Dingin. Itu adalah kesan pertama yang selalu kurasakan setiap kali tubuh bajaku bersentuhan dengan rak beludru merah di gudang persenjataan pribadi Alaric. Tempat ini lebih mirip kuil pemujaan diri daripada gudang senjata. Perisai emas yang tak pernah tergores, tombak-tombak hiasan yang hanya berfungsi sebagai simbol status, dan deretan potret Alaric dalam berbagai pose "heroik" yang memuakkan.
Aku, G***ng—atau sekarang lebih dikenal sebagai Aethelgard—hanya bisa terdiam dalam keheningan yang menyesakkan ini. Jiwaku terperangkap dalam bilah pedang yang konon katanya paling kuat di dunia ini. Sialnya, kekuatanku justru menjadi rant** yang mengikatku pada pria paling narsis yang pernah ada.
Pintu ek berlapis perak itu berderit terbuka. Langkah kaki yang ragu-ragu terdengar menggema. Bukan Alaric. Langkah itu terlalu kecil dan tidak memiliki irama sombong yang biasa kudengar. Itu adalah Hans, pelayan muda yang bertugas merawat koleksi senjata Alaric. Anak itu tampak gemetar, memegang kain sutra dan sebotol minyak gosok seolah-olah dia sedang memegang bom yang siap meledak.
"Maafkan saya, Pedang Suci... Saya hanya menjalankan tugas," bisik Hans dengan suara parau.
*Bagus, Hans. Datanglah padaku,* batinku. Aku tidak bisa bicara secara vokal padanya, tapi aku bisa memberikan "getaran."
Hans meraih gagangku dengan tangan yang berkeringat. Aku sengaja mengalirkan sedikit energi hangat ke telapak tangannya. Dia tersentak, hampir menjatuhkanku.
"Eh? Hangat?" Hans menatapku bingung.
Aku harus memanfaatkannya. Di sudut terjauh gudang ini, di dalam kotak kayu cendana yang terkunci rapat, aku bisa merasakan keberadaannya. *Unbinding Stone*. Benda itu memancarkan resonansi yang aneh, seolah memanggil bagian dari jiwaku yang rindu akan kebebasan. Jika aku bisa menyentuhnya—atau setidaknya berada dalam jarak radius satu meter darinya—aku mungkin bisa melemahkan ikatan kontrak paksa yang dibuat Alaric padaku. Dengan begitu, saat waktunya tiba untuk melindungi Elara, Alaric tidak akan bisa mengendalikan gerakanku.
Hans mulai menggosok bilahku dengan sangat hati-hati. Dia begitu teliti, seolah-olah satu debu saja akan membuat kepalanya dipenggal. Aku harus mengarahkannya ke rak paling belakang.
Aku mulai memanipulasi berat tubuhku. Saat Hans mencoba meletakkanku kembali ke rak utama, aku membuat bagian ujungku terasa seberat timah, sementara gagangku terasa seringan kapas.
"Waduh! Kenapa jadi berat sekali?" Hans terhuyung. Dia mencoba menyeimbangkan posisinya, tapi aku terus menggeser pusat gravitasiku.
Aku ingin dia kehilangan keseimbangan dan mundur ke arah kotak cendana itu. Hans terengah-engah, wajahnya memerah karena menahan beban yang tidak ma**k akal ini. Dia mundur satu langkah, dua langkah, lalu—*b**ak!*—dia menab**k rak pajangan di belakangnya.
"Aduh! Celaka, celaka!" Hans panik melihat beberapa piring hiasan bergetar.
Aku tidak berhenti. Aku melepaskan sedikit gelombang sihir—hanya sebuah denyut kecil yang meniru frekuensi rasa takut. Di mata Hans, ruangan itu tiba-tiba terasa lebih gelap, kecuali sudut di mana kotak cendana itu berada. Aku menciptakan ilusi cahaya samar di sekitar kotak itu, memanfaatkan sarafnya yang sedang tegang.
"Lampu... lampu apa itu?" gumam Hans. Dia menatap ke arah kotak cendana yang terletak di atas lemari tinggi yang berdebu.
Dia berjalan mendekat, masih mendekapku erat di dadanya. *Ya, terus. Sedikit lagi, Nak.*
Hans menaiki tangga kayu kecil untuk mencapai bagian atas lemari. Tangannya gemetar hebat. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat melalui gagangku. Saat dia sampai di atas, dia melihat kotak kayu tua itu. Penasaran mulai mengalahkan rasa takutnya.
"Kotak ini... Tuan Alaric bilang jangan pernah menyentuhnya. Tapi kenapa rasanya sangat damai?"
Itu bukan damai, Hans. Itu adalah haus akan kebebasan yang aku pancarkan.
Hans meletakkanku di atas meja kayu tepat di samping kotak itu. Sempurna. Jarak kami sekarang hanya beberapa sentimeter. Aku segera mengerahkan seluruh fokusku. Aku menarik energi dari dalam inti jiwaku, mencoba menjangkau *Unbinding Stone* di dalam kotak tersebut.
Begitu resonansiku menyentuh batu itu, sebuah sengatan listrik yang menyakitkan menjalar ke seluruh kesadaranku. Rasanya seperti ribuan jarum menusuk jiwaku, tapi di saat yang sama, beban berat yang selama ini menekan pundak mentalku terasa sedikit terangkat. Aku bisa merasakan rant** sihir yang menghubungkanku dengan Alaric mulai bergetar hebat.
*Sedikit lagi... hanya butuh beberapa detik lagi untuk merusak segelnya...*
Tiba-tiba, Hans menjerit kecil. Tangannya yang hendak menyentuh kotak itu ditarik kembali dengan cepat.
"Apa yang kau lakukan di sini, Pelayan?"
Suara itu. Dingin, penuh wibawa yang dipaksakan, dan sangat familiar. Jantungku—jika aku punya satu—pasti sudah berhenti berdetak.
Alaric berdiri di ambang pintu. Jubah putihnya berkibar meski tidak ada angin. Matanya yang biru pucat menatap tajam ke arah Hans, lalu beralih padaku yang tergeletak di samping kotak terlarang itu.
"T-Tuan Alaric! Saya... saya hanya sedang membersihkan..." Hans jatuh tersungkur dari tangga, bersujud di lant** dengan tubuh yang menggigil hebat.
Alaric berjalan mendekat. Setiap langkah sepatunya yang berlapis baja terdengar seperti vonis mati. Dia tidak melihat ke arah Hans; matanya tertuju padaku dengan tatapan curiga yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dia mengulurkan tangan, meraih gagangku dengan kasar.
"Aethelgard," gumamnya, suaranya rendah dan mengancam. "Kau terasa berbeda hari ini. Seolah-olah kau sedang mencoba... memberontak?"
Aku membeku. Aku menyembunyikan semua jejak energi sihirku sedalam mungkin, kembali menjadi benda mati yang tak bernyawa. Namun, Alaric tidak sebodoh yang kukira. Dia melirik ke arah kotak cendana yang sedikit bergeser dari posisi aslinya.
Senyum tipis yang mengerikan muncul di wajahnya. "Sepertinya aku harus memperketat segelmu, Pedangku yang terkasih. Dan untukmu, Pelayan..."
Alaric mengangkat kakinya, siap menginjak tangan Hans yang malang. Di saat itulah, aku merasakan sesuatu yang lain. Gema dari arah hutan perbatasan. Sebuah teriakan mental yang sangat kukenal.
*Elara.*
Dia dalam bahaya. Dan aku masih terjepit di antara amarah Alaric dan batu yang baru setengah aktif ini. Jika aku bertindak sekarang, identitasku akan terbongkar. Jika tidak, Hans akan mati, dan aku akan kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan Elara.
Alaric menunduk, membisikkan sesuatu tepat di bilahku. "Jangan kira aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, G***ng."
Duniaku serasa runtuh. Dia tahu namaku? Bagaimana mungkin?
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!