Dingin. Itu adalah satu-satunya sensasi fisik yang tersisa sejak aku terbangun dalam balutan baja surgawi ini. Namun, dinginnya logam Aethelgard tidak seberapa dibandingkan dengan rasa muak yang menjalar setiap kali jemari Alaric membelai gagang pedangku.
Pagi ini, di ruang persenjataan pribadi yang dipenuhi cermin setinggi langit-langit, Pangeran Alaric sedang melakukan rutinitas favoritnya: mengagumi dirinya sendiri. Ia memutar-mutar tubuhnya, membiarkan jubah putih peraknya berkibar, sementara aku—dalam wujud pedang legendaris—tergantung di pinggangnya seperti aksesori mahal.
"Kau lihat itu, Aethelgard?" bisiknya dengan nada yang membuatku ingin muntah jika saja aku punya perut. "Bahkan cahaya matahari pun tampak berebut untuk menyentuh pundakku. Hari ini, kita akan menunjukkan pada dunia bahwa sang Pahlawan tidak tertandingi."
*Kau hanya seorang narsistik dengan kompleks Tuhan, Alaric,* batinku sinis. Suaraku hanya menggema di ruang hampa kesadaranku sendiri, tak terdengar oleh telinganya yang bebal.
Aku harus bergerak. Kabar tentang Elara—Raja I**** yang sebenarnya adalah sahabat masa kecilku yang malang—semakin santer terdengar. Pa**kan Alaric sedang mempersiapkan ekspedisi pembersihan ke wilayah perbatasan, dan aku tahu itu berarti kematian bagi Elara jika Alaric memegang kendali penuh atas kekuatanku.
Aku mulai memusatkan fokus. Sebagai 'Pedang Resonansi', tugasku adalah memperkuat sihir penggunanya. Namun, aku telah belajar satu trik baru: disonansi.
Saat Alaric melangkah menuju lapangan latihan, aku mulai menyusupkan riak energi kecil ke dalam aliran mananya. Rasanya seperti mema**kkan butiran pasir ke dalam mesin yang berminyak pelumas. Pelan, halus, tapi merusak.
Di lapangan, puluhan ksatria suci sudah berdiri tegak, menunggu pertunjukan rutin sang pangeran. Alaric menarikku dari sarungnya dengan gerakan teatrikal yang berlebihan. Cahaya emas seharusnya memancar dariku, memukau semua orang. Namun, saat dia menyalurkan mananya, aku sengaja 'mencekik' jalur energi itu.
*Zzap!*
Bukannya pilar cahaya yang agung, yang muncul hanyalah percikan listrik kecil yang redup, menyerupai lampu pijar yang hampir mati.
Alaric tersentak. Alis pirangnya yang tertata rapi berkerut. "Apa ini?" gumamnya pelan.
Dia mencoba lagi. Kali ini dia mengayunkan tebasan horizontal untuk menghancurkan deretan boneka kayu di depannya. Aku merespons dengan memberatkan massa logamku di detik terakhir. Keseimbangannya goyah. Tebasan yang seharusnya presisi itu meleset jauh, ujung pedangku hanya menyerempet bahu boneka, dan Alaric hampir terjungkal karena momentum yang tidak stabil.
Suara bisik-bisik mulai terdengar dari barisan ksatria. Wajah Alaric memerah, bukan karena lelah, tapi karena malu.
"Ada yang salah dengan gauntlet ini," geram Alaric, menyalahkan pelindung lengannya yang bertahtakan permata. Dia melepaskan sarung tangan besinya dengan kasar dan melemparkannya ke tanah. "Atau mungkin armor ini terlalu ketat!"
Aku tertawa dalam hati. *Teruslah menyalahkan pakaianmu, Merak Emas. Masalahnya ada di tanganmu.*
Aku beralih ke peralatan lainnya. Alaric mengenakan jubah 'Aegis of Dawn' yang seharusnya memberinya perlindungan pasif. Aku menggunakan resonansi sihirku untuk mengganggu jalinan mantra pada jubah itu. Tiba-tiba, jubah itu terasa berat dan kaku, membelit kakinya saat dia mencoba melakukan manuver serangan berikutnya.
"Si****!" Alaric memaki. Dia terhuyung, gerakannya kini tampak kikuk, jauh dari citra pahlawan yang anggun.
Dia mencoba memanggil serangan pamungkasnya, *'Judgment of the Sun'*. Biasanya, aku akan menyedot mananya dan mengubahnya menjadi ledakan panas yang menghancurkan. Kali ini, aku membiarkan mananya ma**k, tapi bukannya melepaskannya keluar, aku mengalirkan energi itu kembali ke tangannya dalam bentuk getaran frekuensi tinggi yang menyakitkan.
"Argh!" Alaric melepaskan pegangannya. Aku terjatuh ke tanah dengan dentang logam yang m****akkan telinga.
Hening seketika menyelimuti lapangan latihan. Seorang Pahlawan menjatuhkan senjata legendarisnya? Itu adalah penghinaan, sebuah pertanda buruk.
Alaric berdiri terpaku, menatap telapak tangannya yang memerah dan bergetar. Dia kemudian menunduk, menatapku yang tergeletak di rumput. Matanya yang biasanya penuh pemujaan diri kini memancarkan sesuatu yang lain: kecurigaan yang tajam.
"Pangeran Alaric, apakah Anda baik-baik saja?" Kapten ksatria mendekat dengan wajah cemas.
Alaric tidak menjawab. Dia memungutku perlahan. Aku bisa merasakan cengkeramannya jauh lebih kuat dari biasanya, seolah dia sedang berusaha meremukkan gagangku. Dia membawaku setinggi mata, menatap bilahku yang mengkilap, mencari pantulan jiwaku di dalamnya.
"Pedang ini..." suaranya rendah, bergetar karena amarah yang tertahan. "Sejak pertempuran di lembah terakhir, beratnya tidak konsisten. Aliran mananya terasa... mual."
Dia mengusap jemarinya di sepanjang permukaan bilahku. Aku mencoba tetap diam, mengunci semua aktivitas magisku, berpura-pura menjadi sepotong besi mati.
"Aethelgard adalah senjata suci yang ditempa oleh dewa. Ia tidak mungkin rusak," gumam Alaric, lebih kepada dirinya sendiri. "Kecuali..."
Dia menjeda kalimatnya, dan aku merasakan dingin yang berbeda merayapi kesadaranku.
"Kecuali jika ada sesuatu yang mengotori resonansinya. Sesuatu yang gelap. Sesuatu yang... terkutuk."
Alaric tidak memanggil pelayan untuk membawakan perlengkapannya. Dia menyarungkan aku dengan sentakan kasar yang membuat 'tubuhku' bergetar kesakitan.
"Batalkan latihan hari ini!" teriaknya pada sang kapten tanpa menoleh. "Panggil Pendeta Agung Malachi ke ruang pribadiku. Bawa dupa pemurnian dan air suci tingkat tinggi."
Aku tersentak di dalam batinku. Pendeta Agung Malachi dikenal karena kemampuannya 'membaca' sisa-sisa jiwa dalam benda mati. Jika dia melakukan ritual pemurnian penuh, ada kemungkinan keberadaanku akan terdeteksi—atau lebih buruk lagi, jiwaku akan 'dibersihkan' paksa dari pedang ini sebelum aku sempat menyelamatkan Elara.
Alaric berjalan cepat menuju menara, tangannya terus mencengkeram gagangku dengan protektif sekaligus penuh selidik. "Jika kau memang berkhianat padaku, Aethelgard," bisiknya dengan nada dingin yang menusuk, "aku sendiri yang akan mematahkan bilahmu dan menempa ulang jiwamu di api penyucian."
Permainan sabotaseku baru saja berubah menjadi perang bertahan hidup. Jika aku tidak menemukan cara untuk mengecoh sang Pendeta Agung, perjalanan ini akan berakhir sebelum aku sempat mengucapkan selamat tinggal pada Elara.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!