Hujan membuat seluruh panitia pulang lebih cepat, tetapi aku dan Rendra masih harus menyelesaikan revisi video pembukaan. Ruang editing hanya diterangi monitor dan satu lampu meja. Cahaya biru membuat bayangan tangan kami jatuh di permukaan meja.
Aku duduk di kursi utama. Rendra berdiri di belakangku, sesekali menunjuk bagian layar. Ia tidak pernah menyentuh bahuku untuk mengarahkan, meskipun posisi kami sempit. Setiap kali perlu mengambil mouse, ia bertanya, “Boleh?” lalu menunggu sampai aku melepaskan tangan.
Kehati-hatian itu membuatku semakin sadar pada setiap kemungkinan sentuhan yang tidak terjadi.
“Potong dua detik di sini,” katanya.
Aku mengikuti. Video menampilkan potongan foto dirinya yang kupilih untuk poster. Untuk sepersekian detik, layar memenuhi wajah yang sama dengan isi folder 23.48.
Aku buru-buru menggeser timeline.
Rendra memperhatikan. “Kamu selalu terburu-buru kalau gambar saya muncul.”
“Karena durasinya terlalu panjang.”
“Dua detik?”
“Dalam video, dua detik lama.”
“Dalam percakapan juga.”
Aku menoleh. Wajahnya berada lebih dekat dari dugaan, tetapi ia segera mundur setengah langkah. Tindakan kecil itu membuatku sadar ia juga merasakan jarak.
Kami kembali bekerja sampai listrik berkedip. Monitor mati sebentar. Dalam gelap, aku hanya mendengar napas kami dan suara hujan di jendela.
“Aman?” tanya Rendra.
“Iya.”
Lampu menyala kembali. Tanganku masih mencengkeram tepi meja.
Rendra menarik kursi lain dan duduk, tidak lagi berdiri di belakangku. “Maura, apakah kamu takut kepada saya?”
Pertanyaannya membuat pertahananku naik. “Kenapa tanya begitu?”
“Karena kamu nyaman saat membicarakan pekerjaan, lalu tegang setiap kali saya mendekat. Saya tidak ingin posisi saya sebagai koordinator membuatmu sulit berkata tidak.”
Aku menatap layar, bukan wajahnya. “Aku tidak takut Kakak akan melakukan sesuatu.”
“Lalu?”
Aku bisa menjawab bahwa aku takut pada diriku sendiri. Takut ia melihat folder, memahami malam pribadi itu, lalu menilai setiap tatapanku sebagai sesuatu yang kotor. Namun kata-kata tersebut terlalu te*******.
“Aku takut salah membaca perhatian,” kataku akhirnya.
Rendra diam c**up lama.
“Itu ketakutan yang sama,” ujarnya.
Aku menoleh.
“Saya menjaga jarak karena takut perhatian saya terasa seperti tekanan. Tapi kalau diam membuatmu merasa sedang diamati, mungkin itu juga tidak adil.”
Hujan terdengar lebih jelas. Aku ingin bertanya perhatian seperti apa, tetapi pintu ruang editing terbuka dan Faris ma**k mengambil charger.
“Masih berdua?” tanyanya dengan nada yang dibuat sant**.
Rendra langsung memindahkan kursinya lebih jauh. Perubahan itu logis, tetapi terasa seperti penolakan yang menyakitkan.
Setelah Faris pergi, suasana tidak kembali sama.
Rendra menutup proyek. “Kita lanjut besok.”
Aku mengangguk, mema**kkan ponsel ke tas, lalu berjalan ke pintu. Di tangga, ia menyusul dengan payung.
“Saya antar sampai gerbang.”
“Tidak perlu.”
“Baik.”
Ia berhenti, benar-benar menghormati penolakanku. Anehnya, aku berharap ia membantah.
Aku berjalan menembus hujan ringan sendirian. Beberapa menit kemudian, pesan ma**k.
Rendra: Saya tidak mundur karena Faris datang. Saya hanya tidak ingin orang lain membuat situasi yang tidak kamu pilih.
Aku membaca pesan itu tiga kali.
Aku: Lalu situasi apa yang Kakak pilih?
Tanda mengetik muncul lama. Hilang. Muncul lagi.
Rendra: Situasi ketika saya bisa menjawab itu tanpa membuatmu merasa harus memberi jawaban yang sama.
Pesan tersebut membuatku berhenti di bawah lampu gerbang.
Untuk pertama kalinya, kemungkinan bahwa perasaanku tidak sepenuhnya satu arah terdengar lebih nyata daripada foto mana pun.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!