Angin dingin di pinggiran Distrik Iron-Bound menusuk hingga ke balik zirah emas legendaris yang kukenakan. Sebagai Player peringkat satu di seluruh Aethelgard, seharusnya aku tidak bisa merasakan hawa dingin yang begitu nyata. Namun, pembaruan server terakhir mengubah segalanya; sensasi sensorik kini terasa sepuluh kali lipat lebih tajam, seolah dunia digital ini sedang berusaha menyatu dengan jiwaku.
Aku menyapu pandangan ke hamparan lembah di bawah tebing. Di sana, di antara pepohonan yang teksturnya mulai terlihat retak dan berkedip—tanda-tanda korupsi data—sensor pelacakku terus berdenyut merah.
"Target ada di koordinat ini," gumamku, lebih kepada diri sendiri. Suaraku terdengar datar, namun di dalam dada, ada debaran yang tidak ma**k akal. "Virus itu... si anomali yang mengacaukan statistik global. Dia ada di sana."
Aku melirik ke samping, pada sosok pria yang berdiri dua langkah di belakangku. Dia adalah 'Kairo', bodyguard baru yang ditugaskan oleh serikat pusat untuk mengawal pencarianku. Dia mengenakan jubah abu-abu kusam dan penutup wajah yang hanya menyisakan sepasang mata tajam yang tidak terbaca. Dia tidak banyak bicara, tipikal NPC tentara bayaran level tinggi yang biasanya disewa oleh para elit.
"Kairo," panggilku.
Dia tidak menjawab secara verbal, hanya sedikit mencondongkan kepalanya. Gerakan itu—sangat minimalis, sangat efisien.
"Menurutmu, kenapa sistem begitu terobsesi menghapus satu entitas ini? Padahal statistik menunjukkan dia bahkan tidak memiliki bar Mana," tanyaku, mencoba memancing reaksi.
Kairo tetap diam untuk beberapa detik sebelum suaranya yang berat dan sedikit serak menyahut, "Mungkin karena sesuatu yang tidak memiliki batas sering kali dianggap lebih berbahaya daripada sesuatu yang memiliki kekuatan besar namun terukur."
Aku mengernyit. Jawaban itu terlalu filosofis untuk seorang unit tempur. Aku kembali memperhatikan cara dia berdiri. Kaki kirinya sedikit menekuk ke dalam, dan tangan kanannya selalu bertumpu pada pangkal pedang dengan ibu jari yang mengetuk ritmis di atas *guard* senjata.
Deg. Jantungku seolah berhenti sesaat.
Ritme itu. Tiga ketukan cepat, satu jeda lama. Itu adalah kebiasaan Reno. Setiap kali kakakku sedang berpikir keras saat menempa pedang di bengkel kecil kami, dia selalu mengetuk palunya dengan pola yang persis sama. Tapi itu tidak mungkin. Reno hanyalah seorang asisten pandai besi di desa pemula. Dia NPC kelas bawah yang bahkan tidak bisa keluar dari zona aman tanpa perlindungan.
"Kita bergerak sekarang," perintahku, berusaha mengusir pikiran konyol itu.
Kami menuruni tebing dengan kecepatan tinggi. Aku menggunakan *Light Step* untuk meluncur di udara, sementara Kairo mengikuti dengan kelincahan yang membuatku tertegun. Dia tidak menggunakan *skill* mobilitas apa pun. Dia murni mengandalkan momentum dan pemahaman geometri lingkungan—sesuatu yang biasanya hanya dimiliki oleh Player veteran atau NPC tingkat bos.
Saat kami mema**ki area hutan yang terdistorsi, lingkungan mulai terlihat mengerikan. Pohon-pohon ek raksasa tampak seperti gambar yang gagal dimuat sempurna; beberapa bagian batangnya tembus pandang, sementara daun-daunnya berubah menjadi kode biner yang berguguran.
Tiba-tiba, sesosok bayangan melesat dari balik kabut data. Itu adalah *Sentinel System*, unit keamanan otomatis yang berbentuk seperti ksatria tanpa wajah dengan pedang cahaya biru. Mereka seharusnya adalah sekutuku, tapi mereka menyerang siapa saja yang mendekati zona anomali.
"Biar aku yang urus," kataku sambil menghunus *Sunspire*, pedang peringkat Mythical-ku.
Namun, sebelum aku sempat mengaktifkan *skill*, Kairo sudah lebih dulu melesat. Gerakannya bukan seperti seorang ksatria, melainkan seperti seorang pengrajin yang sedang membedah material. Dia tidak menebas dengan kekuatan besar; dia menyelinap ke celah zirah sang Sentinel, menusukkan belatinya tepat ke titik sambungan sendi yang merupakan titik buta pemrograman mereka.
Satu detik. Dua detik. Tiga Sentinel hancur menjadi partikel cahaya tanpa sempat mengeluarkan satu serangan pun.
Aku mematung di tempat. Kairo berdiri di tengah sisa-sisa partikel itu, mengibaskan belatinya dengan gerakan memutar yang sangat spesifik sebelum menyarungkannya kembali. Itu adalah gerakan membersihkan kotoran yang selalu dilakukan Reno setelah selesai mengasah pisau dapur.
"Siapa kau sebenarnya?" tanyaku, suaraku sedikit bergetar. Aku mengarahkan ujung *Sunspire* ke tenggorokannya.
Kairo tidak bergerak. Matanya yang menatapku melalui celah kain penutup wajah tampak begitu akrab—ada kesedihan yang mendalam di sana, jenis tatapan yang selalu Reno berikan padaku setiap kali aku pulang dengan luka setelah bertarung melawan monster hutan.
"Aku hanya pelindungmu, Elara. Bukankah itu yang kau butuhkan sekarang?" jawabnya tenang.
"Kau memanggil namaku tanpa gelar 'Lady' atau 'Player'. Dan cara kau bergerak... kau tahu celah sistem itu. Kau bukan NPC biasa." Aku melangkah maju, memangkas jarak di antara kami. "Buka penutup wajahmu."
"Target sudah dekat," potongnya, mengabaikan perintahku. Dia menunjuk ke arah sebuah gua kecil yang memancarkan cahaya ungu berpendar di balik semak-semak yang terfragmentasi. "Jika kau ingin mengakhiri semua ini, di sanalah Virus itu berada. Tapi ingat, apa yang kau lihat mungkin bukan apa yang kau harapkan."
Aku ragu sejenak, namun rasa tanggung jawabku sebagai peringkat satu dan rasa penasaranku yang membuncah memaksaku untuk melangkah menuju gua tersebut. Sensor pelacak di pergelangan tanganku berbunyi nyaring, m****akkan telinga. Signalnya 100%.
Aku mema**ki gua itu dengan waspada, namun apa yang kutemukan di dalamnya membuat pedang di tanganku nyaris terjatuh.
Di tengah gua, duduk di atas sebongkah batu yang melayang, terdapat sebuah proyeksi data yang menyerupai monitor besar. Dan di depan monitor itu, duduk seorang pemuda dengan pakaian pelayan pandai besi yang sangat kukenal. Dia sedang memanipulasi barisan kode emas dengan tangannya yang te*******.
"Kak Reno?" bisikku lirih.
Sosok itu menoleh. Wajahnya adalah wajah kakakku, tapi matanya... matanya bersinar dengan warna emas yang murni, memantulkan ribuan baris data yang mengalir deras. Namun, yang membuat napasku tercekat bukan hanya kehadirannya di sana.
Aku menoleh ke belakang, ke arah bodyguard-ku yang masih berdiri di mulut gua. Di sana, 'Kairo' perlahan menarik turun penutup wajahnya.
Wajah di depanku dan wajah pria di mulut gua itu identik.
"Sistem membagi diriku menjadi dua untuk mengelabui pelacakmu, Elara," suara dari sosok di mulut gua terdengar, tapi kali ini tanpa nada serak buatan. Itu adalah suara asli Reno. "Satu untuk tetap berada di sini menjaga kestabilan data, dan satu lagi untuk memastikan adikku tidak terbunuh oleh sistem yang dia puja sendiri."
Aku mundur selangkah, kepalaku pening karena disonansi realitas ini. "Jadi... kaulah 'Virus' itu? Kau yang selama ini mereka buru?"
Reno tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit yang menghancurkan hatiku. "Aku bukan virus, El. Aku adalah satu-satunya hal yang masih nyata di dunia yang palsu ini. Dan sekarang, kau harus memilih: menjalankan perintah sistem untuk menghapusku, atau melihat dunia ini runtuh bersamaku."
Tiba-tiba, notifikasi merah besar muncul di depan mataku, menutupi seluruh pandanganku.
[Peringatan: Target Ditemukan. Eksekusi Protokol 'Era**re'. Player Peringkat 1 Diwajibkan Membunuh Anomali Sekarang Juga. Kegagalan Akan Mengakibatkan Penghapusan Akun Permanen.]
Tanganku yang memegang pedang mulai gemetar hebat saat bilah *Sunspire* mulai bercahaya secara otomatis, dipicu oleh sistem yang memaksa tubuhku untuk menyerang. Kairo—atau Reno yang asli—hanya berdiri diam, menungguku memutuskan takdir kami berdua.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!