Ponsel Maura terasa ringan di tanganku, tetapi kepanikannya membuat benda itu seolah memiliki berat yang tidak seharusnya.
Aku hanya perlu mengirim satu dokumen. Ketika galeri kembali ke halaman utama, aku melihat nama folder 23.48 dan ikon kunci. Tidak ada gambar, tidak ada petunjuk isi. Hanya perubahan napas Maura dan cara ia berkata kembalikan seolah aku sedang berdiri di ambang kamar pribadinya.
Aku pernah berada di posisi sebaliknya. Dua tahun lalu, seorang rekan organisasi mengambil potongan percakapan pribadiku dengan junior dan menjadikannya bukti bahwa aku memanfaatkan kedekatan. Tuduhan itu akhirnya terbukti salah, tetapi penjelasan tidak pernah bergerak secepat rumor. Sejak saat itu aku belajar bahwa batas paling aman adalah batas yang tidak perlu diperdebatkan.
Karena itu, aku mematikan layar.
Maura pergi setelah aku mengembalikan ponsel. Aku menunggu sampai suara langkahnya menghilang di lorong, lalu mengirim pesan kepada Alya, ketua panitia, bahwa file pembukaan terlambat karena komputer bermasalah. Tidak ada nama Maura di dalam penjelasan.
Seno datang lima belas menit kemudian membawa laptop cadangan. Ia melihat dua gelas kopi dan satu kursi kosong.
“Anak divisi foto tadi di sini?”
“Maura.”
“Nah, kamu hafal namanya.”
“Aku hafal semua anggota.”
Seno menatapku seperti editor melihat potongan gambar yang tidak cocok. “Kamu tidak pernah mengoreksi orang kalau kami menyebut anggota lain berdasarkan divisi.”
Aku mengabaikannya dan memindahkan file. Namun nama folder itu terus muncul dalam pikiranku. Angka 23.48. Waktu pesan pertama kami semalam hampir sama. Mungkin hanya album tugas. Mungkin catatan keluarga. Mungkin sesuatu yang sama sekali tidak berkaitan denganku.
Tetapi kepanikan Maura berubah saat mataku berpindah dari folder ke wajahnya. Ia tidak takut aku melihat rahasia umum. Ia takut aku memahami sesuatu.
Pagi berikutnya, aku bertemu dengannya di koridor. Maura langsung memindahkan ponsel dari tangan kanan ke dalam tas. Gerakan refleks itu terlalu cepat untuk tidak diperhatikan.
“Aku sudah mengirim file dari salinan kamera,” kataku. “Tidak ada masalah.”
“Baik.”
“Aku juga menghapus login email tim dari browser ponselmu.”
Ia mengangguk tanpa menatapku.
Aku ingin menjelaskan sekali lagi bahwa aku tidak membuka folder. Namun mengulang kalimat itu bisa terdengar seperti permintaan kepercayaan yang belum pantas kuminta.
“Maura,” panggilku ketika ia hendak pergi.
Ia menoleh, waspada.
“Aku tidak akan bertanya tentang sesuatu yang bukan urusanku.”
Untuk pertama kali, matanya benar-benar bertemu dengan mataku. Ada rasa malu di sana, tetapi juga keraguan yang lebih tajam.
“Bagaimana Kak Rendra tahu itu bukan urusan Kakak?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam.
Karena nama folder itu tidak mengatakan apa-apa. Karena aku hanya menebak berdasarkan reaksi. Karena mungkin, tanpa sadar, aku sudah memperhatikan Maura lebih banyak daripada yang aman.
Ia menunggu jawaban, lalu tersenyum tipis tanpa humor. “Itu juga yang saya pikirkan.”
Maura berjalan pergi.
Seno muncul dari belakang pilar sambil membawa kamera. “Kamu baru saja membuat percakapan sederhana terdengar seperti interogasi.”
“Aku mencoba menghargai batas.”
“Kalau terlalu hati-hati, orang bisa mengira kamu sedang menyembunyikan sesuatu.”
Aku menatap punggung Maura yang menghilang di tangga.
Masalahnya, aku memang menyembunyikan sesuatu. Bukan isi foldernya. Aku sama sekali tidak tahu apa yang ada di sana.
Aku menyembunyikan fakta bahwa tatapan Maura sudah lama kusadari—dan bahwa beberapa minggu terakhir, aku mulai menunggu tatapan itu muncul.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!