Dingin. Itu adalah hal pertama yang kurasakan, meski aku tidak lagi memiliki kulit untuk merasakannya. Sensasi logam yang beradu dengan udara pegunungan yang membeku di Puncak Gulgotha terasa seperti jarum-jarum halus yang menusuk kesadaranku. Di genggaman Alaric, aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepatβbukan karena takut, tapi karena kegembiraan yang memuakkan.
"Lihatlah, Aethelgard," gumam Alaric. Suaranya rendah, penuh dengan nada narsistik yang membuatku ingin muntah jika saja aku punya perut. "Dunia akan mengingat hari ini sebagai puncak kejayaanku. Hari di mana sang Pahlawan Suci melenyapkan kegelapan abadi."
Aku bergetar di tangannya, bukan karena setuju, tapi karena muak. Dari sudut pandangku yang terbatas sebagai sebilah pedang, aku bisa melihat sosok di depan kami. Elara.
Dia berdiri di tengah lingkaran api hitam yang menjilat-jilat langit malam yang merah. Jubah perangnya yang gelap tampak compang-camping, dan napasnya memburu, meninggalkan uap putih di udara yang tipis. Mata ituβmata yang dulu sering menatapku dengan tawa saat kami masih di bangku SMAβkini penuh dengan kepedihan yang sangat dalam. Dia bukan lagi Elara yang kutahu, dia adalah 'Raja I****' yang ditakuti dunia ini. Tapi bagiku, dia tetaplah gadis yang gagal memasak cokelat saat Valentine sepuluh tahun lalu.
"Hentikan, Alaric," suaraku bergema di dalam kepalanya, meski aku tahu dia akan mengabaikannya sebagai 'bisikan takdir' atau semacamnya. "Dia bukan monster yang kau bayangkan."
"Diamlah, Senjataku," batin Alaric menyahut dengan angkuh. "Tugasmu hanyalah menjadi tajam dan bersinar."
Tanpa peringatan, Alaric menerjang. Kecepatannya membelah udara, menciptakan dentuman sonik yang m****akkan telinga. Aku merasakan tubuh logamku menghantam perisai kegelapan yang dimunculkan Elara. Benturan itu mengirimkan gelombang kejut yang meretakkan tanah di bawah kaki mereka.
*Klang!*
Suara logam bertemu sihir hitam terdengar seperti jeritan ribuan jiwa. Elara terdorong mundur beberapa meter, tumitnya meninggalkan parit kecil di tanah berbatu.
"Hanya itu?" Alaric tertawa, tawa yang terdengar sangat murni namun menyimpan kekejaman yang tak terukur. "Ayo, Raja I****! Tunjukkan padaku mengapa dunia harus gemetar menyebut namamu!"
Elara tidak menjawab. Dia mengangkat tangannya, dan tombak-tombak bayangan melesat dari kegelapan di belakangnya. Alaric menepis semuanya dengan gerakan yang sangat efisien, seolah-olah dia sedang menari di atas panggung sandiwara. Setiap kali aku bersentuhan dengan sihir Elara, aku merasakan getaran yang akrab. Itu adalah resonansi jiwa. Dia mengenaliku. Aku bisa merasakan tatapannya tertuju padaku, bukan pada pria yang memegangku.
"G***ng...?" bisiknya, sangat pelan, nyaris tenggelam oleh deru angin.
Jantung imajinerku mencelos. Dia memanggil namaku. Di dunia yang asing ini, dia masih mengingat namaku.
"C**up main-mainnya," desis Alaric. Wajah tampannya kini mengeras, cahaya keemasan mulai memancar dari setiap pori kulitnya. "Saatnya menunjukkan kekuatan yang diberikan Dewa kepadaku."
Tiba-tiba, aku merasakan tarikan yang mengerikan. Rasanya seolah-olah ada lubang hitam yang terbuka di tengah kesadaranku. Alaric mulai merapalkan mantra terlarang, *'Divine Overload'*.
"Aethelgard, berikan aku segalanya!" teriaknya keras.
Rasanya menyakitkan. Sangat menyakitkan. Aku bisa merasakan energi hidupku, esensi dari jiwaku yang terjebak dalam pedang ini, mulai tersedot keluar secara paksa. Alaric tidak hanya menggunakan mana yang tersimpan dalam diriku; dia menguras paksa pondasi keberadaanku untuk memperkuat serangannya.
Pandanganku mulai mengabur. Warna-warna di sekitarku memudar menjadi abu-abu. Aku merasakan retakan halus mulai muncul di sepanjang bilah pedangkuβtubuhku. Setiap detik yang berlalu terasa seperti kulitku dikuliti hidup-hidup. Alaric terus menyedot, tidak peduli apakah senjatanya akan hancur atau tidak, asalkan dia mendapatkan kemenangan yang gemilang.
Cahaya emas yang terpancar dariku sekarang begitu terang hingga menyilaukan mata. Elara tampak menyipitkan mata, tangannya terangkat untuk melindungi wajahnya. Dia tahu apa yang akan datang. Serangan ini tidak dimaksudkan untuk sekadar mengalahkannya, tapi untuk menghapusnya dari eksistensi.
"Alaric, berhenti! Kau akan membunuhku juga!" aku berteriak di dalam batinnya, tapi Alaric justru tersenyum g***.
"Pengorbananmu akan diingat, wahai pedang suci," gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
Ba****** ini. Dia benar-benar berniat membuangku setelah ini selesai. Baginya, aku tak lebih dari baterai sekali pakai yang sangat mahal.
Kekuatan itu kini terkumpul di ujung bilahku. Begitu padat, begitu panas. Aku merasa kesadaranku berada di ambang kehancuran. Jika dia melepaskan serangan ini, Elara akan mati, dan aku mungkin akan hancur menjadi serpihan tak berguna. Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus mengalihkan aliran energi ini, atau setidaknya membuatnya tidak stabil.
Namun, rasa sakit itu melumpuhkanku. Aku merasa seperti tenggelam dalam lautan cahaya yang menghanguskan.
"Selamat tinggal, Ratu Kegelapan," ucap Alaric dengan nada kemenangan.
Tangan Alaric mengayun ke bawah dengan kekuatan penuh. Cahaya emas itu meledak, melesat menuju Elara yang berdiri terpaku. Di saat yang kritis itu, aku mengerahkan sisa-sisa kekuatanku. Aku tidak bisa menghentikan serangan itu, tapi aku bisa mencoba mengambil alih sedikit kontrol atas arahnya.
*Sedikit saja... geser sedikit saja!*
Saat energi itu lepas dari ujung pedangku, aku merasakan tarikan yang begitu hebat hingga jiwaku seolah ditarik keluar dari wadah logamnya. Dunia menjadi putih seketika. Ledakan besar mengguncang puncak gunung, meruntuhkan tebing-tebing di sekitarnya.
Dalam kebutaan putih itu, aku hanya bisa berharap. Berharap bahwa Elara masih hidup, dan berharap bahwa aku masih memiliki c**up 'diri' yang tersisa untuk melihat hari esok.
Namun, saat cahaya mulai memudar, aku tidak mendengar suara kemenangan Alaric. Yang kudengar adalah suara denting logam yang patah, diikuti oleh keheningan yang mencekam.
Dan kemudian, sebuah erangan kesakitan yang bukan berasal dari Elara.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!