Pedang Resonansi: Pengkhianatan Senjata sang Pahlawan

Bab 5: Bab 5 - Alaric jatuh ke dalam jebakan assassin dan pingsan

Pengaturan Membaca

"Berhenti menggerutu, Alaric. Jika kau terus menghina kualitas jalan setapak ini, aku bersumpah akan membuat permukaanku selicin belut agar kau menjatuhkanku ke lumpur," batinku, meski suaraku hanya bergema di ruang hampa di antara kesadaran kami.

Alaric, tentu saja, tidak mendengar. Pangeran sombong itu terus melangkah dengan dagu terangkat, membiarkan jubah sutranya terseret di semak-semak Hutan Hitam yang lembap. Tangannya menggenggam gagangku—tubuhku—dengan gaya yang terlalu kencang, seolah-olah dia takut seseorang akan mencuri kejayaannya.

"Hutan ini bau busuk," gumam Alaric, hidungnya mengernyit jijik. "Seharusnya rakyat jelata itu membersihkan jalur ini sebelum pahlawan mereka lewat. Benar kan, Aethelgard?"

Aku tidak menjawab. Bukan karena aku tidak bisa, tapi karena membuang energi untuk menanggapi narsismenya hanya akan membuat mual. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Instingku sebagai pedang—sensor energi sihir yang menyatu dengan logam dinginku—mendadak bergetar hebat. Ada distorsi di udara. Tajam, dingin, dan penuh niat membunuh.

"Alaric, tunduk!" teriakku di dalam kepalanya.

Terlambat.

Sebuah anak panah dengan pendar ungu beracun melesat dari balik rimbun pohon gergaji. Alaric, yang terlalu sibuk mengagumi bayangannya di genangan air, hanya sempat menoleh sebelum anak panah itu menggores lehernya. Tak ada luka dalam, tapi sihir yang terkandung di dalamnya bekerja seperti silet yang memotong benang kesadaran.

"S-si****... mataku..." Alaric terhuyung. Wajahnya yang biasanya angkuh kini memucat, keringat dingin memba****i dahinya. Genggamannya padaku melemah. Lututnya menghantam tanah dengan bunyi *gedebuk* yang memuakkan.

Tiga sosok berpakaian hitam pekat turun dari pepohonan layaknya bayangan yang terlepas dari pemiliknya. Mereka tidak bicara. Mereka adalah pembunuh profesional, bukan penjahat kacangan yang suka pamer rencana. Pedang-pedang pendek mereka bersinar karena racun yang sama.

Saat kelopak mata Alaric memberat dan dia ambruk sepenuhnya ke atas tanah yang becek, aku merasakan kekosongan itu. Sebuah vakum dalam kendali motorik tubuh ini. Inilah saatnya.

*Tarik.*

Aku menarik jiwaku, memaksanya ma**k ke dalam jaringan saraf Alaric yang sedang lumpuh. Rasanya seperti mencoba memaksakan air laut ma**k ke dalam botol kecil. Sakit, sesak, dan panas. Namun, saat kesadaranku berhasil 'mengunci' otot-ototnya, ledakan sensasi menghantamku.

Aku bernapas.

Paru-paru ini menghirup udara hutan yang lembap dan berbau tanah. Jantung di dadaku berdentum kencang, memompa adrenalin yang terasa seperti sengatan listrik. Rasanya luar biasa—dan mengerikan. Sudah berapa lama sejak aku merasakan beratnya tubuh manusia? Sejak aku merasa memiliki jemari yang bisa ditekuk?

"Bangun, kau pangeran payah," bisikku, kali ini suaraku keluar melalui pita suara Alaric yang serak.

Para assassin itu tersentak. Mereka melihat target mereka, yang seharusnya sudah tak berdaya, tiba-tiba bangkit dengan gerakan yang tidak alami—patah-patah, seperti boneka yang talinya ditarik secara paksa. Aku mengangkat diriku sendiri—pedang Aethelgard—dengan tangan kanan Alaric.

Rasanya aneh menggenggam diri sendiri. Logam itu terasa dingin dan familiar di kulit telapak tanganku.

"Siapa kau?" salah satu assassin bertanya, suaranya parau karena terkejut.

Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku menyerang.

Selama ini, Alaric bertarung dengan gaya aristokrat yang penuh gaya tapi boros energi. Aku tidak punya waktu untuk itu. Aku menggunakan pengetahuan dari dunia asalku, dipadukan dengan pemahaman anatomi sihir yang kudapat sebagai pedang. Aku bergerak rendah, menyapu kaki salah satu assassin sebelum ia sempat bereaksi, dan dengan satu putaran yang efisien, aku menghujamkan ujung pedangku—ujung *diriku*—ke celah baju zirah di lehernya.

Cairan hangat menyemprot wajahku. Darah. Baunya anyir dan besi. Lambung Alaric bergejolak, tapi aku menekan rasa mual itu. Aku tidak boleh berhenti.

Dua assassin lainnya menyerang serempak. Aku bisa merasakan otot-otot Alaric menjerit karena dipaksa bergerak melampaui batas fleksibilitasnya. Aku menangkis serangan dari kiri, merasakan getaran benturan logam yang merambat hingga ke bahu. Ah, sensasi rasa sakit ini... aku hampir merindukannya.

Aku memutar tubuh, melakukan gerakan *parry* yang sempurna, dan menggunakan momentum itu untuk menendang assassin kedua tepat di dadanya hingga ia terpental menab**k pohon. Tanpa membuang detik, aku melemparkan belati kecil yang tersembunyi di sabuk Alaric ke arah assassin terakhir. Tepat di jantung.

Hening kembali menyelimuti hutan. Napas Alaric—napas-ku—terengah-engah, uap putih keluar dari mulut di udara dingin. Tanganku gemetar. Bukan karena takut, tapi karena sistem saraf ini mulai menolak kehadiranku. Tubuh Alaric bukan wadah yang sempurna bagi jiwaku.

Aku menyeka darah di pipi dengan punggung tangan. Rasanya begitu nyata. Kehangatan ini, rasa sakit di sendi ini, detak jantung yang liar ini... ini adalah pengingat bahwa aku pernah hidup, dan aku sangat ingin hidup kembali secara utuh.

Namun, kepuasan itu hanya bertahan sesaat.

Di kejauhan, di balik kabut hutan, aku merasakan getaran resonansi yang sangat kukenal. Sebuah energi yang lembut namun kuat, kontras dengan kegelapan tempat ini. Itu adalah energi yang sama dengan yang kurasakan saat Elara masih berada di dekatku di dunia asal.

"Elara?" bisikku, tak percaya.

Resonansi itu tidak datang sendirian. Bersamaan dengan itu, muncul aura haus darah yang jauh lebih besar dari para assassin tadi. Seseorang—atau sesuatu—sedang menuju kemari, dan mereka tidak mencari sang pangeran. Mereka mencari *aku*.

Pandanganku mulai mengabur. Racun di tubuh Alaric mulai menang melawan kendaliku. Aku harus tetap sadar. Jika aku pingsan sekarang, aku tidak akan tahu apakah sosok yang mendekat itu adalah penyelamat atau eksekutor bagi satu-satunya alasan aku masih bertahan di dunia ini.

"Jangan sekarang... belum sekarang..."

Lututku kembali menghantam tanah, dan kali ini, kegelapan yang kusemprotkan tadi mulai merayap kembali, menarikku pulang ke dalam dinginnya logam pedang. Di batas kesadaranku yang memudar, aku melihat sesosok jubah putih berdiri di antara pepohonan, menatapku dengan mata yang penuh dengan duka dan pengenalan.

Itu dia. Tapi dia tidak membawa senyuman yang kuingat. Dia membawa tongkat sihir yang berkilau dengan niat untuk menghancurkan.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca