Dunia dari sudut pandang sebilah pedang selalu terasa sempit, namun tajam. Aku bisa merasakan getaran di gagangku—keringat dingin dari telapak tangan Alaric yang terbungkus sarung tangan kulit naga, detak jantungnya yang berpacu penuh euforia narsistik, dan aliran mana yang dipaksakan ma**k ke dalam bilahku. Baginya, aku hanyalah alat. Bagiku, dia adalah parasit yang memuakkan.
Lembah Kematian tertutup kabut ungu pekat yang berbau belerang dan besi karat. Di sekeliling kami, mayat-mayat monster tingkat rendah berserakan, terbelah menjadi dua oleh tebasan cahaya yang dipicu oleh keberadaanku. Alaric tertawa, suara baritonnya bergema sombong di antara tebing-tebing batu.
"Lihat itu, Aethelgard!" serunya sambil mengayunkan aku ke udara, membersihkan sisa darah ungu dari permukaanku dengan gerakan teatrikal. "Mereka bahkan tidak layak menjadi pemanasan bagi Sang Pahlawan Cahaya. Dunia akan memuja namaku setelah aku memenggal kepala Raja I**** itu."
*Kau bahkan tidak bisa memotong bawang tanpa bantuanku, bodoh,* batinku, mengirimkan getaran protes kecil yang ia artikan sebagai 'resonansi semangat'.
Tiba-tiba, kabut di depan kami tersibak. Suhu udara turun drastis, membekukan embun di atas bebatuan menjadi kristal hitam. Dari kegelapan, sebuah sosok melangkah keluar. Ia tidak membawa pa**kan. Ia tidak memakai zirah berat. Sosok itu mengenakan jubah panjang berwarna hitam pekat dengan bordir perak yang berkilauan seperti rasi bintang. Wajahnya tertutup topeng porselen putih dengan ukiran air mata darah di pipi kanannya.
Alaric mendengus, mengangkatku sejajar dengan matanya. "Hanya satu? Raja I**** sudah kehabisan prajurit sampai mengirim badut untuk menyambutku?"
Sosok itu berhenti sepuluh langkah di depan kami. Aura yang dipancarkannya tidak meledak-ledak seperti Alaric, melainkan tenang dan menghisap, seolah-olah ia adalah lubang hitam yang menelan cahaya di sekitarnya. Aku merasakan sesuatu yang aneh. Resonansi di dalam diriku—jiwa G***ng yang terperangkap dalam baja ini—bergetar hebat. Bukan karena takut, tapi karena pengenalan yang menyakitkan.
"Pangeran Alaric dari Kerajaan Solstheim," suara utusan itu terdengar datar, namun merambat melalui tanah hingga ke hulu pedangku. Suaranya feminin, dingin, dan sangat akrab. "Tuanku tidak menginginkan pertumpahan darah yang tidak perlu hari ini. Beliau hanya ingin menyampaikan... negosiasi."
"Negosiasi adalah bahasa bagi mereka yang lemah!" Alaric berteriak, cahaya emas mulai meledak dari tubuhnya, mengalir ke dalam bilahku. Aku merasakan rasa sakit yang luar biasa saat ia memeras energiku. "Katakan pada tuanmu, kepalanya adalah satu-satunya hal yang akan kuterima!"
Alaric menerjang. Kecepatannya melampaui batas manusia normal, meninggalkan jejak cahaya keemasan. Ia mengayunkan aku dalam serangan vertikal yang mampu membelah benteng. Namun, utusan itu tidak bergeming. Ia hanya mengangkat satu tangan, dan sebuah perisai transparan berwarna ungu gelap menahan hantamanku.
*BUM!*
Gelombang kejut melemparkan debu dan batu ke udara. Alaric terbelalak saat melihat serangannya tertahan hanya dengan satu tangan.
"Sombong seperti biasanya," bisik utusan itu. Ia kemudian melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia mengabaikan Alaric sepenuhnya. Matanya—yang terlihat dari balik lubang topeng—menatap lurus ke arahku. Bukan ke arah Alaric, tapi tepat ke arah permata biru di pangkal bilahku, tempat jiwaku bersemayam.
"Berhenti sejenak, Pangeran Kecil," kata utusan itu, suaranya kini mengandung nada mengejek yang sangat spesifik. "Aku tidak bicara padamu. Aku bicara pada beban yang kau bawa."
Alaric menggeram, "Apa maksudmu, monster?!"
Utusan itu memiringkan kepalanya. "Tuanku berkata, ada seseorang yang sangat dia rindukan. Seseorang yang selalu gagal dalam ujian matematika tapi sangat ahli dalam menyembunyikan komik di balik buku pelajaran."
Jantungku—jika aku masih memilikinya—rasanya berhenti berdetak. Seluruh kesadaranku sebagai G***ng bergejolak. Itu adalah det**l yang terlalu spesifik. Hanya satu orang yang tahu rahasia bodoh itu di dunia lama kami.
"Dia tahu kau ada di sana," lanjut utusan itu, melangkah mendekat meski Alaric sudah menyiapkan serangan berikutnya. "Dia tahu kau terperangkap dalam besi itu, menanggung beban kesombongan pria malang ini."
"Diam! Aku akan memotong lidahmu!" Alaric meraung, bersiap melepaskan teknik *Divine Cleave*.
Namun, utusan itu membisikkan sesuatu yang membuat seluruh duniaku runtuh. Kata-kata itu diucapkan dengan nada yang sangat pelan, hampir tenggelam oleh deru angin, namun bagiku, itu terdengar seperti ledakan guntur.
"Dia menunggumu, 'Gigi-kun'. Siapa lagi yang akan membantunya mengerjakan tugas sejarah kalau bukan kau?"
Darahku mendidih. *Gigi-kun.* Nama pangg***n konyol yang diberikan Elara padaku saat SMP karena aku pernah memakai kawat gigi dan dia tidak berhenti mengejekku selama tiga tahun. Nama itu adalah rahasia kami. Nama itu adalah jembatan menuju kenangan di perpustakaan sekolah yang berdebu, jauh dari medan perang berdarah ini.
"Kau..." suaraku hampir pecah dalam transmisi mental yang tidak sengaja bocor ke udara, membuat bilah pedangku berdenging keras.
Utusan itu tersenyum di balik topengnya. "Dia mengirimkan salamnya, G***ng. Dan dia memintamu untuk satu hal: jangan biarkan 'pahlawan' ini menyentuhnya. Atau dia terpaksa harus menghancurkan kalian berdua."
Alaric yang tidak mengerti apa-apa, merasa dihina karena diabaikan, melepaskan seluruh energinya. "MATILAH KAU!"
Cahaya menyilaukan meledak. Namun, saat pedangku menyentuh bayangan utusan itu, ia menghilang seperti asap, menyisakan tawa kecil yang menghantui. Alaric terengah-engah, memandang sekeliling dengan kalap, mencari lawannya yang sudah lenyap.
"Lari? Pengecut!" teriak Alaric ke langit gelap.
Ia tidak sadar. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam genggamannya, 'senjata legendarisnya' baru saja mengalami guncangan hebat. Aku terdiam, jiwaku bergetar dalam kemarahan dan kerinduan yang campur aduk. Elara tahu aku di sini. Dia tahu aku bereinkarnasi menjadi benda mati ini.
Dan yang lebih mengerikan... dia mengirimkan utusan itu bukan untuk menyelamatkanku, tapi untuk memperingatiku.
*Gigi-kun...*
Aku merasakan kebencian yang baru terhadap Alaric. Jika pria narsistik ini terus melangkah menuju takhta Raja I****, aku tidak hanya akan kehilangan duniaku yang baru, tapi aku akan dipaksa membunuh satu-satunya alasan mengapa aku ingin tetap waras di dunia ini.
Aku harus mengambil alih. Lebih cepat dari yang kurencanakan. Aku harus menemukan cara untuk berkomunikasi dengan utusan itu lagi, sebelum Alaric menyeret jiwaku ke dalam dosa yang tidak akan pernah bisa dimaafkan: membunuh sahabat terbaikku sendiri.
"Aethelgard? Kenapa cahayamu meredup?" Alaric menatapku dengan kening berkerut, menggoyang-goyangkan gagangku dengan kasar. "Hei, senjata sampah! Berikan aku kekuatan lebih! Kita akan mengejar mereka!"
Aku tidak menjawab. Aku mulai menarik energi sihir dari aliran darah Alaric secara perlahan, tanpa ia sadari. Jika dia ingin mengejar mereka, baiklah. Tapi saat dia tiba di sana, bukan dia yang akan memegang kendali.
Karena 'Gigi' sudah bangun, dan dia tidak akan membiarkan 'Pahlawan' merusak segalanya lagi.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!