di ponselku, satu di ponselnya.
Foto pertama Rendra tersimpan karena tidak sengaja. Selama berbulan-bulan, aku mengira rahasia itu adalah bukti bahwa ada sesuatu yang salah dalam diriku.
Foto yang baru kusimpan berbeda.
Aku memilih gambarnya. Memilih batasnya. Memilih siapa yang boleh memilikinya. Dan ketika Rendra menggenggam tanganku lagi, aku juga memilih hubungan yang tidak lagi membutuhkan folder tersembunyi.
“Yang ini kusimpan karena aku memilihnya,” kataku.
Rendra tersenyum. “Saya juga.”
Untuk pertama kalinya, sebuah foto tidak menjadi tempatku bersembunyi.
Ia menjadi kenangan yang kami buat bersama.
Lanjutkan Membaca Bab 22 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!