Dinginnya logam yang menyusun tubuhku terasa berdenyut, bukan karena sihir, melainkan karena getaran amarah yang mengalir dari telapak tangan Alaric. Pangeran sombong ini mencengkeram gagangku begitu kuat hingga aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat melalui lapisan kulit sarung tanganku. Kami berada di Aula Agung Kastil Aethelgard, sebuah ruangan dengan atap tinggi yang menggema, dipenuhi aroma dupa mahal dan bau keringat kecemasan dari para penasihat tua yang mengerumuni meja peta di depan kami.
“Itu adalah tindakan bunuh diri, Yang Mulia!” suara Lord Valerius, pria tua dengan janggut putih panjang yang menyapu meja, terdengar gemetar. “Pa**kan Raja I**** sedang mengonsolidasikan kekuatan di Lembah Kelam. Menyerang sendirian untuk menantangnya berduel bukan hanya gegabah, itu menghancurkan seluruh strategi pertahanan kita.”
Alaric mendengus, sebuah suara yang penuh dengan penghinaan. Dia berdiri tegak, membusungkan dada zirah emasnya yang berkilau di bawah cahaya lilin. “Strategi? Kalian bicara seolah-olah aku adalah jenderal pengecut yang bersembunyi di balik barisan tameng. Aku adalah Sang Pahlawan. Aku adalah pemilik Aethelgard.”
Dia mengelus permata di pangkal gagangku, dan aku merasa ingin muntah jika saja aku punya perut.
*Lihat mereka, Alaric,* bisikku langsung ke dalam kesadarannya. Aku menggunakan nada suara yang paling halus, nada yang biasa kugunakan untuk membelai egonya yang rapuh. *Mereka memperlakukanmu seperti porselen retak yang harus dibungkus kain beludru. Mereka tidak melihat singa di depan mereka; mereka hanya melihat seorang anak kecil yang perlu dilindungi.*
Otot rahang Alaric mengencang. Efeknya instan. Dia benci dianggap lemah, dan dia lebih benci lagi dianggap tidak relevan.
“Aku tidak butuh dilindungi oleh orang-orang yang bahkan tidak bisa mengangkat pedang tanpa bantuan pelayan!” gertak Alaric, suaranya menggelegar di aula.
“Ini bukan soal keberanian, Pangeran,” sela Penasihat Militer Kaelen, wajahnya sepucat kertas. “Raja I****—wanita itu—dia menghancurkan Legiun Ketujuh hanya dengan satu lambaian tangan. Jika Anda jatuh, harapan umat manusia ikut runtuh.”
*Wanita itu,* pikirku. Jantung imajinerku mencelos. Elara. Sahabatku yang kini terjebak dalam peran antagonis dunia ini. Aku harus menjauhkannya dari pa**kan besar Alaric. Jika Alaric menyerang dengan seluruh tentara, Elara akan terjepit. Tapi jika ini satu lawan satu... aku bisa mengatur hasilnya. Aku bisa menyabotase Alaric dari dalam.
*Kau dengar itu, Tuanku?* bisikku lagi, kali ini dengan nada sedikit provokatif, hampir seperti ejekan yang disamarkan sebagai kekaguman. *Kaelen baru saja mengatakan bahwa kau akan jatuh. Dia berpikir kekuatanmu tidak c**up untuk menandingi sang Raja I****. Di mata mereka, kejayaanmu hanyalah keberuntungan, bukan takdir.*
“C**up!” Alaric menggeb**k meja kayu jati itu hingga retak. Para penasihat tersentak mundur. “Kalian meragukan kekuatanku? Kalian meragukan pedang suci ini?”
Dia menarikku keluar dari sarungnya dengan gerakan teatrikal. Cahaya perak yang terpancar dari tubuh logamku menyinari ruangan, menyilaukan mata para tua bangka itu. Aku sengaja memendarkan energi sihir sedikit lebih kuat, memberikan ilusi bahwa aku sangat berhasrat untuk bertempur. Alaric merasakan lonjakan energi itu dan wajahnya memerah karena euforia kekuasaan.
*Mereka ingin sejarah menulis bahwa kemenangan ini adalah hasil dari diskusi meja bundar yang membosankan,* aku terus mengha**t, memutar logika di dalam kepalanya yang bebal. *Bayangkan, Alaric... seorang pahlawan, sendirian di bawah langit kelam, menantang kegelapan terdalam dan menang. Itu bukan sekadar sejarah. Itu adalah mitos. Itu adalah keabadian. Jika kau membawa tentara, mereka akan berbagi cahayamu. Apakah kau benar-benar ingin berbagi panggung dengan orang-orang tua ini?*
Alaric menatap bayangannya sendiri di permukaan bilah pedangku. Aku melihat seringai narsistiknya mulai terbentuk. Ketakutannya telah sepenuhnya digantikan oleh haus akan pengakuan.
“Aku tidak akan membawa pa**kan ke garis depan,” pengumuman Alaric mendadak membuat suasana ruangan menjadi hening seketika. “Aku akan berangkat malam ini juga. Kirim utusan ke perbatasan. Sampaikan tantanganku pada sang Raja I****. Duel satu lawan satu di Puncak Sunyi saat bulan mencapai puncaknya.”
“Tapi, Yang Mulia—” Lord Valerius mencoba memprotes, namun Alaric mengangkat tangan, membungkamnya dengan tatapan tajam yang dingin.
“Keputusanku sudah bulat. Jika ada yang mencoba mengikutiku, aku akan menganggapnya sebagai pengkhianat yang mencoba mencuri kemuliaanku,” ancam Alaric. Dia kemudian berbalik, jubah merahnya berkibar saat dia melangkah keluar dari aula dengan langkah-langkah besar yang penuh percaya diri.
Aku bisa merasakan kepuasan yang meluap dari pikirannya. Dia merasa seperti dewa. Sementara itu, di dalam kegelapan batinku, aku menghela napas lega yang tak terdengar. Umpannya sudah dimakan. Aku telah memisahkan sang pemburu dari kelompoknya.
*Bagus, Alaric. Majulah menuju panggungmu,* batinku sambil mempersiapkan aliran sihirku sendiri. *Jadilah pahlawan yang kau inginkan. Dan saat kau kelelahan di depan Elara nanti, saat egomu telah membawamu ke tepi jurang... saat itulah aku akan mengambil alih kendali tubuhmu dan memastikan kau tidak akan pernah menyentuhnya dengan niat membunuh.*
Namun, sebuah keraguan kecil menyelinap di sela-sela rencanaku. Elara bukan lagi gadis kecil yang suka mengejar kupu-kupu di taman belakang rumah kami. Dia adalah Raja I**** sekarang, dengan kekuatan yang bahkan mungkin tidak bisa kukendalikan.
Saat Alaric melompat ke atas kudanya dan memacu hewan itu menembus kegelapan malam menuju wilayah musuh, aku menyadari satu hal: aku baru saja menjerumuskan tuanku ke dalam jebakan, tapi aku juga sedang membawa diriku sendiri menuju pertempuran yang mungkin akan menghancurkan jiwa kami berdua.
Gemerincing logam zirah Alaric dan deru angin malam menjadi latar belakang yang mencekam. Di kejauhan, langit di atas wilayah Raja I**** tampak memerah, seolah-olah dunia itu sendiri sedang bersiap menyambut pertumpahan darah yang akan segera datang.
*Tunggu aku, Elara,* bisikku dalam diam, berharap resonansiku bisa mencapainya sebelum pedang ini menyentuh lehernya.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!