Saya meminta Maura memotret profil panitia karena hasil kerjanya paling konsisten. Setidaknya, itulah alasan yang dapat saya sampaikan kepada Alya tanpa terdengar seperti sedang mencari kesempatan berada di depan lensanya.
Kami melakukan sesi di aula kosong. Maura mengatur lampu, memilih latar, lalu berdiri di belakang kamera dengan sikap yang jauh lebih percaya diri daripada ketika berbicara langsung. Di balik lensa, ia tidak tampak seperti mahasiswa yang mudah malu. Ia memberi instruksi jelas.
“Bahu sedikit ke kiri.”
Saya mengikuti.
“Jangan lihat kamera dulu. Lihat pintu.”
Klik.
“Sekarang ke saya.”
Saya menoleh. Kamera menutupi separuh wajahnya, tetapi matanya terlihat di atas layar. Tatapan yang selama ini hanya muncul singkat kini bertahan karena ia memiliki alasan profesional untuk melihat.
“Begini?” tanya saya.
Jari Maura berhenti di tombol rana. “Iya.”
Klik berikutnya terdengar lebih pelan dari yang seharusnya.
Setelah sesi, kami duduk bersebelahan untuk memilih hasil. Saya sengaja menjaga jarak kursi. Maura membuka foto satu per satu. Beberapa terlalu formal. Beberapa terlihat seperti foto calon ketua organisasi yang sedang menjual citra.
Kemudian muncul satu gambar ketika saya menatap langsung ke arahnya. Ekspresinya tidak sempurna. Ada lelah di wajah, lengan kemeja sedikit kusut, dan senyum tipis yang bahkan tidak kusadari.
“Yang ini,” kata saya.
Maura menoleh. “Yang lain lebih rapi.”
“Yang ini seperti cara kamu melihat saya.”
Wajahnya langsung memerah. Saya menyadari kalimat itu dapat terdengar seperti tuduhan.
“Maksud saya, hasilnya tidak terlalu dibuat,” tambah saya. “Kalau kamu tidak nyaman, pilih yang lain.”
Ia kembali melihat layar. “Saya nyaman.”
Kalimat sederhana itu membuat ruangan terasa lebih sempit.
“Boleh saya minta salinannya untuk portofolio pribadi?” tanya saya.
Maura tampak terkejut. “Foto Kakak sendiri?”
“Foto yang kamu buat. Hak kredit tetap milikmu.”
Ia mengangguk, lalu mengirim file melalui aplikasi transfer. Proses itu berbeda dari malam ketika saya meminjam ponselnya. Kali ini ia memilih file, memilih penerima, dan melihat konfirmasi bersama saya. Tidak ada album lain terbuka. Tidak ada batas yang kabur.
Ketika file ma**k, saya menekan simpan. Maura memperhatikan gerakan saya.
“Sekarang Kakak punya foto yang sengaja disimpan,” katanya.
Ada sesuatu dalam kata sengaja yang membuat saya menatapnya lebih lama.
“Ya,” jawab saya. “Dan saya sudah meminta izin.”
Ia menarik napas kecil, seolah kalimat itu menyentuh sesuatu yang tidak saya ketahui.
Sebelum pergi, saya meminta satu hal lagi. “Maura.”
“Iya?”
“Kalau lain kali kamu ingin memotret saya di kegiatan, tidak perlu pura-pura sedang menguji cahaya.”
Matanya membesar. Saya segera melanjutkan sebelum ia merasa terpojok.
“Saya sudah melihat beberapa kali. Saya tidak keberatan selama konteksnya kegiatan dan file dikelola sesuai aturan.”
Ia menunduk, kemudian berkata sangat pelan, “Kak Rendra sudah lama sadar?”
“C**up lama.”
Saya melihat rasa malu bergerak di wajahnya. Saya ingin menambahkan bahwa saya juga menyukainya, tetapi belum tahu apakah pengakuan itu akan membebaskan atau justru menekan.
Jadi saya hanya mengangkat kamera dan bertanya, “Boleh saya memotret fotografernya sekarang? Untuk dokumentasi sesi.”
Maura ragu, lalu berdiri di bawah lampu.
“Boleh.”
Saya menekan rana setelah ia siap. Foto itu ma**k ke kartu memori panitia, bukan ponsel pribadi.
Namun malamnya, saat memeriksa hasil, saya menandainya sebagai favorit.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!