Foto yang Tak Sengaja Tersimpan

Bab 3: Bab 3: Ponsel di Tangan Rendra

Pengaturan Membaca

Ruang editing hampir kosong ketika aku tiba. Hanya satu lampu di atas meja utama yang menyala, sementara lorong Gedung Kreatif sudah sunyi. Rendra duduk di depan komputer dengan lengan kemeja digulung sampai siku. Di sampingnya ada dua gelas kopi, salah satunya belum disentuh.

“Kamu benar-benar datang,” katanya.

“File-nya dibutuhkan.”

“Alasan yang sangat dokumentasi.”

Aku berdiri di sisi meja dan membuka aplikasi transfer. Laptop utama mendadak menampilkan layar biru sebelum file sempat dikirim. Rendra menghela napas, mencoba menyalakannya kembali, lalu melihat ponselku.

“Boleh pinjam sebentar? Aku kirim ke email tim lewat browser. Kamu bisa lihat dari samping.”

Pertanyaan itu sederhana. Persetujuanku juga seharusnya sederhana.

Aku mengangguk dan menyerahkan ponsel yang sudah terbuka pada folder file festival. “Jangan keluar dari aplikasi.”

Rendra menatapku sepersekian detik, mungkin heran pada nada suaraku. “Baik.”

Ia tidak membawa ponsel menjauh. Ia membuka browser, ma**k ke email panitia, lalu kembali ke galeri untuk melampirkan file. Aku berdiri sangat dekat, c**up dekat untuk melihat gerakan jarinya dan mencium aroma kopi dari kemejanya.

File yang kubutuhkan tidak muncul pada album terbaru. Rendra menekan ikon kembali.

Galeri utama terbuka.

Deretan album muncul: Kamera Kedua, Revisi Poster, Foto Dita, Unduhan, dan satu album tersembunyi yang seharusnya tidak terlihat. Pembaruan aplikasi tadi pagi rupanya mengubah pengaturan tampilan. Nama 23.48 muncul di bawah ikon abu-abu dengan tanda kunci kecil.

Darah terasa turun dari wajahku.

“Yang festival yang mana?” Rendra bertanya.

“Kembalikan.”

Ia menoleh. “Maura?”

“Ponselnya. Sekarang.”

Tanganku bergerak terlalu cepat dan menyenggol gelas kopi. Rendra menangkapnya sebelum tumpah, sementara ponsel tetap berada di tangan kirinya. Layar bergeser sedikit. Jarinya berada tepat di atas folder 23.48.

Aku tidak bisa bernapas.

Jika ia menekannya, aplikasi akan meminta sidik jari. Ia tidak akan langsung melihat foto. Namun pertanyaan saja sudah terasa c**up untuk menghancurkanku. Apa isi folder itu? Mengapa aku panik? Mengapa angkanya sama dengan waktu semalam?

Rendra menatap wajahku, lalu layar.

Jarinya berhenti.

Ruangan menjadi sangat sunyi sampai bunyi kipas komputer terdengar seperti mesin besar.

Ia tidak menekan folder. Ia mematikan layar dengan tombol samping, lalu menyerahkan ponsel kepadaku menggunakan kedua tangan.

“Maaf,” katanya. “Aku tidak sengaja keluar dari album.”

Aku merebutnya dan memeluk ponsel ke dada. “Saya bilang jangan keluar.”

“Benar. Itu kesalahanku.”

Ia tidak bertanya apa isi folder. Tidak mencoba bercanda. Tidak mengatakan kepanikanku berlebihan. Sikap tenangnya justru membuat rasa malu membesar karena aku tak punya tempat untuk meletakkan amarah.

“Kita kirim besok,” katanya. “Aku akan jelaskan masalah perangkat.”

“Aku bisa cari cara lain.”

“Tidak perlu membuktikan apa-apa malam ini.”

Aku mema**kkan ponsel ke tas, tetapi tanganku gemetar. Saat berjalan ke pintu, Rendra memanggilku.

“Maura.”

Aku berhenti tanpa berbalik.

“Aku tidak membuka apa pun.”

Kalimat itu seharusnya menenangkan. Sebaliknya, aku mendengar sesuatu yang lain di baliknya: ia tahu ada sesuatu yang sangat ingin kusembunyikan.

Di lorong, aku membuka folder 23.48 hanya untuk memastikan. Foto Rendra masih ada, tidak berubah, tidak tersentuh.

Tetapi mulai malam itu, setiap kali melihat gambar tersebut, aku tak lagi hanya mengingat fantasi rahasiaku.

Aku juga mengingat jari Rendra yang berhenti tepat di atas namanya sendiri.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca