Hawa dingin Lembah Abyssal menusuk hingga ke inti logamku. Seandainya aku masih punya paru-paru, aku pasti sudah menggigil hebat. Namun, sebagai Aethelgard—pedang terkutuk yang dibalut emas dan permata ini—aku hanya bisa merasakan getaran konstan dari telapak tangan Alaric yang berkeringat.
Langkah kaki sang Pangeran terdengar berat di atas tanah gersang yang ditaburi abu vulkanik. Di depan kami, langit berubah warna menjadi ungu lebam, seolah-olah atmosfer itu sendiri membusuk saat kami semakin mendekati wilayah Elara.
"Kau dengar itu, Aethelgard?" Alaric bergumam, suaranya serak namun penuh dengan nada kemenangan yang prematur. Dia mengangkatku tinggi-tinggi, membiarkan cahaya temaram memantul di bilahku yang meng***t. "Angin ini... ia membisikkan namaku. Mereka takut. Seluruh dunia ini gemetar menyambut kedatanganku."
Aku ingin sekali memutar bola mata, andai aku punya. *Itu bukan angin yang membisikkan namamu, Bodoh. Itu suara gesekan tebing batu yang mau runtuh karena sihir pertahanan Elara.*
Di belakang kami, sisa-sisa pa**kan ksatria suci tampak kepayahan. Wajah mereka pucat, mata mereka cekung karena kurang tidur dan tekanan mental. Mereka tahu ini adalah misi bunuh diri, tetapi Alaric? Dia berjalan seolah-olah sedang menuju pesta dansa di istana kerajaan.
"Pangeran Alaric," Sir Kael, komandan ksatria yang tersisa, memberanikan diri mendekat. Kuda tunggangannya mendengus cemas, menolak untuk melangkah lebih jauh. "Sihir pengacau di depan terlalu kuat. Sensor sihir kita mati total. Sebaiknya kita berkemah di sini dan menyusun rencana—"
"Rencana?" Alaric tertawa, suara tawa yang membuat bulu kuduk imajinerku berdiri. Ia berpaling, menatap Kael dengan mata yang berkilat aneh. Ada sesuatu yang retak di dalam sana—ego yang terlalu besar hingga mulai menekan kewarasannya. "Kau bicara soal rencana kepada sang penyelamat dunia? Aku adalah takdir itu sendiri, Kael. Kegelapan ini hanyalah panggung yang disiapkan tuhan untuk memperlihatkan betapa terangnya cahayaku."
Alaric meremas gagang pedangku—tubuhku—begitu keras hingga aku bisa merasakan aliran mana-nya yang tidak stabil. Energi sucinya yang biasanya murni kini terasa panas dan berduri, seperti air raksa yang mendidih.
*Hentikan, Alaric. Kau membuang-buang energi,* batinku, mencoba mengirimkan gelombang resonansi penenang melalui sirkuit sihir di antara kami. Namun, Alaric justru menyerapnya sebagai dorongan adrenalin.
"Lihat! Bahkan pedangku pun bernyanyi karena haus akan darah i****!" teriaknya histeris.
Kami mema**ki celah sempit yang dikenal sebagai 'Tenggorokan Naga'. Dinding batu di kiri-kanan kami tampak seperti daging yang membatu, berdenyut pelan dengan energi hitam. Aku bisa merasakan keberadaan Elara di ujung jalan ini. Jantungku—inti sihirku—berdenyut pilu. Elara, apakah kau merasakan kehadiranku? Ataukah kau hanya melihat pahlawan g*** ini sebagai ancaman yang harus segera dimusnahkan?
Tiba-tiba, kabut hitam pekat mulai merayap dari celah-celah batu. Itu bukan kabut biasa; itu adalah *Miasma Keputusasaan*. Siapa pun yang menghirupnya akan dipaksa melihat ketakutan terdalam mereka. Para ksatria di belakang mulai berteriak. Beberapa jatuh berlutut, menutupi telinga mereka, sementara yang lain mulai saling serang dalam delusi.
"Jangan berhenti!" Alaric memerintah, suaranya menggelegar menembus jeritan anak buahnya. Ia tidak peduli mereka sekarat. "Mereka yang jatuh hanyalah kerikil yang memang pantas terinjak! Hanya aku yang layak berdiri di puncak!"
Alaric terus melangkah maju ke dalam kabut. Matanya tidak lagi melihat jalan setapak; ia melihat sebuah takhta emas yang tidak ada di sana. Delusinya sudah mencapai tahap berbahaya. Ia mulai mengayunkanku ke udara kosong, menebas bayangan yang ia anggap sebagai pa**kan i****.
"Kemarilah, Elara! Tunjukkan wajah burukmu!" Alaric berteriak ke langit yang kosong. "Aku akan memenggal kepalamu dan menjadikannya hiasan di pintu gerbang ibukotaku! Kau hanyalah batu loncatan untuk keabadianku!"
Setiap kata-katanya adalah pisau yang mengiris kesabaranku. Berani-beraninya dia bicara begitu tentang Elara.
Tiba-tiba, tanah di bawah kami bergetar hebat. Sebuah retakan besar terbuka, dan dari dalamnya muncul tentakel bayangan yang dipenuhi mata-mata merah menyala. Ini adalah mekanisme pertahanan otomatis dari kastil Raja I****.
"Hah! Akhirnya tantangan yang layak!" Alaric menyeringai lebar, air liur sedikit menetes dari sudut mulutnya. Ia tidak mengambil posisi bertahan. Sebaliknya, ia berlari kencang menuju lubang itu, melompat tanpa perhitungan.
*Kau g***! Itu jebakan gravitasi!* teriakku dalam pikiran, mencoba mengunci aliran mana agar ia tidak bisa mengeluarkan serangan besar yang akan menguras nyawanya.
Namun, delusi Alaric memberikan kekuatan yang tidak logis. Ia memaksakan kehendaknya padaku. "Aethelgard! Berikan aku semua kekuatanmu! Hancurkan segalanya!"
Energi suci meledak dari tubuh Alaric, namun itu bukan energi yang terkendali. Itu adalah ledakan mentah yang mulai merobek otot-otot lengannya sendiri. Darah mulai merembes dari pori-pori kulitnya, membasahi gagang pedangku. Aku bisa merasakan detak jantungnya melambat karena syok, sementara pikirannya masih berteriak memuja dirinya sendiri.
Dia akan mati sebelum kita sampai ke gerbang jika ini terus berlanjut. Dan jika dia mati dalam keadaan sadar seperti ini, jiwaku akan ikut terseret ke dalam kehampaan bersamanya.
"Aku... aku adalah dewa..." Alaric bergumam, matanya mulai memutih saat ia mendarat di tengah-tengah kerumunan tentakel bayangan. Ia berdiri dengan kaki yang gemetar, mengangkatku dengan satu tangan sementara tangan lainnya terkulai lemas karena dislokasi bahu.
Tentakel raksasa itu terangkat tinggi, siap untuk menghujam dan menghancurkan tubuh ringkih sang pahlawan narsistik ini dalam sekali pukul. Alaric hanya tertawa, tawa hampa yang tidak lagi memiliki akal sehat.
*C**up,* pikirku, memusatkan seluruh kesadaranku pada titik saraf di pangkal otaknya yang terhubung dengan aliran sihirku. *Tidur saja, Alaric. Biar orang dewasa yang mengambil alih permainan ini.*
Aku memicu lonjakan energi balik—sebuah sirkuit pendek sihir yang langsung menyerang sistem saraf pusatnya. Mata Alaric berputar ke belakang, dan tubuhnya ambruk ke tanah yang berdebu tepat saat tentakel itu melesat turun.
Inilah saatnya.
Aku merasakan kekosongan itu sesaat, lalu sensasi berat yang luar biasa menyelimutiku. Rasa sakit dari bahu yang bergeser, amis darah di mulut, dan aroma belerang yang menyengat tiba-tiba menjadi sangat nyata. Aku tidak lagi melihat dunia dari perspektif bilah baja. Aku melihatnya dari sepasang mata manusia yang berdarah.
Aku adalah Alaric sekarang. Dan aku punya waktu sangat sedikit sebelum tentakel setinggi sepuluh meter itu mengubah tubuh ini menjadi bubur kertas.
Aku mendongak, menatap bayangan raksasa yang menaungiku, dan menyeringai—bukan seringai g*** Alaric, melainkan seringai dingin seorang pria yang sudah pernah mati sekali.
"Maaf ya, Elara," bisikku dengan suara Alaric yang serak. "Tapi teman lamamu ini belum mau mati di sini."
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!