Dunia di sekitarku tidak hanya hancur; ia sedang dihapus.
Udara yang biasanya beraroma roti gandum dari kedai kopi di sudut jalan kini berbau ozon yang tajam dan logam terbakar. Langit Aethelgard yang biru cerah tiba-tiba berkedip, berganti menjadi warna magenta pekat yang menyakitkan mata sebelum akhirnya pecah menjadi ribuan fragmen kode heksadesimal.
[PERINGATAN: ANOMALI TERDETEKSI DI SEKTOR 7-B]
[MEMULAI PROSES KARANTINA DATA...]
Kotak peringatan berwarna merah darah muncul tepat di depan mataku, menutupi pandanganku. Aku mengibaskannya dengan kasar, tapi lebih banyak lagi yang muncul. Di bawah kakiku, trotoar batu yang kokoh mulai kehilangan teksturnya. Permukaan batu itu merata menjadi abu-abu tanpa bayangan, lalu perlahan-lahan menjadi transparan.
"Sial," desis ku. Jantungku berdegup kencang, menghantam rusukku seperti palu pandai besi yang biasa kugunakan. "Mereka benar-benar berniat meruntuhkan seluruh distrik ini hanya untuk menangkapku?"
Aku berbalik dan berlari. Di belakangku, suara gemuruh yang bukan berasal dari fisik—melainkan suara statis yang m****akkan telinga—merayap maju. Rumah-rumah kayu, kereta kuda yang terparkir, dan pot-pot bunga milik NPC lain tertelan oleh kekosongan hitam yang berkilauan. Siapa pun yang terjebak di dalam kegelapan itu tidak akan mati; mereka akan *dihapus*. Nama mereka, kenangan mereka, eksistensi mereka akan lenyap dari database server seolah-olah tidak pernah ada.
Aku tidak boleh menjadi salah satu dari mereka. Elara masih di luar sana, menungguku sebagai target utamanya.
"Pindah ke kanan, 0.5 detik!" teriakku pada diriku sendiri.
Aku melompat tepat saat bongkahan tanah di bawahku menghilang. Aku mendarat di atas sebuah peti kayu yang kini melayang di udara karena gravitasi di area ini sudah tidak berfungsi. Mataku menyipit, mengaktifkan status *God-Tier*-ku. Seketika, dunia di depanku berubah menjadi jaring-jaring kawat hijau dan tumpukan angka.
Aku melihatnya: jalur stabil yang tersisa. Hanya selebar tiga puluh sentimeter, meliuk-liuk di antara gedung-gedung yang mulai miring dan runtuh.
"Reno! Berhenti!" sebuah suara menggelegar dari langit, dingin dan tanpa emosi. "Kau hanyalah data yang rusak. Menyerahlah untuk stabilitas sistem."
"Stabilitas?" Aku tertawa getir sambil melompati celah selebar tiga meter. Tanganku mencengkeram pinggiran atap sebuah penginapan yang sudah kehilangan setengah dindingnya. "Kalian yang menciptakan kekacauan ini!"
Aku menarik tubuhku ke atas atap. Di sana, seorang 'Sentinel'—entitas tanpa wajah dengan jubah putih berpendar—muncul dari balik glitch. Ia mengulurkan tangan, dan seberkas cahaya putih melesat ke arahku. Itu bukan sihir. Itu adalah perintah *Delete*.
Aku berguling ke samping, merasakan panas dari cahaya itu membakar ujung jubahku. Tanpa membuang waktu, aku berlari menuju tepi atap. Di depanku adalah jurang kehampaan, namun di kejauhan, sekitar sepuluh meter, ada sebuah menara jam yang masih berdiri tegak, meski dikelilingi oleh percikan api digital.
"Statistik: Kecepatan Gerak... Overdrive," gumamku.
Otot-otot kakiku terasa seperti dialiri listrik. Aku melompat. Udara di sekitarku terasa berat, seperti mencoba menahan pergerakanku. Di tengah udara, aku melihat dunia seolah melambat. Aku melihat partikel-partikel debu yang membeku, dan di bawah sana, aku melihat para Player berlarian panik, mengira ini adalah 'Event' dadakan, tanpa menyadari nyawa mereka benar-benar terancam.
Aku mendarat keras di balkon menara jam. Dentangan loncengnya berbunyi sumbang, frekuensinya berubah-ubah antara rendah dan sangat tinggi hingga telingaku berdenging.
"Sedikit lagi," bisikku, melihat ke arah batas zona karantina yang berpendar biru di kejauhan.
Namun, ruang di depanku tiba-tiba melilit. Geometri menara jam itu terpelintir seperti kain yang diperas. Tangga yang seharusnya menuntunku turun kini mengarah ke langit-langit yang tidak ada. Administrator mengubah topologi ruang. Mereka menjebakku dalam labirin tanpa jalan keluar.
Aku berhenti, mengatur napas yang tersenggal. Di sekelilingku, suara bisikan ribuan kode memenuhi kepala. Pusing luar biasa menghantamku.
"Reno, kau tidak bisa lari dari sistem yang menghidupkanmu," suara Administrator itu kembali terdengar, kali ini lebih dekat.
Aku melihat ke telapak tanganku. Ujung jemariku mulai sedikit transparan, berkedip-kedip antara warna kulit manusia dan kode biner hijau. Penghapusan itu mulai merambat ke tubuhku. Rasa takut yang murni mencekik leherku—ketakutan bahwa sebentar lagi, tidak akan ada lagi Reno. Elara tidak akan punya kakak. Dan dunia ini akan terus berjalan seolah-olah aku tidak pernah bernapas di dalamnya.
"Aku bukan sekadar data," geramku, gigiku bergemeletuk.
Aku memejamkan mata, mencari celah di dalam logika dunia ini. Jika aku adalah virus, maka aku harus bisa melakukan apa yang dilakukan virus: merusak aturan.
Aku melihat sebuah 'jendela' di udara—sebuah bug visual di mana dua tekstur dinding tumpang tindih. Dalam game normal, ini adalah kesalahan grafis yang mengganggu. Bagiku, ini adalah pintu keluar.
Aku berlari menuju dinding yang tampak solid itu.
"Apa yang kau lakukan?!" Sentinel itu muncul lagi, mencoba meraih bahuku dengan tangan cahayanya.
"Aku melakukan *Glitch-Walk*," jawabku tanpa menoleh.
Tepat sebelum tangannya menyentuhku, aku menab**kkan diriku ke sudut dinding yang tumpang tindih itu dengan sudut kemiringan tepat 45 derajat—sebuah trik *clipping* yang biasa digunakan para *speedrunner* untuk menembus batas map.
Rasa sakit yang luar biasa menghantam seluruh keberadaanku. Rasanya seperti tubuhku ditarik melewati lubang jarum. Gelap, terang, panas, dan dingin bercampur menjadi satu.
*Bruk!*
Aku terlempar keluar dan mendarat di atas rumput yang basah oleh embun. Bau tanah yang segar menyambut penciumanku. Aku terengah-engah, memegangi dadaku yang terasa sesak. Aku menoleh ke belakang. Distrik 7-B kini tertutup oleh kubus hitam raksasa yang tidak bisa ditembus. Sunyi. Mati.
Aku selamat, tapi tanganku masih bergetar. Aku melihat ke bawah, ke arah pergelangan tanganku. Di sana, sebuah pesan baru muncul di antarmuka sistemku, namun ini bukan dari Administrator.
[Pesan Terenkripsi Diterima: "Kak, aku tahu itu kau. Jangan lari lagi."]
Darahku mendesir dingin. Pesan itu bukan dari sistem. Itu adalah pesan pribadi dari Player peringkat satu dunia. Elara telah menemukanku. Dan kali ini, dia tidak mengirimkan pesan sebagai seorang adik, melainkan sebagai pemburu yang telah mengunci mangsanya.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!