Dingin. Bukan dinginnya malam di pegunungan Eldoria yang biasa menyelimuti kamp tentara pahlawan, melainkan dingin yang hampa, seolah-olah seluruh eksistensiku sedang disedot ke dalam lubang hitam yang tak berdasar. Di dalam sarungnya yang berlapis emas dan permata, aku—sebilah pedang yang seharusnya hanya menjadi benda mati—sedang berusaha melakukan sesuatu yang dianggap mustahil oleh hukum sihir dunia ini: menggerogoti ikatan jiwaku sendiri.
Alaric mendengkur halus di atas ranjang sutranya. Pahlawan narsistik itu tidur dengan wajah tanpa beban, seolah-olah beban dunia ini hanyalah debu di sepatunya yang mahal. Dia tidak tahu bahwa senjata kesayangannya, Aethelgard yang agung, sedang berusaha memutus rant** yang menyatukan mereka.
*Ayo, G***ng. Fokus. Sedikit lagi,* batinku, memacu setiap tetes energi sihir yang berhasil kucuri dari sirkulasi mana Alaric selama berbulan-bulan.
Aku bisa merasakan 'utas' itu. Di dalam ruang kesadaranku yang gelap, ikatan jiwa itu tampak seperti urat-urat cahaya keemasan yang berdenyut, menghubungkan gagang pedangku langsung ke jantung Alaric. Utas itu terasa menjijikkan—terasa seperti parasit yang terus-menerus membisikkan obsesi dan kesombongan pria itu ke dalam pikiranku. Setiap kali dia memegangku, aku harus menelan rasa mual saat egonya yang meluap-luap merembes ma**k.
Aku mulai memusatkan seluruh kehendakku pada satu titik saraf sihir di pusat ikatan itu. Aku tidak menggunakan kekuatan fisik, melainkan resonansi. Aku menggetarkan frekuensi jiwaku sendiri, berlawanan arah dengan denyut energi Alaric.
Lalu, rasa sakit itu datang.
Itu bukan rasa sakit seperti tertusuk pedang atau terbakar api. Ini adalah rasa sakit yang eksistensial. Rasanya seolah-olah ada tangan raksasa yang merogoh ke dalam tenggorokanku dan mencoba menarik keluar seluruh sejarah hidupku, memerasnya hingga kering. Pikiranku yang biasanya jernih mulai berbayang.
*Sial... ini lebih buruk dari yang kubayangkan,* rintihku dalam hati.
Duniaku berguncang. Bayangan masa laluku di dunia asal—suasana kantor yang membosankan, aroma kopi pagi, dan senyum Elara sebelum kecelakaan itu terjadi—berkelebat cepat, tercampur aduk dengan memori-memori Alaric yang korup. Aku melihat bayangan Elara, yang sekarang menjadi Raja I****, berdiri di tengah medan perang dengan tatapan pilu.
"G***ng... tolong aku..."
Suara Elara bergema di kepalaku, memberiku dorongan adrenalin spiritual. Aku tidak boleh menyerah di sini. Jika aku gagal memutus ikatan ini, aku akan tetap menjadi alat Alaric saat dia menghujamkan bilahku ke jantung Elara. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi untuk kedua kalinya.
Aku mendorong lebih keras. Resonansi itu semakin tajam, menciptakan suara berdenging tinggi yang hanya bisa kudengar di dalam kepalaku. Logam tubuhku—besi surgawi yang ditempa dengan sihir kuno—mulai memanas. Aku bisa merasakan suhu di dalam sarung pedang meningkat drastis.
*Crack.*
Sesuatu retak. Bukan pada bilah pedangku, tapi pada fondasi kesadaranku. Rasa sakitnya melonjak seribu kali lipat. Rasanya seperti setiap inci molekulku sedang ditarik ke dua arah yang berlawanan. Pandanganku memutih. Aku ingin berteriak, tapi aku tidak punya mulut. Aku ingin meronta, tapi aku terperangkap dalam bentuk baja yang kaku.
*Tahan! Jangan pingsan sekarang!* teriakku pada diriku sendiri.
Jika aku kehilangan kesadaran sekarang, energi yang sudah kukumpulkan akan meledak dan bisa-bisa menghancurkan paviliun ini, atau lebih buruk lagi, memperingatkan Alaric bahwa senjatanya sedang mencoba melakukan pemberontakan jiwa.
Kulihat ikatan emas itu mulai meredup, bintik-bintik hitam mulai muncul di permukaannya seperti karat yang memakan logam. Tapi harganya sangat mahal. Kesadaranku mulai terkoyak. Aku mulai lupa siapa namaku. Apakah aku G***ng? Ataukah aku memang hanya Aethelgard?
"Siapa... aku?" gumamku dalam kekacauan mental itu.
Tiba-tiba, Alaric bergerak dalam tidurnya. Tangannya secara tidak sadar meraba gagang pedangku, kebiasaan buruknya yang selalu ingin memastikan "hartanya" tetap aman. Begitu kulitnya menyentuh gagangku, sebuah kejutan listrik sihir yang masif meledak di antara kami.
*GAAAHHH!*
Rasa sakit itu memuncak menjadi ledakan penderitaan murni. Ikatan jiwa yang setengah terputus itu bereaksi liar, seperti kabel tegangan tinggi yang putus dan mencambuk ke segala arah. Aku merasakan kesadaranku mulai memudar, tersedot ke dalam pusaran kegelapan yang dingin.
Dalam sisa-sisa kesadaranku yang terakhir, aku melihat sesuatu yang mengerikan. Di sudut ruangan, sebuah bayangan hitam yang tidak asing mulai memadat. Itu bukan bagian dari rencanaku.
"Begitu rupanya... sang pedang suci memiliki hati yang berkhianat," sebuah suara parau berbisik dari kegelapan, tepat saat mataku—jiwaku—terpejam paksa oleh rasa sakit yang tak tertahankan.
Aku terjatuh ke dalam kegelapan, meninggalkan tubuh Alaric yang mulai terbangun karena panas membara dari pedangnya sendiri. Semuanya menjadi gelap, dan aku tidak tahu apakah saat aku terbangun nanti, aku masih memiliki diriku sendiri atau telah menjadi budak tanpa jiwa selamanya.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!