Foto yang Tak Sengaja Tersimpan

Bab 5: Bab 5: Tatapan yang Sudah Lama

Pengaturan Membaca

Aku pertama kali menyadari Maura pada hari pembukaan festival, jauh sebelum ponselnya berada di tanganku.

Ia berdiri di balik kamera kedua, terlalu serius untuk seseorang yang sedang memotret permainan mahasiswa. Setiap kali aku berpindah posisi, lensanya mengikuti suasana, bukan wajahku. Namun ketika ia menurunkan kamera, tatapannya berhenti sepersekian detik lebih lama.

Aku tidak menganggap itu izin. Kekaguman seorang junior kepada koordinator bisa lahir dari banyak hal: rasa hormat, gugup, atau sekadar kebiasaan melihat orang yang memberi instruksi. Karena pengalaman masa lalu, aku memilih tidak membalas apa pun yang dapat disalahartikan.

Tetapi setelah malam di ruang editing, perubahan Maura menjadi sulit diabaikan. Ia selalu memastikan ponselnya terkunci. Ia menjawab pesanku dengan kalimat yang terlalu formal. Ketika aku mendekat untuk melihat layar kameranya, bahunya menegang meski kakiku masih berjarak satu meter.

Aku mencoba mengurangi interaksi. Hasilnya justru lebih buruk. Ia menganggap diamku sebagai penilaian.

Pada rapat berikutnya, Alya membagi pekerjaan foto profil panitia. Nama Maura berada di bawah tanggung jawab dokumentasi kreatif, langsung bersamaku. Aku hampir meminta pertukaran anggota, lalu mengingat itu juga keputusan sepihak atas namanya.

Setelah rapat, kutemukan Maura sendirian menyusun lensa di lemari.

“Kita perlu bicara soal jadwal foto,” kataku.

Ia hampir menjatuhkan penutup lensa. “Bisa lewat grup.”

“Bisa. Tapi aku ingin memastikan kamu nyaman bekerja denganku setelah kejadian ponsel.”

Wajahnya memerah. “Tidak ada kejadian.”

“Baik.”

Jawaban cepatku membuatnya mengerutkan kening. “Kak Rendra selalu setuju begitu saja?”

“Kalau kamu bilang tidak ada kejadian, aku tidak punya hak memaksa versi lain.”

Ia menutup lemari lebih keras dari perlu. “Itu membuat saya merasa Kakak tahu tetapi pura-pura tidak tahu.”

Aku menghela napas. Inilah alasan kehati-hatian bisa berubah menjadi kebingungan.

“Aku tahu kamu panik. Aku tidak tahu mengapa.”

“Dan Kakak tidak penasaran?”

“Tentu penasaran.”

Kejujuran itu membuatnya diam.

“Tapi rasa penasaran bukan izin,” lanjutku. “Kalau kamu ingin menjelaskan, aku dengar. Kalau tidak, kita tetap bisa bekerja.”

Maura memandangku seolah sedang menilai apakah kalimatku merupakan jebakan. Lalu ia mengangguk kecil.

Saat ia pergi, ponselku menampilkan kontak baru dari grup panitia. Sebelumnya, nomor Maura tersimpan otomatis sebagai Divisi Foto 2. Aku menekan edit dan menggantinya menjadi Maura Sasmita.

Benda kecil itu terasa seperti pengakuan yang tidak akan diketahui siapa pun.

Malamnya, aku membuka foto dokumentasi. Ada satu gambar Maura di booth cahaya: ia tertawa kepada Dita, kamera tergantung di leher, sama sekali tidak sadar sedang dipotret oleh kamera resmi panitia. Aku berhenti c**up lama untuk menyadari kemiripan yang mengganggu.

Aku juga menyimpan satu foto seseorang yang kusukai.

Bedanya, aku tahu gambar itu milik arsip resmi dan tidak mengandung ruang privat apa pun. Meski begitu, sebelum mengunduhnya ke portofolio, aku ragu.

Akhirnya aku hanya menandainya sebagai favorit di drive panitia. Belum kupindahkan ke perangkat pribadi.

Aku tidak ingin menjadi lelaki yang meminta batas dari Maura sambil diam-diam mengabaikan batasnya sendiri.

Namun saat ponsel menunjukkan pukul 00.12, aku membuka ruang percakapan kami dan mengetik satu pertanyaan kerja yang sebenarnya bisa menunggu pagi.

File poster yang kamu edit sudah final?

Aku menekan kirim pukul 00.13.

Tanda Maura sedang mengetik muncul, hilang, lalu muncul lagi.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca