Pesan Rendra ma**k tepat pukul 00.13.
Aku sedang duduk di lant** kamar dengan punggung bersandar pada ranjang. Folder 23.48 belum kubuka sejak kejadian di ruang editing, tetapi keberadaannya terasa seperti benda hidup di balik layar.
File poster yang kamu edit sudah final?
Aku mengetik Sudah, lalu menghapusnya. Mengetik Belum, besok saya cek, lalu menghapus lagi. Akhirnya aku mengirim:
Sudah hampir final. Ada satu foto yang perlu saya perbaiki warnanya.
Balasan datang cepat.
Rendra: Foto siapa?
Jantungku salah membaca pertanyaan sederhana itu.
Saya tidak hafal. Foto panggung.
Rendra: Jawaban yang sangat aman.
Aku menatap kalimat tersebut. Rendra hampir tidak pernah memakai humor di grup. Di sana, ia hanya mengirim daftar tugas, tenggat, dan tanda centang. Percakapan pribadi membuat suaranya berbeda—lebih ringan, seolah tak perlu menjaga seluruh ruangan.
Kami membahas poster selama lima menit. Setelah urusan selesai, ia tidak langsung mengakhiri percakapan.
Rendra: Tentang kemarin, saya harap kamu tidak merasa ponselmu tidak aman di dekat saya.
Aku menulis Saya baik-baik saja. Menghapus. Menulis Saya malu. Menghapus. Menulis Tidak ada apa-apa. Juga menghapus.
Rendra: Kamu selalu menghapus jawaban sebelum mengirim?
Tanganku berhenti.
Bagaimana Kakak tahu?
Rendra: Indikator mengetik muncul lama, hilang, muncul lagi.
Aku hampir tertawa karena merasa bodoh. Tentu saja. Tidak ada kemampuan membaca pikiran. Tidak ada pengetahuan tentang folder. Hanya aplikasi pesan dan kebiasaanku sendiri.
Saya suka memastikan kalimat saya tidak salah.
Rendra: Kadang kalimat yang terlalu benar justru tidak menjelaskan apa-apa.
Kalimat itu terasa terlalu dekat dengan persoalan yang tidak sedang kami sebut.
Aku mengambil napas, lalu mengirim jawaban sebelum sempat menghapusnya.
Saya merasa malu karena panik. Bukan karena Kakak melakukan sesuatu.
Tiga titik muncul c**up lama.
Rendra: Terima kasih sudah bilang. Saya juga minta maaf karena keluar dari album yang kamu tunjukkan. Kita bisa berhenti sampai di situ.
Kita bisa berhenti sampai di situ. Ia memberi jalan keluar, tetapi sebagian diriku kecewa karena ia benar-benar bersedia berhenti.
Aku memberanikan diri bertanya:
Kak Rendra memang tidak ingin tahu?
Rendra: Ingin tahu dan berhak tahu adalah dua hal berbeda.
Dadaku menghangat dengan cara yang membuat rasa bersalah kembali muncul. Aku memandang folder 23.48. Seseorang yang menjadi pusat rahasiaku justru sedang menjaga agar rahasia itu tetap milikku.
Percakapan berpindah ke hal-hal kecil. Ia bertanya mengapa aku memilih komunikasi, dan aku menjawab karena foto bisa berkata tanpa memaksa orang bicara. Aku bertanya mengapa ia jarang ikut nongkrong setelah rapat. Ia bilang keramaian membuatnya lelah, bukan karena ia membenci orang.
Rendra: Kamu mengira saya sulit didekati?
Aku menahan senyum.
Sedikit.
Rendra: Padahal kamu belum pernah mencoba.
Jawaban itu membuatku menutup wajah dengan bantal.
Dita bergerak di ranjang sebelah. “Siapa yang membuat kamu senyum sendiri?”
“Tidak ada.”
“Tidak ada pasti ganteng.”
Aku melempar bantal kecil ke arahnya dan kembali melihat layar. Sudah pukul 00.41.
Rendra: Tidur. Besok rapat pagi.
Aku mengetik Selamat malam, Kak, lalu sebelum mengirim, menghapus kata Kak. Aku menatap nama Rendra saja di layar, panik pada keberanian kecil itu, kemudian mengetik ulang sapaan formal.
Selamat malam, Kak Rendra.
Balasannya datang satu menit kemudian.
Selamat malam, Maura. Jangan hapus terlalu banyak hal hanya karena kamu takut kalimatnya tidak sempurna.
Aku tahu ia sedang membicarakan pesan.
Namun malam itu, aku membuka folder 23.48 dan bertanya-tanya apakah kalimat tersebut juga dapat berlaku untuk foto.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!