Rapat pagi berlangsung lebih lama dari jadwal. Alya berdebat dengan Faris soal pembagian akses drive, sementara anggota lain menunggu sambil menghabiskan kopi sachet.
Aku duduk di ujung meja, berusaha terlihat seolah pesan pukul 00.13 tidak mengubah cara pandangku terhadap Rendra. Ia berdiri dekat layar proyektor, kembali memakai suara formal yang rapi. Tidak ada petunjuk bahwa semalam kami berbicara tentang kesepian, kalimat yang dihapus, dan kebiasaannya menghindari keramaian.
Saat istirahat, ia meletakkan satu gelas kopi di samping laptopku.
“Untukmu.”
Aku menatap cairan hitam tanpa gula. “Dari mana Kakak tahu?”
“Kemarin di ruang editing. Kopimu tidak disentuh karena terlalu manis.”
“Aku hanya lupa minum.”
“Kalau begitu saya salah.”
Ia hendak mengambil gelas itu, tetapi aku menahannya. Ujung jari kami tidak bersentuhan. Jarak beberapa sentimeter justru terasa lebih jelas daripada sentuhan.
“Tidak salah,” kataku. “Aku memang tidak pakai gula.”
Rendra mengangguk dan kembali ke depan. Tidak ada senyum kemenangan. Tidak ada kalimat bahwa ia memperhatikanku. Ia hanya mengingat.
Perhatian kecil itu mengganggu pertahananku sepanjang hari. Foto di folder 23.48 selama ini adalah versi Rendra yang kubentuk dari jauh: tenang, baik, dan nyaris sempurna. Rendra yang nyata lebih rumit. Ia terkadang terlalu formal, menghindari humor Faris, dan bisa lupa makan ketika sibuk. Namun ia juga menaruh kopi tanpa gula di mejaku tanpa membuatnya menjadi pertunjukan.
Setelah rapat, aku membantu Dita memindahkan tripod.
“Dia juga memperhatikan kamu, ya?” Dita berkata tiba-tiba.
“Hanya kopi.”
“Orang sibuk tidak mengingat kadar gula orang yang tidak ia perhatikan.”
“Aku anggota timnya.”
Dita mengangkat alis. “Faris minum kopi susu. Seno suka americano. Aku bahkan tidak yakin Kak Rendra tahu aku minum apa.”
Aku memandang Rendra di seberang ruangan. Ia sedang berbicara dengan Alya, tetapi matanya sempat bergerak ke arahku. Kontak mata itu hanya berlangsung satu detik. Kali ini aku tidak langsung menunduk.
Sore harinya, kami bekerja di ruang editing. Faris meminta akses penuh ke folder foto mentah dengan alasan perlu membuat teaser cepat. Aku menolak karena album peserta mengandung data kontak di metadata.
“Anak baru jangan terlalu kaku,” katanya. “Semua tim media pakai satu akun.”
“Karena itu log aksesnya tidak jelas,” jawabku.
Rendra yang sedang memasang monitor menoleh. “Maura benar. Mulai hari ini akun dibagi berdasarkan peran.”
Faris mendengus. “Kamu selalu membela anggota dokumentasi sekarang?”
Suasana menjadi canggung. Aku menunggu Rendra menjawab dengan sesuatu yang personal. Ia justru membuka dokumen kebijakan dan menunjuk pasal akses.
“Saya membela prosedur yang benar.”
Jawaban itu membuatku lega. Ia tidak menggunakan kedekatan kami sebagai alasan. Ia juga tidak menjadikanku perempuan yang perlu diselamatkan.
Malamnya, aku menerima pesan.
Rendra: Kopinya diminum?
Aku mengirim foto gelas kosong di meja.
Sudah. Terima kasih.
Rendra: Berarti besok saya tidak perlu menebak lagi.
Aku tersenyum, lalu membuka folder 23.48. Untuk pertama kalinya, gambar itu tidak lagi c**up menenangkan. Aku ingin mendengar suaranya yang nyata, melihat ketukan jarinya di meja, dan mengetahui det**l yang tidak bisa disimpan dalam satu foto.
Fantasi itu belum hilang.
Ia hanya mulai kalah oleh rasa ingin mengenal.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!