Dunia dari sudut pandang sebilah pedang adalah kumpulan getaran dan aliran energi yang membingungkan. Aku tidak memiliki mata, namun aku bisa merasakan hawa dingin dari embun pagi yang menempel di bilah bajaku dan kehangatan telapak tangan Alaric yang terbungkus sarung tangan kulit rusa. Bau hutan perbatasan yang lembap—campuran tanah basah dan lumut—terasa begitu tajam melalui sensor sihir yang kini menjadi indra penciumanku.
"Lihatlah mereka, Aethelgard," gumam Alaric. Suaranya terdengar seperti guntur yang diredam di telingaku. "Rakyat jelata itu gemetar hanya dengan melihat bayanganku. Mereka beruntung memiliki pahlawan yang membawa keajaiban di pinggangnya."
Aku ingin sekali meludah, andai saja aku punya mulut. *Dia benar-benar tidak tertolong,* pikirku sinis. Alaric berjalan dengan langkah yang sengaja dibuat gagah di depan barisan prajurit penjaga perbatasan. Jubah putihnya berkibar, bersih tanpa noda, kontras dengan para prajurit yang wajahnya kusam oleh debu dan kelelahan.
Kami berada di Ngarai Kelabu, celah sempit yang menjadi titik ma**k utama bagi monster dari Wilayah Terlarang. Keadaan mendadak berubah ketika tanah di bawah kaki kami bergetar hebat.
*Grumble... CRACK!*
Dinding tebing di depan kami meledak. Bongkahan batu sebesar kereta kuda meluncur jatuh, memaksa para prajurit berpencar menyelamatkan diri. Dari balik debu yang membubung, muncullah seekor *Obsidian Mauler*—beruang raksasa dengan kulit yang dilapisi kristal hitam tajam. Matanya merah menyala, memancarkan rasa lapar yang purba.
"Monster rendahan," Alaric mendengus. Ia tidak mencabutku dengan segera. Sebaliknya, ia berpose, membiarkan angin meniup rambut pirangnya sementara monster itu meraung, menggetarkan gendang telinga semua orang di sana. "Saksikanlah, bagaimana seorang pahlawan sejati menyelesaikan kekacauan ini dalam satu gerakan."
*Bodoh. Cepat cabut aku, br******! Dia sedang mengumpulkan energi kinetik untuk menerjang!* aku berteriak dalam benakku, meski hanya gema sunyi yang memantul di dalam jiwaku sendiri.
Alaric akhirnya menarikku dari sarungnya. Gerakannya lambat dan penuh gaya, seolah-olah ia sedang menari di atas panggung teater, bukan di medan perang. Saat tangannya menggenggam gagangku, aku merasakan aliran mana miliknya yang tidak stabil. Alaric kuat, ya, tapi dia ceroboh. Mana-nya meluap-luap tanpa kendali, terbuang percuma hanya untuk menciptakan efek visual cahaya emas di sekeliling tubuhnya.
*Obsidian Mauler* itu tidak menunggu. Dengan kecepatan yang tidak ma**k akal untuk ukurannya, monster itu meluncur. Tanah di bawah kakinya retak.
"Mati kau, makhluk menjijikkan!" Alaric mengayunkanku secara vertikal.
Dia terlalu percaya diri. Dia mengira berat dan tajamnya tubuhku akan membelah kristal obsidian itu seperti memotong mentega. Namun, monster itu sedikit memiringkan tubuhnya. Cakar raksasanya yang dilapisi kristal menghantam sisi bilahku, bukan mata pedangku.
*Clang!*
Getaran hebat merambat melalui tubuh bajaku, rasanya seperti tulang-tulangku diremukkan. Alaric tersentak, keseimbangannya goyah. Langkahnya goyah ke belakang, dan untuk pertama kalinya, aku mencium bau keringat dingin dan ketakutan dari pori-pori kulitnya yang bersentuhan dengan gagangku.
Monster itu kembali menyerang, kali ini mengincar leher Alaric dengan taringnya yang panjang. Alaric membeku. Matanya melebar, pupilnya mengecil. Dia terlalu terbiasa menang dengan mudah sehingga saat menghadapi perlawanan nyata, otaknya mendadak macet.
*Bergerak, si****! Atau kita berdua akan hancur!*
Aku tidak bisa membiarkannya mati sekarang. Jika Alaric mati saat jiwaku masih terikat padanya sebagai senjata kontrak, jiwaku bisa ikut hancur atau terjebak dalam kehampaan selamanya. Dan yang lebih penting, aku belum menemukan Elara.
Aku memejamkan mata mental-ku dan meraih aliran mana Alaric yang liar. Rasanya seperti mencoba menjinakkan arus sungai yang meluap. Aku menyedot energi emas itu ke dalam diriku, lalu dengan paksa memompanya kembali ke lengan kanan Alaric. Aku memanipulasi serat ototnya, menariknya secara paksa untuk bergerak lebih cepat dari yang bisa diperintahkan oleh otaknya yang lamban.
*Sekarang!*
Lengan Alaric tersentak ke atas secara tidak alami. Aku mengarahkan ujung tajamku tepat ke celah di antara lempengan kristal di tenggorokan sang Mauler.
*Crat!*
Darah hitam yang panas dan berbau belerang menyemprot bilahku. Tubuh monster itu terjajar, serangannya meleset hanya beberapa inci dari wajah Alaric. Aku merasakan kepuasan yang aneh saat logamku menembus daging lunak di balik pelindung keras itu.
"Apa...?" Alaric bergumam, napasnya memburu. Dia menatap tangannya sendiri seolah-olah tangan itu milik orang lain. Dia tidak sadar bahwa akulah yang baru saja mengendalikan gerakannya.
Monster itu belum mati. Ia meraung kesakitan dan bersiap untuk amukan terakhir.
*Jangan berhenti, kau narsistik g***! Selesaikan ini!*
Aku kembali memaksakan resonansi sihir. Kali ini, aku membakar mana Alaric untuk menciptakan gelombang kejut dari permukaan bilahku. Tanpa menunggu perintahnya, aku melepaskan ledakan energi murni tepat saat monster itu menerjang lagi.
*BOOM!*
Cahaya putih membutakan memenuhi ngarai. Tubuh *Obsidian Mauler* itu terlempar ke dinding tebing, hancur berkeping-keping. Debu perlahan turun, menyisakan keheningan yang mencekam di antara para prajurit yang menonton dengan mulut ternganga.
Alaric berdiri tegak, berusaha mengatur napasnya agar kembali terlihat tenang. Dia menyeka setitik darah di pipinya dengan jari telunjuk, lalu tersenyum miring—senyum sombong yang biasa.
"Persis seperti yang kurencanakan," ucapnya dengan suara lantang agar terdengar oleh semua orang. "Aku sengaja membiarkannya mendekat untuk mencari titik lemahnya. Teknik yang c**up halus, bukan?"
Para prajurit mulai bersorak, memuja 'kehebatan' sang pahlawan. Aku hanya bisa mengumpat di dalam hati. Rasa lelah yang luar biasa menghantamku; memanipulasi tubuh pengguna membutuhkan energi mental yang jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.
Namun, di tengah sorak-sorai itu, getaran aneh merambat melalui tanah. Bukan getaran dari monster, tapi sesuatu yang lebih halus. Sesuatu yang terasa familiar.
Di kejauhan, di atas bukit yang menghadap ke ngarai, aku merasakan kehadiran seseorang. Bukan energi manusia, tapi kegelapan yang pekat, dingin, namun memiliki kehangatan yang pernah kukenal di kehidupan sebelumnya.
*Elara?*
Jantungku—jika aku memilikinya—berdegup kencang. Itu adalah tanda tangan sihir Raja I****. Dia melihat kami. Dia melihat pertunjukan konyol Alaric. Dan yang membuatku merinding adalah suara yang tiba-tiba bergema samar di kepalaku, suara yang bukan berasal dari Alaric, melainkan bisikan dari kejauhan yang dibawa oleh angin.
*"Pedang itu... dia bergerak sendiri?"*
Hawa dingin yang sebenarnya baru saja dimulai. Elara tidak hanya sedang mengawasi; dia mulai menyadari bahwa Aethelgard bukan sekadar benda mati. Jika dia menganggapku sebagai ancaman yang harus dihancurkan bersama Alaric, maka tujuanku untuk menyelamatkannya akan menjadi jauh lebih mustahil.
Aku harus menemukan cara untuk berkomunikasi dengannya, sebelum Alaric membawaku ke garis depan untuk membant**nya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!